Rayonisasi Harga Beras: Solusi Stabilitas atau Sumber Ketimpangan?

Selasa, 04 Nov 2025, 00:00 WIB

Penerapan harga beras yang berbeda antarwilayah dengan kualitas sama, menunjukkan adanya diskriminasi terhadap kebutuhan pokok masyarakat.

JAKARTA – Wacana rayonisasi harga beras menuai penolakan dari DPR RI yang menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan ketimpangan harga antardaerah. Skema ini dianggap berisiko menciptakan diskriminasi harga karena wilayah dengan biaya logistik tinggi dapat menghadapi harga lebih mahal dibanding daerah lain.

Ket. Foto: Kebutuhan Pokok - Kenaikan Harga Beras Picu Ketegangan Ekonomi hingga Krisis Multidimensi — Sumber: antara

Dari sisi ekonomi, kebijakan rayonisasi dinilai tidak efisien secara pasar. Pasalnya, kebijakan tersebut dapat menghambat distribusi beras dan mengurangi insentif pelaku usaha dalam menjaga stabilitas pasokan nasional.

Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menilai rencana tersebut bertentangan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin ketersediaan pangan secara merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Penerapan harga beras yang berbeda antarwilayah dengan kualitas sama, menunjukkan adanya diskriminasi terhadap kebutuhan pokok masyarakat.

“Kebijakan rayonisasi harga beras ini tidak adil. Masyarakat di wilayah berbeda membeli beras dengan kualitas sama tetapi harga berbeda. Ini bertentangan dengan semangat konstitusi bahwa pangan harus tersedia oleh negara tanpa diskriminasi harga,” ujar Firman Soebagyo di Jakarta, Senin (3/11).

Politisi Fraksi Partai Golkar itu juga mempertanyakan konsistensi pemerintah mengatur kebijakan subsidi dan harga komoditas strategis. Menurutnya, jika bahan bakar minyak (BBM), solar, maupun pupuk bisa disubsidi secara merata di seluruh wilayah tanpa perbedaan harga, maka pemerintah jangan membiarkan harga beras berbeda-beda antardaerah.

“Kalau bensin, solar, dan pupuk bisa disubsidi dan harganya sama di seluruh Indonesia, mengapa beras yang merupakan kebutuhan pokok justru tidak mendapat perlakuan yang sama? Di sinilah letak ketidakadilan kebijakan yang harus dievaluasi pemerintah,” tegasnya.

Firman mengingatkan pangan menjadi komponen strategis yang berkaitan langsung dengan stabilitas sosial dan politik nasional. Kenaikan harga beras dapat memicu ketegangan ekonomi hingga krisis multidimensi yang berdampak terhadap stabilitas pemerintahan.

Lebih jauh, Firman mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh terhadap efektivitas kebijakan rayonisasi harga beras. Dia menilai pendekatan tersebut tidak hanya gagal memenuhi rasa keadilan, melainkan juga berpotensi memperlebar kesenjangan antarwilayah.

“Lalu pertanyaannya sekarang, apakah sistem ini benar-benar efektif dan tepat dalam menjaga stabilitas harga pangan. Jika hasilnya justru membuat rakyat di satu daerah membeli beras lebih mahal dari daerah lain, maka jelas kebijakan ini tidak memenuhi prinsip keadilan yang dijamin konstitusi,” jelasnya.

Dibahas Antarinstansi

Sebelumnya, pemerintah tengah mengaji skema harga beras nasional yang disesuaikan dengan zonasi wilayah Indonesia. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan opsi ini masih dalam pembahasan dan belum diputuskan secara resmi.

Menurut dia, penentuan harga beras berdasarkan zonasi akan dikaji lebih lanjut dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) antarkementerian dan lembaga bidang pangan dan keputusan final belum diambil. “Nanti masih dikaji. Kita baru rakortas satu kali membahas harga beras. Kita akan rakor lagi,” kata Amran beberapa waktu lalu.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.