IMF: Dunia Kekurangan Basis Etika dan Regulasi dalam Tata Kelola AI

Selasa, 14 Okt 2025, 19:31 WIB
WASHINGTON DC - Direktur Jenderal Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund) Kristalina Georgieva pada Senin (13/10), mengatakan, negara-negara di seluruh dunia kekurangan landasan regulasi dan etika yang dibutuhkan untuk mengelola pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), seraya mendesak kelompok-kelompok masyarakat sipil untuk "membunyikan alarm".
Berbicara pada pembukaan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, Georgieva memperingatkan bahwa revolusi AI berlangsung tidak merata, dengan negara-negara ekonomi maju seperti Amerika Serikat mendominasi bidang ini, sementara negara-negara berkembang berisiko tertinggal.
"IMF cukup khawatir bahwa kesenjangan antara negara-negara maju dan negara-negara berpenghasilan rendah dalam hal kesiapan AI semakin melebar," ujarnya. "Hal ini semakin mempersulit negara-negara berkembang untuk mengejar ketertinggalan."
Georgieva mencatat bahwa sementara beberapa pasar berkembang seperti Tiongkok telah mengembangkan kemampuan AI, sebagian besar negara berkembang kekurangan infrastruktur digital dan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk memanfaatkan potensinya.
Ia mengatakan IMF menyarankan negara-negara untuk fokus terlebih dahulu pada pembangunan fondasi digital yang kuat, termasuk pendidikan dan konektivitas, sebelum mencoba mengadopsi teknologi AI.
Minggu lalu, Georgieva memperingatkan bahwa pasar keuangan global menunjukkan tanda-tanda "kegembiraan yang didorong oleh AI" yang serupa dengan ledakan teknologi 25 tahun lalu, dan memperingatkan bahwa pembalikan sentimen yang tajam dapat merugikan pertumbuhan dunia, terutama di negara-negara dengan perekonomian termiskin.
Etika dan regulasi
IMF telah membuat indeks kesiapan AI yang menilai kesiapan nasional dalam empat bidang utama: infrastruktur, tenaga kerja dan keterampilan, inovasi, serta regulasi dan etika.
"Dunia masih belum sepenuhnya maju dalam hal regulasi dan etika," kata Georgieva. "Landasan regulasi dan etika untuk AI di masa depan masih harus dibentuk."
Ia menghimbau masyarakat sipil untuk bertindak sebagai pengawas guna memastikan pengembangan AI memberikan manfaat bagi publik.
“Bunyikan bel peringatan di negara Anda bahwa berdiam diri berarti tertinggal,” katanya. 

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.