Pelatih Timnas Prancis Deschamps: Kunci Bertahan di Era Baru adalah Adaptasi, Bukan Jadi “Orang Tua Bodoh”

Jumat, 10 Okt 2025, 08:53 WIB

CLAIREFONTAINE-EN-YVELINES, PRANCIS - Pelatih tim nasional Prancis, Didier Deschamps, mengakui bahwa rahasia keberhasilannya bertahan di level tertinggi selama lebih dari satu dekade adalah kemampuan beradaptasi dengan generasi pemain muda,bukan sekadar memaksakan ide lamanya. Dalam wawancara eksklusif dengan AFP, Deschamps menegaskan bahwa menjadi pelatih modern berarti “tidak boleh menjadi orang tua bodoh yang hidup di masa lalu.”

Pelatih berusia 56 tahun itu, yang menjuarai Piala Dunia 1998 sebagai kapten dan Piala Dunia 2018 sebagai pelatih, telah memimpin Les Bleus sejak 2012. Dalam kurun waktu itu, ia melihat pergeseran besar dalam karakter dan mentalitas pemain muda.

Ket. Foto: Pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps. — Sumber: AFP

“Sekarang pemain lebih percaya diri, lebih yakin pada diri sendiri,” kata Deschamps menjelang laga kualifikasi Piala Dunia melawan Azerbaijan, Jumat (10/10), dan Islandia, Senin (13/10). “Dulu, pemain muda hanya melakukan apa yang diperintahkan. Sekarang mereka lebih nyaman, karena mereka sudah siap dan matang di usia lebih dini.”

Deschamps menilai perubahan ini menuntut pelatih untuk bersikap fleksibel dan terbuka. “Dulu, dipanggil ke tim nasional sudah cukup membuat pemain bangga. Sekarang mereka datang dengan ambisi besar. Itu berarti pelatih harus menangani mereka dengan cara berbeda,” ujarnya.

Ia membandingkannya dengan dunia kerja modern. “Seperti di bisnis, anak muda datang dan bisa langsung bilang kepada bosnya bahwa ia ingin posisi itu. Bisa dianggap kurang sopan,atau bisa juga dilihat sebagai bentuk ambisi.”

Meski mengakui bahwa “beberapa hal dulu terasa lebih baik,” Deschamps sadar bahwa banyak pendekatan lama sudah tak relevan. Salah satunya, larangan membawa ponsel di ruang ganti. “Sekarang mustahil. Pemain generasi baru ini lahir dengan ponsel di tangan. Mereka ultra-terhubung, dan saya yang harus menyesuaikan diri,” katanya.

Deschamps juga menyebut bahwa daya konsentrasi pemain muda kini lebih pendek, sehingga ia harus menyesuaikan metode melatih. “Saya lebih suka bicara singkat, padat, langsung ke inti. Saya tak ingin suara saya jadi seperti musik latar yang tak mereka dengarkan,” ujarnya dengan nada setengah bercanda.

Menurutnya, kemampuan untuk terus berubah inilah yang membuatnya tetap relevan di tengah pergeseran zaman. “Kuncinya adalah beradaptasi dengan pemain yang selalu lebih muda,karena kamu sendiri semakin tua. Di situlah keseimbangan antara tidak menjadi orang tua bodoh, tapi juga tidak berpura-pura jadi anak muda.”

Lebih dari sekadar ucapan rendah hati, pandangan Deschamps mencerminkan evolusi kepemimpinan dalam sepak bola modern: dari gaya otoriter menuju pendekatan kolaboratif, di mana komunikasi dan empati menjadi kekuatan utama. Dan di tengah transformasi generasi pemain Les Bleus, pelatih berpengalaman itu tampaknya masih tahu cara berbicara dalam bahasa yang mereka pahami.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.