• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Jelang Hari Stroke Sedunia...

Jelang Hari Stroke Sedunia, Kenali 6 Faktor Risiko Utama yang Meningkatkan Risiko Stroke

Selasa, 28 Okt 2025, 14:50 WIB

Stroke dapat menyerang secara tiba-tiba, tetapi jarang terjadi tanpa peringatan. Dalam rangka memperingati Hari Stroke Sedunia 2025yang jatuh pada tanggal 29 Oktober, para dokter mengimbau masyarakat untuk mengenali dan mengelola faktor risiko yang dapat dimodifikasi yang menyumbang hampir 90% kasus stroke di dunia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan kedua terbanyak di dunia, terutama di kalangan dewasa muda. Faktor-faktor yang berkaitan dengan gaya hidup seperti hipertensi, merokok, diabetes, dan kurangnya aktivitas fisik telah menjadi kontributor utama krisis yang terus berkembang ini.

Ket. Foto: Pemeriksaan kesehatan rutin, saran medis yang tepat waktu, dan perubahan gaya hidup sehari-hari dapat menyelamatkan jiwa dari serangan stroke. — Sumber: stroke.org

Stroke adalah penyakit yang menyerang arteri yang menuju dan di dalam otak. Penyakit ini terjadi ketika pembuluh darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak tersumbat oleh gumpalan darah atau pecah. Ketika itu terjadi, sebagian otak tidak mendapatkan darah (dan oksigen) yang dibutuhkannya, sehingga otak dan sel-sel otaknya mati.

"Stroke keadaan darurat medis yang membutuhkan perhatian segera, tetapi pencegahannya dimulai jauh lebih awal," kata Dr. Rajnish Kumar, seorang ahli Neurologi di India ."Sebagian besar faktor risiko utama stroke dapat dimodifikasi, artinya dapat dikelola atau dikendalikan melalui gaya hidup sehat dan intervensi medis yang tepat waktu."

Berikut enam faktor risiko utama yang secara signifikan meningkatkan risiko Anda terkena stroke, dan apa yang dikatakan sains tentang pengurangan risiko Anda, seperti ditulis NDTV.

1. Hipertensi

Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terpenting untuk stroke. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko stroke hingga empat kali lipat. Seiring waktu, tekanan darah tinggi merusak dan melemahkan dinding arteri, sehingga rentan pecah (menyebabkan stroke hemoragik) atau tersumbat oleh plak (menyebabkan stroke iskemik).

2. Merokok

Nikotin meningkatkan tekanan darah, sementara karbon monoksida mengurangi kapasitas darah dalam membawa oksigen. Baik merokok maupun paparan asap rokok orang lain hampir menggandakan risiko stroke iskemik dan meningkatkan risiko stroke hemoragik.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), perokok memiliki risiko stroke dua hingga empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. Bahkan paparan asap rokok secara pasif pun meningkatkan kemungkinan pembentukan gumpalan darah.

3. Penyakit Jantung

Berbagai kondisi jantung, terutama fibrilasi atrium (AFib), dapat menyebabkan gumpalan darah yang mengalir ke otak. "Fibrilasi atrium menyebabkan darah mengumpul di ruang atas jantung, membentuk gumpalan yang nantinya dapat mengalir ke otak," jelas Dr. Kumar. "Gagal jantung dan penyakit katup juga secara signifikan meningkatkan risiko stroke."

Penelitian dari American Heart Association (AHA) menunjukkan bahwa penderita AFib lima kali lebih mungkin mengalami stroke.

4. Diabetes

Diabetes merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk di otak. Gula darah tinggi menyebabkan penumpukan lemak dan gumpalan darah di dalam arteri. Banyak penderita diabetes juga memiliki faktor risiko lain, seperti hipertensi, obesitas, dan kolesterol tinggi, yang memperparah risiko stroke mereka.

Studi tahun 2023 yang dimuat dalam Journal of Stroke menemukan bahwa pasien diabetes memiliki risiko stroke iskemik 1,8 kali lebih tinggi dibandingkan non-diabetes.

5. Kolesterol Tinggi

Kadar LDL atau kolesterol "jahat" yang tinggi berkontribusi terhadap aterosklerosis, suatu kondisi di mana plak menumpuk di dalam arteri. Jika plak ini pecah, aliran darah ke otak dapat terhambat. Mengelola kolesterol melalui pola makan, pengobatan, dan pemantauan rutin sangatlah penting. Hal ini membantu mencegah penumpukan lemak yang dapat menyebabkan stroke.

National Institutes of Health (NIH) melaporkan bahwa menurunkan kolesterol LDL sebesar 1 mmol/L dapat mengurangi risiko stroke iskemik lebih dari 20%.

6. Obesitas dan Kurang Aktivitas

Kelebihan berat badan meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan diabetes, semuanya merupakan risiko stroke utama. Bahkan terlepas dari berat badan, gaya hidup yang kurang gerak dikaitkan dengan risiko stroke yang lebih tinggi.

Menurut Harvard TH Chan School of Public Health,oOlahraga teratur, seperti jalan cepat selama 30 menit hampir setiap hari, dapat mengurangi kejadian stroke hingga 25%.

Pencegahan stroke dimulai dengan kesadaran dan tindakan. "Jaga tekanan darah, gula darah, dan kolesterol Anda tetap terkendali. Berhenti merokok, tetap aktif, dan pertahankan berat badan yang sehat. Ini adalah cara paling sederhana namun paling ampuh untuk mengurangi risiko stroke," kata Dr. Kumar

Pada Hari Stroke Sedunia 2025, ingatlah pesan global kampanye ini: “Bersama Kita Bisa Mengatasi Stroke”. Pemeriksaan kesehatan rutin, saran medis yang tepat waktu, dan perubahan gaya hidup sehari-hari dapat menyelamatkan jiwa.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.