- Home
-
- Luar Negeri
-
- Wabah Ebola di RD Kongo Me...
Wabah Ebola di RD Kongo Menyebar ke 7 Provinsi, Jumlah Kasus Lampaui 7.000
Minggu, 13 Sep 2026, 10:30 WIBKINSHASA - Lebih dari 7.000 kasus Ebola telah tercatat di Republik Demokratik Kongo dalam wabah penyakit mematikan terburuk yang pernah terjadi, menurut angka yang dirilis otoritas Kongo pada hari Sabtu (12/9).
Pemerintah juga mengisyaratkan penyebaran penyakit Ebola mungkin telah mencapai puncaknya, meskipun virus tersebut telah dikonfirmasi di provinsi ketujuh pada awal pekan ini.
Republik Demokratik Kongo secara resmi mendeteksi wabah terbaru pada pertengahan Mei, hampir 3.400 orang tewas dalam epidemi ke-17 virus yang sangat menular ini.
Fenomena ini bermula di provinsi Ituri bagian timur laut sebelum menyebar ke wilayah timur dan utara yang terpencil dan dilanda konflik, di mana kelompok-kelompok bersenjata berkeliaran selama beberapa dekade, kehadiran negara lemah, dan infrastruktur kesehatan kurang memadai.
Awal pekan ini, penyakit tersebut dikonfirmasi di Ubangi Selatan, yang berbatasan dengan Republik Afrika Tengah dan Kongo-Brazzaville.Â
Menurut angka terbaru dari pihak berwenang Kongo, 7.022 kasus telah tercatat sejak awal epidemi. Dari jumlah tersebut, 3.398 orang meninggal dan 1.671 orang telah pulih.
"Puncaknya tercapai pada awal minggu ketiga bulan Agustus," tulis juru bicara pemerintah Kongo, Patrick Muyaya, di X pada hari Sabtu.
"Semua indikator menunjukkan penurunan jumlah kasus," tambahnya. "10 dari 61 zona kesehatan" yang terdampak epidemi tidak mencatat kasus baru "setidaknya selama 21 hari".
Sebagian besar kasus yang tercatat berada di Ituri, tempat Ebola terdeteksi di sekolah-sekolah beberapa hari setelah kembalinya siswa ke kelas pasca liburan musim panas, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan petugas kesehatan.
"Kami sangat khawatir karena kami tidak tahu anak mana yang berasal dari keluarga mana atau bagaimana status kesehatan anggota keluarga tersebut," kata Angele Magani, ibu dari seorang siswa di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, kepada AFP.
"Kami sangat takut, meskipun pihak sekolah meyakinkan kami tentang langkah-langkah kesehatan yang telah diterapkan," tambahnya.
Pejabat sekolah Bunia, Roger Mungimbo, mengatakan, "ada sistem cuci tangan wajib dengan sabun, dan kami juga telah melakukan segala upaya untuk membatasi jumlah siswa per kelas maksimal 30 orang."
"Kami secara rutin mengingatkan anak-anak bahwa mereka tidak boleh saling menyentuh dan harus rutin mencuci tangan," tambahnya.
Ebola, yang telah menewaskan lebih dari 15.000 orang di Afrika selama 50 tahun terakhir, ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh dan dapat menyebabkan pendarahan internal dan eksternal yang parah serta kegagalan organ.
Epidemi saat ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, yang hingga kini belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui. Beberapa pengobatan dan vaksin sedang diuji.
- wabah ebola
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Bengawan Jero Jadi Tumpuan, Distribusi Air Pertanian Diperketat
-
KAI Bangun 8 Tower Rusun MBR di Manggarai, Harga dan Skema Kredit Jadi Sorotan
-
Unik! Satwa-satwa di Kebun Binatang Ragunan Ikut Lomba 17 Agustusan
-
Wabah Ebola di RD Kongo telah Melampaui 3.000 Kasus
-
Ekspansi Kebun dan Riset Benih Unggul Jadi Kunci Pertumbuhan Industri Sawit
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.