Ini Faktor Penyebab Kenapa Perundungan Masih Terus Ada
Selasa, 11 Nov 2025, 18:20 WIBJAKARTA, KORAN-JAKARTA.COM -Â Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menyoroti kompleksitas persoalan perundungan atau bullying yang masih marak terjadi di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, perundungan merupakan fenomena multifaktorial yang sulit diberantas sepenuhnya, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.
âFenomena perundungan memang masih sulit dibasmi sepenuhnya di institusi pendidikan di Indonesia maupun di beberapa negara di dunia, karena sifatnya yang kompleks dan multifaktorial,â ujar Kasandra, dikutip dari Antara,  Selasa, (11/11).
Ia menjelaskan, dinamika sosial dan psikologis kerap menjadi faktor pemicu, mulai dari rasa iri, dendam, hingga keinginan untuk mendominasi kelompok sosial di kalangan anak maupun remaja.
âPelaku mungkin meniru perilaku dari rumah atau media, sementara korban sering enggan melapor karena takut dianggap lemah atau dibalas,â katanya.
Kasandra menilai masih banyak pihak yang keliru memahami perundungan. Tidak jarang, guru, siswa, bahkan orang tua menganggap perilaku tersebut sebagai âcandaanâ atau bagian dari masa remaja.
âIni menciptakan budaya di mana perundungan dinormalisasi, terutama jika hanya verbal atau online, bukan fisik,â tutur psikolog yang juga tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) itu.
Selain faktor budaya, Kasandra juga menyoroti minimnya pelatihan dan pengetahuan di lingkungan sekolah untuk mendeteksi maupun menangani kasus perundungan.
Ia menyebut pengawasan di area-area tertentu, seperti toilet, koridor, atau ruang daring, kerap longgar sehingga perundungan mudah terjadi tanpa terpantau.
âTidak tersedianya standar penanganan bullying di sekolah membuat lembaga pendidikan tidak memiliki acuan yang jelas dalam menghadapi kasus,â ujar Kasandra.
Lebih jauh, ia menyebut pengaruh eksternal seperti kekerasan di rumah, tekanan teman sebaya, hingga paparan konten kekerasan di media juga berkontribusi memperburuk perilaku agresif di kalangan pelajar. Kurangnya empati menjadi akar penting yang perlu diperhatikan.
âPelaku sering kali kurang empati karena belum matang secara emosional, sementara korban bisa mengalami trauma seperti stres, depresi, atau bahkan bunuh diri,â ujarnya.
Kasandra menegaskan bahwa penanganan kasus perundungan tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa dengan menyalahkan satu faktor tunggal. Ia mendorong pendekatan multidisipliner yang mencakup konseling, edukasi sekolah, serta pelibatan orang tua dan pihak profesional agar intervensi berjalan efektif.
âTanpa intervensi holistik seperti konseling dan edukasi sekolah, masalah ini berulang,â katanya mengutip penelitian Rigby (2012) dan Ttofi & Farrington (2011).
- Antiperundungan
- Cegah Perundungan
- dampak psikologi
Redaktur: Muhammad Ihsan Karim
Penulis: Muhammad Ihsan Karim
Berita Terkait:
-
Dubes: Imam Bukhari Jadi Simbol Persahabatan Indonesia-Uzbekistan
-
Kabar Baik Guru Honorer! Mendikdasmen Pastikan Bisa Ikut Seleksi CPNS
-
Jangan Sampai Terjerat Pungli! Inspektorat Bogor Beri Edukasi Aparatur Desa
-
Kuota Internet Hangus Jadi Sorotan, Operator Seluler Siapkan Skema Kompensasi.
-
Stabilkan Harga, Bapanas dan Kementerian Pertanian Fasilitasi Distribusi Cabai
-
Menkeu Suahasil Lantik 5 Pejabat Eselon I Kemenkeu
-
Calvin Verdonk Alihkan Fokus Bela Lille Usai Bawa Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.