Ragunan Bakalan Buka Wisata Malam, Akankah Berjalan Mulus? Ini Analisis Peluang dan Tantangannya 

Kamis, 09 Okt 2025, 17:15 WIB

JAKARTA - Pembukaan program wisata malam bertajuk "Night at the Ragunan Zoo" menjadi langkah berani Taman Margasatwa Ragunan dalam memperluas pengalaman rekreasi warga ibu kota. Program yang mulai digelar setiap malam Minggu ini menawarkan sensasi berkeliling kebun binatang di bawah cahaya bulan, menyaksikan langsung aktivitas satwa nocturnal, dan menikmati suasana malam yang belum pernah ada sebelumnya.

Namun, di balik semangat inovasi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah program ini akan berjalan mulus seperti yang direncanakan? Analisis terhadap kesiapan infrastruktur, keamanan, dan dampaknya terhadap satwa menunjukkan bahwa keberhasilan proyek ini bergantung pada keseimbangan antara ambisi wisata dan tanggung jawab konservasi.

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta/Paundra Zakirulloh

Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Ir. M Fajar Sauri, menyatakan pihaknya telah menyiapkan operasional wisata malam secara matang.

"Kami sudah melakukan kajian dan simulasi teknis untuk memastikan kegiatan berjalan aman bagi pengunjung dan nyaman bagi satwa," katanya. 

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Pemprov DKI berupaya mengantisipasi segala potensi kendala sebelum peluncuran resmi.

Dari sisi konsep, "Night at the Ragunan Zoo" memiliki peluang besar untuk menarik perhatian publik. Fenomena wisata malam telah terbukti sukses di beberapa negara seperti Singapura dan Jepang, yang berhasil mengubah kebun binatang mereka menjadi destinasi eco-edutainment berkelas dunia. Jika Ragunan mampu menerapkan konsep serupa dengan standar operasional yang ketat, peluang keberhasilan program ini cukup tinggi.

Meski begitu, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Faktor pertama adalah kesejahteraan satwa. Satwa nocturnal memang aktif di malam hari, tetapi paparan cahaya buatan, kebisingan kendaraan, dan kehadiran manusia dalam jumlah besar bisa memicu stres. Jika tidak dikendalikan dengan tepat, kondisi ini dapat mengganggu perilaku alami hewan dan menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatannya.

Faktor kedua adalah keamanan dan kenyamanan pengunjung. Ragunan yang selama ini hanya beroperasi pada siang hari perlu beradaptasi dengan sistem pengamanan baru, termasuk penerangan jalan, patroli malam, serta pengawasan di area yang rawan. Dengan luas area mencapai 147 hektare, pengawasan intensif menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.

Selain itu, pengelolaan kapasitas pengunjung juga akan menjadi ujian besar. Dengan harga sewa e-car sebesar Rp250 ribu per jam untuk lima orang, pengelola perlu menyeimbangkan antara permintaan tinggi dan ketersediaan unit. Jika tidak diatur secara sistematis melalui sistem reservasi daring, antrean panjang dan kekecewaan pengunjung bisa menurunkan citra program ini di awal peluncuran.

Dari aspek teknis, kesiapan infrastruktur seperti sistem penerangan ramah satwa dan jalur mobil listrik perlu terus disempurnakan. Penggunaan cahaya lembut memang menjadi solusi agar tidak mengganggu hewan, namun di sisi lain juga membatasi jarak pandang. Tantangan ini memerlukan inovasi pencahayaan yang efektif tanpa mengorbankan faktor keselamatan.

Pengamat lingkungan menilai keberhasilan wisata malam ini akan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan. Evaluasi rutin melalui pendekatan ilmiah penting untuk mengukur tingkat stres satwa, dampak kebisingan, serta perubahan perilaku hewan akibat interaksi malam hari. Tanpa dasar ilmiah yang kuat, konsep wisata malam bisa berubah menjadi sekadar atraksi komersial yang justru bertentangan dengan fungsi edukatif kebun binatang.

Namun demikian, potensi keberhasilannya tidak bisa diabaikan. Ragunan telah memiliki reputasi kuat sebagai ruang publik edukatif yang digemari warga Jakarta. Jika manajemen mampu menyeimbangkan unsur hiburan dan konservasi, "Night at the Ragunan Zoo" bisa menjadi ikon wisata baru ibu kota dan memperpanjang masa kunjungan wisatawan.

Dari sisi ekonomi, program ini juga membuka peluang tambahan bagi UMKM yang beroperasi di sekitar area Ragunan. Aktivitas malam berpotensi menghidupkan kembali ekonomi mikro melalui penjualan makanan, suvenir, hingga layanan transportasi lokal. Efek domino ini bisa menjadi nilai tambah yang mendukung keberlanjutan program.

Kesimpulannya, pelaksanaan "Night at the Ragunan Zoo" memiliki peluang keberhasilan yang cukup besar, namun bukan tanpa risiko. Tantangan utama terletak pada kemampuan pengelola menjaga keseimbangan antara inovasi wisata dan perlindungan satwa. Keberhasilan jangka panjang hanya bisa dicapai jika pengawasan, edukasi, dan komitmen terhadap kesejahteraan hewan terus dijaga secara konsisten.

Jika semua faktor tersebut dapat dikelola dengan baik, maka “Night at the Ragunan Zoo” bukan hanya sekadar program eksperimental, melainkan tonggak baru bagi Jakarta dalam menciptakan wisata malam yang berbudaya, ramah lingkungan, dan berorientasi pada edukasi publik.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.