- Home
-
- Luar Negeri
-
- Badan Cuaca PBB Desak Nega...
Badan Cuaca PBB Desak Negara Berkembang Siaga Bencana
Rabu, 22 Okt 2025, 01:00 WIBJENEWA â Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) pada Senin (20/10), mendesak tindakan segera untuk menutup kesenjangan dalam sistem pengawasan global yang bertujuan melindungi masyarakat dari cuaca ekstrem. Badan cuaca PBB itu menegaskan bahwa sistem peringatan dini sangat dibutuhkan, terutama di negara-negara berkembang.
Dalam pertemuan khusus di Jenewa, WMO mengungkapkan bahwa selama lima dekade terakhir, bencana terkait cuaca, air, dan iklim telah menewaskan lebih dari 2 juta orang, dengan 90 persen di antaranya terjadi di negara-negara berkembang.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menjadikan peningkatan sistem peringatan dini sebagai prioritas utama. Namun, hingga kini baru sekitar 55 persen negara yang memiliki kapasitas pengawasan memadai, menurut data lembaga tersebut.
âJutaan orang masih belum memiliki perlindungan terhadap cuaca berbahaya yang semakin mengancam aset ekonomi dan infrastruktur penting,â kata WMO dalam pernyataannya.
Jumlah negara yang menggunakan sistem peringatan dini meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir menjadi 119. Meski demikian, hasil penilaian terhadap 62 negara menunjukkan bahwa separuh di antaranya baru memiliki kapasitas dasar, sementara 16 persen masih di bawah kapasitas dasar.
WMO mencatat adanya kemajuan di Afrika, termasuk di Mozambik dan Ethiopia, di mana semakin banyak negara telah memiliki situs web fungsional dan mampu mengeluarkan peringatan standar.
âPeringatan dini berarti tindakan dini. Tujuan kami bukan hanya memperingatkan dunia, tetapi juga memberdayakannya,â ujar Saulo dalam pidato pembukaan konferensi di Jenewa.
Menurut WMO, tingkat kematian akibat bencana enam kali lebih tinggi dan jumlah korban terdampak empat kali lebih besar di negara-negara yang memiliki sistem peringatan dini multi-bahaya terbatas.
Kepala Departemen Dalam Negeri Federal Swiss, Elisabeth Baume-Schneider, mengatakan kepada para delegasi konferensi bahwa tidak ada negara atau wilayah yang kebal terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Ia mencontohkan bagaimana pemantauan rutin terhadap gletser pegunungan memungkinkan ilmuwan memperingatkan tentang potensi keruntuhan gletser pada Mei 2025, sehingga memungkinkan evakuasi tepat waktu di Desa Blatten, Swiss.
Peringatan Dini
Dalam laporan terbarunya, WMO menyebut masih terdapat lebih dari 100 negara yang belum memiliki sistem peringatan dini bencana yang memadai. Kondisi ini membuat jutaan masyarakat rentan terhadap bencana alam seperti badai, banjir, kekeringan, dan gelombang panas yang frekuensinya terus meningkat akibat pemanasan global.
PBB sebelumnya menargetkan agar seluruh penduduk dunia dapat terlindungi oleh sistemperingatan dini pada tahun 2027, sejalan dengan inisiatif global Early Warnings for All.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Potensi Hujan disertai Petir dan Angin Kencang di Wilayah Sumut
-
Pemerintah Kabupaten Batang Minta Satuan Pendidikan Bersih dari Kekerasan Seksual
-
KPK Tetapkan Bupati Muara Enim Edison sebagai Tersangka Kasus Dugaan Suap
-
Antisipasi Wabah Ebola, Kemenkes Perketat Pengawasan di Bandara Soetta
-
Hotel Borobudur dan Artha Graha Peduli Salurkan Kurban Sapi dan Kambing di Jakarta Pusat
-
Cuaca Ekstrem, Badai Menerjang Tiongkok Tengah, 15 Orang Tewas Puluhan Ribu Dievakuasi
-
Rupiah Tertekan, BI Naikkan Suku Bunga ke 5,5 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.