Begini Situasi Kependudukan Kawasan Asia Pasifik, Angka Kematian Ibu Tinggi!

Minggu, 12 Okt 2025, 22:35 WIB

JAKARTA-Direktur Pelaksana FP 2030 Pusat Regional Asia Pasifik, Sumita Banerjee, yang menyampaikan dari total 214 juta perempuan dengan unmet need di dunia, sebanyak 140 juta di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik. 

Angka ini mencerminkan hampir 65 persen unmet need global. Kondisi tersebut berkontribusi pada tingginya jumlah kehamilan yang tidak direncanakan, terutama di kalangan remaja.

Ket. Foto: Angka kematian ibu di sejumlah negara di kawasan Asia Pasific masih tergolong cukup tinggi berkisar rata-rata 140 hingga 155 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup — Sumber: istimewa

 "Setiap tahun, tercatat sekitar 21 juta kehamilan terjadi pada perempuan berusia 15–19 tahun, dan sebanyak 43 persen di antaranya merupakan kehamilan yang tidak diinginkan,"ungkap dalam kegiatan FP2030 Asia-Pacific Focal Points/South-South Learning Workshop bersama FP2030 Asia-Pasifik dan UNFPA Indonesia pada 08-10 Oktober 2025 di Nusa Dua, Bali.

Selain itu lanjutnya, setiap tahunnya tercatat sekitar 12 juta kelahiran terjadi pada perempuan berusia 15–19 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMIC) di Asia dan Pasifik. 

Angka kematian ibu di sejumlah negara di kawasan ini masih tergolong cukup tinggi berkisar rata-rata 140 hingga 155 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup. Sebagian besar kasus tersebut dipengaruhi jarak kelahiran yang terlalu dekat serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang berkualitas dan merata. 

"Kondisi ini membawa dampak serius, tidak hanya bagi kesehatan para remaja, tetapi juga bagi kelanjutan pendidikan serta masa depan ekonomi mereka,” tambah Sumita.

Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Sekretaris Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), Prof. Budi Setiyono menegaskan, selama lima dekade terakhir, Indonesia telah mencapai kemajuan luar biasa dalam pengelolaan kependudukan. 

Melalui program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), Indonesia berhasil menurunkan Total Fertility Rate (TFR) dari 5,6 pada 1970 menjadi 2,11 pada 2024, menandai transisi bersejarah yang mengantarkan negara mencapai era bonus demografi. 

Program ini, termasuk di dalamnya program KB, bertujuan untuk mempertahankan pertumbuhan penduduk yang seimbang _(replacement level) pada angka TFR 2,1. Sehingga membuka dan memperluas peluang bagi kemajuan sosial dan ekonomi.

Strategi Komperehensif

Lebih dari sekadar mengelola jumlah penduduk, Prof. Budi mengatakan, program Bangga Kencana merupakan strategi komprehensif untuk meningkatkan sumber daya manusia. Dengan mendorong jarak kelahiran yang sehat dan akses yang luas terhadap kontrasepsi modern, keluarga Indonesia lebih mampu merencanakan hidup mereka.

Termasuk memungkinkan para ibu untuk merawat anak-anak mereka secara optimal, mengurangi angka kematian ibu, mencegah stunting, dan menciptakan peluang yang lebih besar bagi partisipasi perempuan dalam dunia kerja. 

"Bersama-sama, hasil-hasil ini berkontribusi pada keluarga yang lebih kuat dan bangsa yang lebih produktif”, terang Prof Budi.

Prof. Budi juga menegaskan bahwa Indonesia menorehkan prestasi membanggakan dalam program Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan, dengan capaian yang menempatkan Indonesia pada peringkat tertinggi di kawasan Asia-Pasifik. 

"Keberhasilan ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam mengintegrasikan layanan KB ke dalam sistem kesehatan ibu dan anak, sekaligus menunjukkan peran kepemimpinan Indonesia di tingkat regional dalam bidang Keluarga Berencana,"pungkasnya.

  • bonus demografi
  • Kematian Ibu dan Anak
  • Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.