Sanae Takaichi, Wanita Besi 2.0 dari Jepang, Pengagum Berat Margaret Thatcher

Selasa, 21 Okt 2025, 13:57 WIB

TOKYO - Sanae Takaichi, seorang konservatif setia yang mengagumi Margaret Thatcher, terpilih menjadi perdana menteri wanita pertama Jepang pada hari Selasa (21/10), namun para analis mengatakan kebangkitannya tidak serta merta menandakan kemenangan feminis.

Sebaliknya, wanita berusia 64 tahun, yang memenangkan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa bulan ini, telah memposisikan dirinya sebagai garis keras yang berfokus pada pertahanan dan keamanan ekonomi.

Ket. Foto: Sanae Takaichi, pemimpin partai berkuasa Jepang yang baru terpilih, Partai LDP, menghadiri konferensi pers setelah pemilihan presiden LDP di Tokyo, 4 Oktober 2025 — Sumber: Politico

Setelah mencapai kesepakatan koalisi pada menit-menit terakhir, Takaichi ditunjuk oleh parlemen pada hari Selasa sebagai kepala pemerintahan wanita pertama negara itu dan pemimpin kelima Jepang dalam beberapa tahun terakhir.

Para pemilih banyak meninggalkan LDP yang telah lama dominan karena inflasi dan skandal dana gelap baru-baru ini, sementara partai anti-imigrasi Sanseito telah mendapatkan dukungan.

Dalam upaya menarik mereka kembali, Takaichi telah mengambil sikap tegas terhadap imigrasi dan turis asing -- keduanya muncul sebagai isu utama dalam kampanye pemilihan pemimpin LDP.

Takaichi seorang mantan menteri keamanan ekonomi, sebelumnya merupakan kritikus vokal terhadap Tiongkok dan pengembangan militernya di Asia-Pasifik.

Dia mendukung Taiwan. Saat berkunjung pada bulan April ia mengatakan "sangat penting" untuk memperkuat kerja sama keamanan antara Taipei dan Tokyo.

Dia juga merupakan pengunjung rutin Kuil Yasukuni, yang menghormati para penjahat perang terpidana bersama dengan 2,5 juta korban perang dan dipandang oleh negara-negara Asia sebagai simbol masa lalu militeristik Jepang. 

Akan tetapi, ia telah mengurangi retorikanya terhadap Tiongkok dan minggu lalu menjauh dari festival di kuil tersebut.

Wanita Besi 2.0

Di masa mudanya, Takaichi adalah seorang drummer di band heavy metal kampus, Takaichi Ia memandang mendiang Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher sebagai idola politiknya.

Meskipun pemilihannya merupakan "sebuah langkah maju bagi partisipasi perempuan dalam politik", ia menunjukkan sedikit kecenderungan untuk melawan norma-norma patriarki, kata Sadafumi Kawato, profesor emeritus Universitas Tokyo, kepada AFP sebelum pemungutan suara parlemen.

Pandangan Takaichi tentang gender menempatkannya di sisi kanan LDP yang sudah konservatif, dan dia menentang revisi undang-undang abad ke-19 yang mengharuskan pasangan menikah untuk memiliki nama keluarga yang sama, sebuah aturan yang secara mayoritas mengharuskan perempuan mengambil nama keluarga suami mereka.

Takaichi telah menikah dua kali dengan pria yang sama, seorang mantan anggota parlemen. Pada pernikahan pertamanya, ia menggunakan nama pria itu. Pada pernikahan kedua, pria itu menggunakan nama Takaichi.

Masalah itu "mungkin tidak akan terselesaikan selama masa jabatannya", kata Kawato kepada AFP.

Namun, dalam pidato kampanyenya, ia berjanji akan meningkatkan keseimbangan gender di kabinetnya ke level "Nordik".

Jepang menduduki peringkat 118 dari 148 dalam Laporan Kesenjangan Gender 2025 Forum Ekonomi Dunia terutama karena kurangnya representasi perempuan dalam pemerintahan, sementara Islandia, Finlandia, dan Norwegia menduduki tiga tempat teratas.

Takaichi menikmati dukungan penuh semangat di sayap konservatif LDP dan di antara sesama pengikut mendiang mantan perdana menteri Shinzo Abe.

Ia mendukung pelonggaran moneter yang agresif dan pengeluaran fiskal yang besar, menggemakan kebijakan "Abenomics" mentor politiknya, yang jika diterapkan lagi, dapat mengguncang pasar.

Ia juga menyuarakan keprihatinannya yang kuat terhadap kejahatan dan pengaruh ekonomi orang asing di Jepang, menyerukan aturan yang lebih ketat, sebuah langkah yang menurut para analis merupakan upaya untuk mendapatkan kembali pemilih yang meninggalkan LDP ke partai nasionalis baru dengan pesan anti-imigrasi.

Mengenai tarif, Takaichi mengatakan bulan ini bahwa ia tidak akan malu untuk mendorong negosiasi ulang dengan Amerika Serikat jika kesepakatan itu dilaksanakan dengan cara yang dianggap merugikan atau tidak adil bagi Jepang.

  • PM Jepang Sanae Takaichi

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Turun Langsung Padamkan Karhutla di Kalsel

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.