Pemerintah Dorong Akses Listrik Merata Hingga Wilayah 3T
Senin, 27 Okt 2025, 01:00 WIBJakarta â Pemerintah harus terus mempercepat pemerataan akses listrik ke seluruh wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan energi nasional. Melalui berbagai program elektrifikasi, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), pemerintah menargetkan seluruh masyarakat dapat menikmati layanan listrik yang andal dan terjangkau.
Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) mengatakan capaian rasio elektrifikasi nasional sebesar 99,83 persen menjadi komitmen pemerintah dalam memperluas akses energi hingga ke pelosok negeri.
"Angka tersebut menunjukkan hampir seluruh rakyat Indonesia telah menikmati listrik, termasuk di daerah 3T seperti Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan perbatasan Kalimantan,â ujar Direktur Eksekutif Puskep UI Ali Ahmudi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/10).
Seperti dikutip dari Antara, menurut Ali, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan berbagai skema teknologi terbaru ketenagalistrikan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid, serta sistem microgrid di pulau-pulau kecil yang belum terhubung dengan jaringan listrik utama.
"Langkah tersebut merupakan kemajuan penting yang perlu terus dikembangkan agar hasilnya lebih optimal," katanya.
Ali menjelaskan, keberhasilan elektrifikasi di wilayah 3T menjadi tonggak penting dalam mewujudkan keadilan energi, karena akses listrik memungkinkan peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan ekonomi di daerah yang sebelumnya tertinggal.
Lebih jauh, Ali menegaskan, pemerataan listrik di seluruh wilayah juga memperkuat ketahanan energi nasional dengan mengurangi ketimpangan antarwilayah, mendorong produktivitas lokal, serta memperluas basis pengguna energi domestik.
Selain meningkatkan akses, pemerintah juga harus menekankan pentingnya keberlanjutan energi. Program elektrifikasi ke depan diarahkan tidak hanya untuk menghadirkan listrik bagi semua warga, tetapi juga untuk mendorong produktivitas ekonomi lokal, mengurangi ketimpangan wilayah, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Energi Terbarukan
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa rasio elektrifikasi nasional saat ini telah mencapai 99,1 persen.
Wilayah yang belum terjangkau listrik merupakan daerah dengan kondisi geografis menantang, seperti pulau-pulau kecil dan kawasan pedalaman.
"Untuk menjangkau wilayah tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan," ujarnya, di Jakarta, Rabu (22/10).
Pemerintah juga sudah meresmikan puluhan pembangkit energi terbarukan, mempercepat proyek PLTS berkapasitas 100 gigawatt, dan melibatkan koperasi desa dalam transisi energi.
Bahlil menegaskan pemerintah berkomitmen mempercepat capaian elektrifikasi hingga 100 persen.
Menurut dia, upaya yang dilakukan pemerintah di antaranya melalui program listrik desa (lisdes) dan bantuan pasang baru listrik (BPBL) sebagai wujud komitmen negara dalam pemerataan energi.
Program lisdes telah menjangkau 10.068 lokasi dan memberi manfaat bagi lebih dari 1,2 juta pelanggan baru.
Adapun realisasi BPBL periode 2024 telah diterima 155.429 rumah tangga, dan hingga September 2025 sebanyak 135.482 rumah tangga telah terpasang dari target 215.000 rumah hingga akhir tahun.
Masyarakat di berbagai daerah telah merasakan manfaat program ini. Salah satunya Ruslam, warga Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
"Alhamdulillah, sekarang rumah kami terang, tanpa harus mikir beli bensin tiap malam. Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, dan saya bisa istirahat dengan tenang," ucapnya.
Sementara itu, di wilayah timur Indonesia, warga Kampung Iraiweri, Distrik Anggi, Pegunungan Arfak, Papua Barat, kini menikmati listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Anggi.
"Semua rumah itu harus dapat listrik, supaya untuk kami punya anak-anak kami itu bisa belajar, mamak-mamak bisa masak dengan (penerangan) lampu. Saat saya lahir di sini, kami belum ada lampu. Kami bikin api. Kami baca, belajar, itu pasang, bikin gelegar untuk jadi pelita," tutur Elias Inyomusi, warga Anggi.
Pemerintah menargetkan seluruh wilayah Indonesia akan menikmati listrik sepenuhnya pada 2030.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Dewan Pers: AI Wajib Bayar Royalti Kutip Karya Jurnalistik
-
Seru, Parade Sewu Kupat di Kudus
-
Pemkot Jayapura Minta Distributor dan Pengusaha Jaga Stabilitas Harga Barang
-
Cuaca Ekstrem Hantam Bekasi, 27 Rumah Rusak Diterjang Puting Beliung
-
Omzet Tembus Rp10 Juta per Hari, Pedagang Ikan 'Serbu' Pantai Konang Trenggalek
-
Duolingo Gandeng Niki Ubah Lirik Lagu 'Backburner' Jadi Cara Seru Belajar Bahasa Inggris
-
Karimun Tak Mau Ketinggalan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.