Presiden: Kepastian Hukum Sebagai Fondasi Utama untuk Menarik Investor

Jumat, 07 Nov 2025, 01:30 WIB

CILEGON - Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia harus menjadi negara yang memegang teguh komitmen dalam menciptakan iklim investasi yang aman, adil, dan bersahabat bagi investor asing maupun domestik.

“Intinya, itu yang ingin saya sampaikan, kita harus dukung investasi asing. Mari kita memberi manfaat bersama,” kata Prabowo saat meresmikan pabrik petrokimia PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten, Kamis (6/11).

Ket. Foto: Presiden RI Prabowo Subianto menekankan bahwa Indonesia harus menjunjung tinggi keadilan, keteraturan, dan ketegasan penegakan hukum. Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi tinggi, kontribusi investasi terhadap PDB perlu ditingkatkan hingga 30 persen. — Sumber: istimewa

Prabowo dalam sambutannya mengatakan kehadiran investasi asing merupakan bentuk kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Investasi besar seperti yang dilakukan Lotte Chemical menjadi bukti bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra yang layak dan memiliki prospek ekonomi yang kuat.

Pemerintah kata Presiden akan memastikan setiap investor yang menanamkan modalnya di Indonesia merasa aman dan dihargai, karena dana investasi yang dibawa ke Indonesia adalah hasil usaha bertahun-tahun sehingga harus dijaga dengan rasa hormat.

“Mereka percaya sama kita di sini. Mereka beri manfaat kepada kita dan kita harus amankan. Tidak boleh ada unsur yang mengganggu. Kita terima dengan hati dan tangan terbuka,” tegas Presiden.

Prabowo juga menyoroti pentingnya kepastian hukum sebagai fondasi utama untuk menarik investor. Presiden menekankan bahwa Indonesia harus menjunjung tinggi keadilan, keteraturan, dan ketegasan penegakan hukum. “Tegakkan hukum. Harus ada rule of law, kepastian hukum. Ini menimbulkan kepercayaan dan trust dari mana saja,” kata Prabowo.

Proyek Lotte Chemical Indonesia New Ethylene (LINE) di Cilegon, Banten, merupakan pabrik naphtha cracker pertama yang dibangun di Indonesia dalam 30 tahun terakhir. Proyek tersebut dibangun dengan nilai investasi mencapai 3,9 miliar dollar AS (sekitar 62,4 triliun rupiah).

Proyek yang masuk daftar proyek strategis nasional itu sejalan dengan visi Astacita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat hilirisasi industri, mengurangi kebergantungan impor, serta meningkatkan daya saing ekspor produk kimia dasar.

Pabrik itu akan menghasilkan beragam produk petrokimia yang menjadi bahan baku utama berbagai industri, seperti otomotif, plastik, elektronik, hingga alat kesehatan.

Pembangunan fasilitas ini dilakukan PT Lotte Chemical Indonesia (LCI), perusahaan yang berdiri pada 2016 dengan kepemilikan mayoritas oleh Lotte Chemical Corp.

Proyek LINE melewati sejumlah tahapan penting, mulai dari akuisisi lahan pada 2016, peletakan batu pertama pada 2018, penandatanganan MoU dengan pemerintah pada 2022, hingga penyelesaian konstruksi utama pada Maret 2025 dan operasi komersial yang ditargetkan pada Oktober 2025.

LCI diproyeksikan memiliki potensi pendapatan hingga 2 miliar dollar AS per tahun, melayani 70 persen pasar domestik, dan sisanya untuk kebutuhan ekspor.

Secara ekonomi, proyek tersebut berdampak signifikan melalui substitusi impor senilai 1,4 miliar dollar AS per tahun dan potensi ekspor sekitar 600 juta dollar AS per tahun.

Selama masa konstruksi dan operasional, proyek ini menyerap sekitar 40.000 tenaga kerja langsung dan tidak langsung, serta mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal.

Belum Efisien

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, mengatakan investasi langsung berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini sekitar 24-25 persen, masih di bawah konsumsi yang sekitar 54 persen. Walaupun demikian, peranan investasi langsung sangat penting karena mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga berperan dalam meningkatkan konsumsi dan pajak. “Artinya peningkatan investasi akan menimbulkan dampak positif ke segala hal,”ungkapnya.

Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kontribusi investasi terhadap PDB perlu ditingkatkan hingga 30 persen. PMA juga harus mampu menyerap tenaga kerja domestik yang signifikan dibandingkan tenaga kerja asing. Oleh karena itu tenaga kerja domestik harus meningkatkan kapasitasnya agar mampu bekerja dari level bawah sampai dengan atas.

Walaupun PMA saat ini dibutuhkan, namun dalam jangka panjang tidak boleh menciptakan ketergantungan ekonomi. “Dalam jangka panjang kemandirian ekonomi harus diperkuat,” tutup Suhartoko.

PMA katanya harus mempunyai keterkaitan ke depan (forward linkage) sebagai penghasil input bagi industri lain, maupun keterkaitan ke belakang (backward linkage) sebagai pengguna input bagi industri lain.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah efisiensi dari investasi. Saat ini Incremental Capital Output Ratio (ICOR) tinggi yaitu berada di angka 6,4 artinya investasi tidak efisien. “ICOR perlu diturunkan di bawah 6,”tegasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.