Macron Tertekan Menyusul Mundurnya PM Lecornu
📅 Selasa, 07 Okt 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Benoit Tessier
PARIS - Perdana menteri baru Prancis secara tak terduga mengundurkan diri pada Senin (6/10) setelah kurang dari sebulan menjabat. Pengunduran diri itu semakin menjerumuskan Prancis ke dalam krisis politik dan menambah tekanan pada Presiden Emmanuel Macron untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan tersebut.
Sebastien Lecornu mengundurkan diri hanya 14 jam setelah mengumumkan pemerintahannya dan dijadwalkan mengadakan rapat kabinet pertamanya pada sore hari. Namun, pemerintahan barunya telah menimbulkan keresahan di seluruh spektrum politik bahkan sebelum para menteri memasuki kantor baru mereka, dan ia berisiko menghadapi mosi tidak percaya langsung di parlemen pekan ini.
Masa jabatan Lecornu selama 27 hari merupakan masa jabatan terpendek bagi seorang perdana menteri di Prancis modern.
"Syarat-syarat tidak terpenuhi bagi saya untuk menjalankan fungsi saya sebagai perdana menteri," kata Lecornu, seraya mengecam langkah partisan dari faksi-faksi yang menurutnya telah memaksa pengunduran dirinya.
Dengan ketidakstabilan di Prancis yang menyebabkan guncangan di seluruh Eropa, juru bicara pemerintah Jerman mengatakan bahwa Prancis yang stabil merupakan kontribusi penting bagi stabilitas di Eropa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengunduran diri Lecornu memperparah krisis politik yang telah mengguncang Prancis selama lebih dari setahun, setelah Presiden Macron yang beraliran tengah mengadakan pemilihan legislatif pada musim panas 2024 yang berakhir dengan parlemen tidak menghasilkan suara mayoritas.
Presiden Macron sendiri telah menolak seruan untuk kembali memerintahkan pemilihan legislatif dadakan dan juga telah mengesampingkan kemungkinan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir pada tahun 2027.
Ia juga dapat mencari perdana menteri baru dalam masa jabatan kepresidenannya akan tetapi akan menghadapi perjuangan untuk bertahan hidup tanpa perubahan radikal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemilihan presiden tahun 2027 sendiri diperkirakan akan menjadi persimpangan bersejarah dalam politik Prancis, dengan kubu sayap kanan Prancis di bawah pimpinan Marine Le Pen merasakan peluang terbaiknya untuk merebut kekuasaan.
Picu Kritik
Presiden Macron menunjuk Lecornu, mantan menteri pertahanan berusia 39 tahun dan orang kepercayaannya yang dikenal karena kebijaksanaan dan kesetiaannya, ke jabatan tersebut pada tanggal 9 September.
Tadinya Presiden Macron berharap sekutunya bisa meredakan krisis dalam negeri dan memungkinkannya untuk fokus pada upayanya di panggung internasional dan khususnya bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang Russia di Ukraina.
Namun, kabinet yang sebagian besar tidak berubah yang diresmikan Lecornu pada Minggu malam memicu kritik keras, khususnya dari kaum Republikan sayap kanan yang merupakan bagian dari pemerintahan koalisi.
Susunan kabinet tersebut mencakup mantan menteri keuangan yang telah lama menjabat, Bruno Le Maire, sebagai menteri pertahanan, sebuah langkah yang menurut para kritikus bertentangan dengan janji Lecornu untuk perubahan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!