- Home
-
- Luar Negeri
-
- Krisis Sudan Memuncak! Pem...
Krisis Sudan Memuncak! Pemerintah Serukan Investigasi Internasional atas Aksi Brutal RSF dan Kecam Dunia Internasional yang Bungkam
Selasa, 11 Nov 2025, 17:40 WIBKHATOUM -Â Pemerintah Sudan mengecam sikap diam komunitas internasional atas dugaan pelanggaran berat yang dilakukan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di El-Fasher, Darfur Utara, dan Bara di Kordofan Utara, Senin (10/11).
Kritik itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mohieldin Salem saat bertemu Direktur Jenderal IOM Amy Pope, di tengah krisis kemanusiaan yang terus membesar akibat perebutan wilayah dan gelombang pengungsian baru.
Salem menyesalkan âsikap diam komunitas internasional terhadap pelanggaran yang terus dilakukan oleh RSF di El-Fasher dan Bara.â Ia menegaskan perlunya upaya internasional bersama untuk menetapkan RSF sebagai organisasi teroris.
Menlu Sudan juga menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk memfasilitasi kerja kemanusiaan dan menjamin keselamatan para pekerja kemanusiaan. Ia menyoroti kemitraan yang berkelanjutan antara pemerintah Sudan dan IOM, terutama dalam proyek dukungan bagi kembalinya para migran Sudan secara sukarela.
Sudan tengah menghadapi krisis kemanusiaan yang kian memburuk akibat konflik bersenjata antara militer dan RSF sejak April 2023. Konflik tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi.
Dalam pertemuan itu, Pope menyampaikan solidaritas kepada Sudan atas pengambilalihan El-Fasher oleh RSF baru-baru ini serta pelanggaran berat dan meluas terhadap penduduk sipil, yang memaksa ribuan orang melarikan diri ke daerah Al-Dabba di Negara Bagian Utara dan Tawila di Darfur Utara.
Pope menegaskan kembali komitmen IOM untuk bermitra dengan Sudan dalam menangani kebutuhan kemanusiaan bagi para pengungsi baru di Al-Dabba dan Tawila.
Selama kunjungan tersebut, Pope dijadwalkan bertemu sejumlah pejabat Sudan dan melakukan kunjungan lapangan ke Al-Dabba serta Khartoum untuk meninjau kondisi para pengungsi dari El-Fasher, sekaligus memantau upaya pemerintah dalam rekonstruksi, pembangunan, dan program pemulangan sukarela, menurut laporan SUNA.
Kota Bara di Kordofan Utara juga mengalami gelombang pengungsian besar-besaran setelah RSF merebut kendali wilayah itu pada 25 Oktober sebagai bagian dari perang melawan militer Sudan.
Pihak berwenang dan organisasi kemanusiaan menuduh RSF melakukan pembunuhan dan penyiksaan, tuduhan yang dibantah RSF dengan klaim bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil.
Menurut data IOM, hampir 89.000 orang mengungsi dari El-Fasher dan sekitarnya di Darfur Utara pada bulan lalu.
Pada 26 Oktober, RSF mengambil alih El-Fasher dan melakukan pembantaian, menurut laporan organisasi lokal dan internasional. Serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan memperdalam pembagian geografis di Sudan.
Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal dengan nama Hemedti, mengakui adanya âpelanggaranâ oleh pasukannya di El-Fasher dan mengeklaim telah membentuk komite penyelidikan.
Dari total 18 negara bagian di Sudan, RSF kini menguasai seluruh lima negara bagian di wilayah Darfur bagian barat, kecuali sebagian kecil di utara Darfur Utara yang masih dikuasai militer Sudan.
Sementara itu, tentara Sudan masih memegang kendali atas sebagian besar wilayah di 13 negara bagian lainnya di selatan, utara, timur, dan tengah negara tersebut.
- pembantaian di el-fasher
- rsf
- krisis sudan
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Tembus Rp764 Triliun, BNI Perkuat Struktur Pendanaan lewat Transformasi Digital
-
Kapolresta Sleman Kombes Pol. Edy Setyanto Dinonaktifkan Demi Objektivitas
-
Dibohongi Pupuk Palsu, Jerih Payah Petani Ambyar! Ada yang Main Mata?
-
Real Madrid Siap Hadapi "Tantangan Besar" Lawan PSG di Piala Dunia Antarklub
-
Jalan Putus di Lembah Anai, Guru SMP Negeri 1 Malalak Tidur di Sekolah Agar Tetap Mengajar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.