Gila Energi Hijau? Pemerintah Mau Jiplak Brasil Ganti BBM dengan Bahan Bakar Tebu, Awas Petani Bisa Tergusur!
Rabu, 16 Jul 2025, 07:27 WIBJAKARTA - Pemerintah Indonesia tengah bersiap untuk melangkah ke era energi baru terbarukan (EBT) dengan gebrakan yang cukup mengejutkan, mengubah tebu menjadi bahan bakar!Â
Ya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini melirik potensi besar dari tanaman manis ini untuk dijadikan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM).Â
Langkah ini tak lain terinspirasi dari keberhasilan Brasil yang sudah lama sukses mengganti sebagian besar konsumsi BBM mereka dengan bioetanol berbasis tebu.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan transisi energi tak bisa ditunda lagi. Dalam kunjungan kenegaraan bersama Presiden RI ke Brasil, dia mengaku kagum dengan bagaimana negara Amerika Selatan tersebut mengoptimalkan tebu sebagai sumber utama energi.Â
Bahkan, Brasil kini tak hanya menghasilkan gula dari tebu, tapi juga langsung memprosesnya menjadi bioetanol dan metanol sebagai pengganti bensin.
âKita belajar dari yang sudah berhasil. Brasil itu sudah maju, mereka pakai tebu bukan cuma untuk gula, tapi juga untuk bahan bakar. Kita harus bisa juga,â ujar Bahlil.
Namun, di balik semangat pemerintah, suara dari akar rumput justru berbeda. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen, memberikan catatan penting, jangan terburu-buru.Â
Menurutnya, Indonesia saat ini baru mampu memproduksi bioetanol dari molases atau tetes tebu, limbah dari pengolahan gula. Sedangkan, Brasil sudah lama meninggalkan tahap ini dan langsung memproses tebu menjadi energi.
âKita belum seperti Brasil. Kita masih perlu waktu, teknologi, dan infrastruktur kalau mau langsung pakai tebu jadi bioetanol. Sekarang saja, dari molases saja baru mampu 750 ribu kiloliter per tahun,â ungkap Soemitro.
Jumlah tersebut, lanjutnya, hanya menyumbang sekitar 2 persen dari bauran EBT nasional. Jauh dari target ambisius yang diinginkan pemerintah.Â
Soemitro juga mengingatkan, untuk mencapai target Presiden melalui Peraturan Presiden (Perpres), Indonesia butuh membuka lahan baru seluas 700 ribu hektar hingga 2030. Padahal, saat ini kebutuhan gula untuk konsumsi dan industri saja masih belum terpenuhi.
Rencana pemerintah pun semakin menuai tanda tanya ketika Bahlil menyebut opsi impor bioetanol dari Brasil masih terbuka.Â
âSelalu ada kemungkinan, tergantung situasi dan kebutuhan nasional,â katanya singkat.
Apakah strategi âmencontekâ Brasil ini benar-benar solusi jitu atau justru jebakan yang akan mengorbankan petani dan ketahanan pangan?Â
Rakyat perlu waspada dan kritis, jangan sampai ambisi hijau justru memerah karena salah langkah!
- BBM
- bbm bahan bakar tebu
- bbm tebu
- bbm biodiesel
- bbm baru
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
-
KRL Commuter Tabrak Orang di Dekat Stasiun Tebet, Transjakarta Bantu Angkut Penumpang
-
Jonatan Christie Masih Selamat dari Adangan Pemain Singapura
-
Api Tembus 520 Hektare Hingga Savana, Karhutla Bromo Meluas Drastis
-
Dari Hobi Tulis Diary, Tiga Sutradara Perempuan Ini Sukses Guncang Bioskop Indonesia
-
Menkomdigi Minta Masyarakat Awasi Akurasi Data Digitalisasi Bansos
-
Bocoran GTA 6 Makin Gila dari Cyberleek, Tapi 6 Fitur Penting Ini Malah Masih Misterius
-
Dishub Kota Bogor Jaring Puluhan Angkot di Jalan Kapten Muslihat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.