Rupiah Masih Tertekan, 7 Oktober 2025
Selasa, 07 Okt 2025, 09:15 WIBJAKARTA â Rupiah berpotensi menghadapi tekanan lanjutan seiring kombinasi sentimen eksternal dan interÂnal yang masih kuat. Dari luar negeri, gejolak geopolitik, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed, dan ancaman shutdown pemerintahan Amerika Serikat (AS) menambah volatilitas pasar global.
Sementara dari dalam negeri, seretnya belanja pemeÂrintah dan tekanan inflasi bisa ikut memperlemah ruang gerak rupiah. Dalam situasi seperti ini, stabilitas nilai tukar sangat bergantung pada kebijakan moneter yang adaptif serta kemampuan menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi domestik.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi melihat ekspekÂtasi investor makin menguat terhadap prospek pemangÂkasan suku bunga acuan oleh bank The Fed pada Oktober ini. Lebih dari 99 persen pelaku pasar meyakini Fed Fund Rate (FFR) bakal kembali dipangkas sebesar 25 basis poin dalam pertemuan The Fed bulan ini.
Tekanan terhadap rupiah juga berasal dari dampak dinamika politik di AS. Untuk keempat kalinya, Senator menolak RUU belanja pemerintah AS agar pemerintahan kembali beroperasi. Selain itu, ketegangan geopolitik di TiÂmur Tengah dan Eropa juga tetap menjadi fokus proyeksi nilai rupiah ke depan.
Dari sisi domestik, Ibrahim memperkirakan rupiah meÂlemah karena dipengaruhi rilis belanja kementerian/ lemÂbaga (K/ L) pada APBN 2025 yang menunjukkan perlamÂbatan.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terÂhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarÂbank, Selasa (7/10), bergerak fluktuatif namun ditutup meÂlemah di kisaran 16.580 - 16.530 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Senin (6/10), sore melemah seÂbesar 20 poin atau 0,12 persen dari akhir pekan lalu menÂjadi 16.583 rupiah per dollar AS.
âDi AS, pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunga pada bulan OktoÂber. Para pedagang memperkirakan peluang lebih dari 99 persen untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin di akhir Oktober, menurut CME Fedwatch,â ucap AnaÂlis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Pengamat: Roblox dan YouTube Wajib Patuhi Aturan Perlindungan Anak di Ruang Digital
-
Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.