Menteri Lingkungan Hidup: Jakarta dan Bandung Belum Siap Jalankan Proyek Sampah Jadi Energi
Kamis, 16 Okt 2025, 15:50 WIBJAKARTA - Wilayah Jakarta dan Bandung Raya belum direkomendasikan untuk pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Hal itu disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat ditemui di Jakarta, Rabu (15/10).
Hanif menilai kedua kota tersebut belum siap karena keterbatasan lahan dan ketersediaan air untuk operasional. Ia menyebut, saat ini hanya tujuh daerah yang siap dalam perencanaan proyek PSEL.
âYang siap ada tujuh daerah. Yang belum siap, dan ini sangat saya sayangkan, adalah kota Jakarta yang volume sampahnya mencapai 8.000 ton per hari,â kata Hanif kepada wartawan.
Menurut dia, meski memiliki timbulan sampah besar, Jakarta dan Bandung belum memenuhi persyaratan teknis untuk pembangunan PSEL. Untuk itu, ia meminta Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, segera mencari solusi.
Hal ini dilakukan agar masalah sampah tidak terus menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA). Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLH mencatat, pada 2023 timbulan sampah di Jakarta mencapai 8.600 ton per hari.
Sedangkan, di Jawa Barat, total mencapai 22.019 ton per hari. Terdiri atas Kota Bandung 1.609 ton, Kabupaten Bandung 1.301 ton, dan Kabupaten Bandung Barat 742 ton.
Hanif menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur dan sosial harus diperhatikan sebelum proyek PSEL dimulai.
âKami ingin proyek ini tidak mangkrak. Semua harus disiapkan, yakni tanah, akses, air, jaringan listrik, hingga penerimaan masyarakat,â ujar dia.
Sebelumnya, Hanif telah menyerahkan laporan tujuh wilayah yang direkomendasikan untuk PSEL kepada CEO Badan Pengelola Investasi Danantara, Rosan Perkasa Roeslani. Wilayah tersebut meliputi Yogyakarta Raya, Denpasar Raya, Bogor Raya, Bekasi Raya, Tangerang Raya, Medan Raya, dan Semarang Raya.
Di sisi lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung menyebut volume sampah di Ibu Kota saat ini mencapai 8.000 ton per hari. Dengan ketersediaan sampah sebanyak 55 juta ton itu, Jakarta dinilai mampu menjalankan beberapa proyek PLTSa sekaligus.
Gubernur Pramono pun menyebut satu PLTSa akan menghasilkan kurang lebih 35 megawatt. Ia juga mengatakan minat investor dan operator internasional terhadap proyek ini cukup tinggi.
"Untuk hal yang berkaitan dengan PLTSa, kami sudah berkali-kali duduk dengan Danantara dan sudah disepakati. Karena memang Jakarta dibandingkan dengan daerah lain pasti infrastrukturnya lebih siap," kata dia.
Lebih lanjut, Gubernur Pramono menyebut proyek PLTSa diproyeksikan tidak memerlukan skema tipping fee apabila tarif listriknya sesuai dengan standar. Menurut dia, skema ini akan makin mempercepat penyelesaian persoalan sampah di ibu kota. ils/I-1
- Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)
- Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)
- Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL)
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Menteri Pertahanan Ikuti Raker Bersama Komisi I DPR
-
Atasi Tanah Ambles, KLH Siapkan Regulasi Water Farming
-
Kemenekraf Dukung Pengembangan IP Lokal di Bandara Soekarno-Hatta
-
Kepala BGN: Relawan Makan Bergizi Gratis Tidak Dibatasi Usia
-
Pemkot Bogor Berkomitmen Akhiri Era Buang Sampah di Lahan Terbuka Tanpa Diolah
-
Masalah Pipa Limbah Jababeka–MAP, Bisa Membahaya Kepastian Investasi di Kawasan Industri
-
Pemkab Tabalong, Kalsel, Gandeng Produsen Lokal Gelar Gerakan Pangan Murah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.