Ekonomi Kreatif, Wamendagri Ingatkan: Inovasi Saja Tak Cukup, Saatnya Bangun Diferensiasi!
Minggu, 12 Okt 2025, 22:40 WIBJAKARTA â Diferensiasi dalam pengembangan ekonomi kreatif menjadi kunci untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing di tengah pasar yang semakin padat.
Dalam konteks ini, pelaku industri kreatif tidak cukup hanya mengandalkan ide unik, tetapi juga harus mampu membangun identitas yang membedakan produk atau layanan mereka dari yang lain.
Pendekatan diferensiasi bisa muncul lewat desain, cerita di balik produk, pengalaman pengguna, atau bahkan nilai budaya yang diangkat.
Strategi ini tidak hanya memperkuat posisi di pasar domestik, tetapi juga membuka peluang ekspor karena konsumen global kini semakin mencari produk yang autentik dan bernilai emosional.
Dengan dukungan ekosistem kreatif yang inklusif â dari akses pembiayaan, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga kolaborasi lintas sektor â diferensiasi dapat menjadi pendorong utama tumbuhnya ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan berkarakter Indonesia.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya diferensiasi dalam pengembangan ekonomi kreatif sebagai pengungkit kemajuan sektor pariwisata nasional.
Bima dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (12/10), menyebutkan banyak destinasi wisata tersembunyi di Indonesia yang dapat dikembangkan secara optimal jika kepala daerah memiliki semangat dan komitmen dalam mengelola potensi wilayahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya city branding yang unik dan membedakan satu daerah dengan daerah lainnya. Menurutnya, dengan jumlah 514 kabupaten/kota di Indonesia, seharusnya terdapat 514 potensi, 514 identitas, dan 514 karakter daerah.
"Citra daerah tidak boleh stagnan hanya karena terus menggunakan tagline yang sama atau meniru daerah lain," ujar Bima.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pidato kunci pada acara The Top Tourism Leaders Forum di Hall 9, Nusantara International Convention Exhibition (NICE) di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten, Minggu.
âBapak-Ibu yang sangat paham branding, tolong ajari, tolong tukar pikiran, tolong diskusi dengan para aparat, kepala dinas pariwisata, dan juga kepala daerah tentang city branding karena ini kaitannya dengan pariwisata kuat sekali. City branding ini adalah citra,â ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bima juga membagikan pengalamannya saat membangun city branding Kota Bogor. Pada 2018, ketika masih menjabat Wali Kota Bogor, ia mengunjungi kawasan Mulyaharja yang memiliki hamparan persawahan hijau berlatar Gunung Salak.
Ia bermimpi menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata baru. Tantangan muncul karena lahan tersebut merupakan milik warga dan perusahaan. Namun, berkat kesungguhan dan kolaborasi, perubahan pun terjadi.
âKita bekerja keras melibatkan warga, mengedukasi ibu-ibu. Kemudian mendidik para tour guide, mendidik komunitas supaya berkreasi di sana. Ini adalah salah satu dari desa atau kelurahan termiskin di Kota Bogor, dan saat ini dari titik ini, anak-anak muda, ibu-ibu, emak-emak, ini bisa hidup karena setiap akhir pekan ramai. Mereka buat sistem sendiri,â kata Bima.
Pengalaman tersebut, kata Bima, memberinya pelajaran penting bahwa membangun ekosistem pariwisata bukanlah hal mudah, tetapi diperlukan kerja keras berbagai pihak untuk mengatasi hambatan kultural, struktural, dan infrastruktur.
Ia juga mencontohkan pengembangan sport tourism di Bogor melalui pembangunan jogging track sepanjang 4,3 kilometer di sekitar Istana dan Kebun Raya Bogor. Jalur tersebut kini ramai dimanfaatkan warga dan berdampak pada peningkatan ekonomi pelaku usaha di sekitarnya.
âJadi, sport tourism hari ini, sesungguhnya kalau kita tekuni betul, ini bisa membangun ekosistem yang luar biasa. Karena sport tourism ini bicara kesehatan, bicara kesejahteraan, bicara juga kolaborasi dengan Forkopimda, bicara efeknya bagi UMKM dan lain-lain,â ujarnya.
Selain itu, Bima turut menyoroti potensi event kreatif seperti konser musik sebagai sumber pertumbuhan ekonomi daerah, dengan catatan aspek perizinan, keamanan, dan infrastruktur harus diperkuat.
Ia berharap Indonesia dapat menjadi destinasi utama bagi berbagai pertunjukan seni berskala besar.
Menurutnya, membangun ekosistem pariwisata merupakan pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah daerah (Pemda). Pasalnya, belum semua kepala daerah memiliki kesadaran bahwa pariwisata dan industri kreatif merupakan celah strategis dalam pembangunan ekonomi lokal.
âJadi tugas dari insan pariwisata ini sebetulnya berat banget. Harus gaul membangun jejaring dan mengayakan perspektif,â tuturnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Wah, Ribuan Pelajar SMA/SMK dari Keluarga Miskin dapat Perlengkapan Sekolah Gratis dari Pemkot Surabaya
-
Menekraf: Ekonomi Kreatif Berbasis Teknologi dan Inovasi Bantu Peradaban Indonesia
-
Jakarta Gandeng Berlin, Gubernur Pramono Mantapkan Lompatan Besar Menuju Kota Global
-
Pemkab Karawang: Progres Pembangunan "Underpass" Gorowong Capai 51 Persen
-
Presiden Prabowo Tetapkan 15 Provinsi Prioritas Pengembangan Ekonomi Kreatif, Sumbar Termasuk
-
Kolaborasi Dishut Kalsel dan Alumnus Sekolah Kehutanan dalam Menggencarkan RHL
-
Wamendagri Beberkan Resep Bangkitkan Pariwisata Lewat Ekonomi Kreatif: Setiap Daerah Harus Punya Karakter Sendiri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.