SMK 10 Samarinda Mampu Ciptakan Mobil Listrik. Tak Perlu Sesumbar Dulu, agar Tak Mengulang Kasus Mobil Esemka
Rabu, 29 Okt 2025, 13:59 WIBSAMARINDA â Kegagalan proyek mobil Esemka harus menjadi pelajaran SMK Negeri 10 Samarinda, Kaltim yang katanya mampu menciptakan mobil listrik. Dalami dulu secara matang agar benar-benar dapat dikembangkan. Jangan teriak-teriak dulu tapi ternyata gagal, seperti mobil Esemka.
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 10 Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), mengembangkan inovasi siswa sehingga berhasil menghasilkan prototipe mobil listrik. +++"Ranah di pendidikan itu bukan hanya sekadar edukasi saja, tapi juga pelayanan publik, dan yang penting itu adalah inovasi," kata Kepala SMKN 10 Samarinda Maryono di Samarinda, Rabu.
Maryono menjelaskan inisiatif pengembangan mobil listrik ini dimulai sekitar Oktober 2023 dan tidak lama setelah ia menjabat sebagai kepala sekolah. Maryono yang memiliki latar belakang sebagai guru otomotif merasa perlu mendorong inovasi nyata di lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah vokasi tidak boleh hanya berhenti pada konsep Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) tanpa menghasilkan produk konkret.
Oleh karena itu ia merealokasi sumber daya sekolah agar dapat mendukung program inovasi tersebut. Proyek mobil listrik ini, kata dia, merupakan hasil kolaborasi lintas jurusan, utamanya Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Bodi Otomotif (TBO), dan Teknik Komputer Jaringan (TKJ).
Maryono menegaskan prototipe yang ada saat ini murni hasil mandiri internal sekolah tanpa bantuan dari mitra industri. "Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah sektor baterai yang masih menggunakan aki kering berkapasitas 50 ampere, sehingga perlu pengembangan lebih lanjut," jelas Maryono.
Pihak sekolah menargetkan pengembangan selanjutnya adalah menggunakan baterai berstandar industri, seperti litium dengan kapasitas 300 hingga 400 ampere. "Peningkatan kapasitas baterai bertujuan memperjauh jarak tempuh, sebelum beralih ke pengembangan kecepatan motor listrik," kata Maryono.
Ia mengakui pengembangan inovasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara anggaran sekolah dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sangat terbatas. Diakuinya, prioritas utama anggaran tetap harus dialokasikan untuk fungsi edukasi siswa sebagai tugas pokok sekolah. Kendala lain adalah belum adanya pemisahan area kerja yang jelas di dalam bengkel sekolah.
Saat ini satu lokasi yang sama masih digunakan untuk tiga fungsi sekaligus, yakni edukasi siswa, teaching factory (layanan servis publik), dan ruang inovasi. Maryono berharap ke depan ada kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk industri melalui program CSR, untuk mendukung pengembangan produk otomotif sekolah agar bisa dipatenkan.
- Kota Samarinda
- Pelajar SMK
- Insentif mobil listrik
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
El Mencho Tewas, Meksiko Berstatus Siaga Tempur di 18 Wilayah
-
Juventus Janji Beri Respons Cepat ke Sassuolo
-
Kesiapan talenta vokasi SMK Aceh menghadapi dunia kerja
-
Resmi Gabung Nexus, BI Percepat Integrasi Pembayaran Global
-
KPK Duga Bupati Ponorogo Terima Suap Selain Dari Tiga Klaster
-
Enak Banget! Selain Bebas Ganjil Genap, Pengguna Kendaraan Listrik di DKI Juga Bebas Pajak PKB dan BBNKB
-
Ekspor Fesyen dan Kriya RI Tembus Rp476,3 Triliun pada 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.