Ekonom: Stimulus Ekonomi Bisa Jadi Tameng Daya Beli Masyarakat, Tapi Anggarannya Terlalu Kecil

Jumat, 03 Okt 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Paket kebijakan stimulus ekonomi yang disiapkan pemerintah dinilai dapat memberikan dorongan positif, terutama pada konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Sayangnya, anggaran yang dialokasikan untuk program stimulus tersebut dinilai masih kecil.

Program dengan 17 paket stimulus ini menunjukkan strategi pemerintah yang cukup komprehensif untuk merangsang perekonomian. Skemanya mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan keterampilan tenaga kerja lewat magang nasional bergaji, menjaga daya beli masyarakat lewat bantuan pangan, hingga meringankan beban pelaku usaha dengan insentif PPh 21 ditanggung pemerintah (DTP).

Ket. Foto: Pembangunan Ekonomi - Paket Stimulus Jadi Bantalan Hadapi Tekanan Konsumsi — Sumber: antara

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai anggaran untuk membiayai program stimulus ekonomi relatif kecil dibandingkan besarnya tantangan ekonomi. “Berbagai insentif tersebut pasti akan berdampak, tetapi mengingat nilainya hanya 16,23 triliun rupiah, maka dampak tersebut tidak akan signifikan. Target (ekonomi) tumbuh 5,2 persen mungkin, tetapi sangat sulit dicapai," kata Wijayanto di Jakarta, Kamis (2/10).

Di luar 17 program tersebut, pemerintah berencana mempertebal bantuan sosial (bansos) untuk 30 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Namun, rincian program ini masih belum dijelaskan lebih lanjut.

Wijayanto menilai langkah ini wajar dan tetap relevan meski ada nuansa politis. "Ada unsur politis, tetapi sesuai dengan kebutuhan di lapangan, jadi tidak mengada-ada,” katanya.

Dia juga menilai bahwa secara fiskal, ruang anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun ini masih cukup terjaga. Hal itu karena sebagian besar stimulus berupa insentif pajak atau pengurangan potensi penerimaan negara, bukan belanja langsung.

Lebih lanjut, mengenai program magang nasional yang dibuka 15 Oktober 2025, Wijayanto menilai kebijakan ini realistis sebagai bantalan bagi generasi muda di tengah tingginya angka pengangguran. "Ini lebih pada menyiapkan bantalan, sehingga fresh graduate punya aktivitas pascalulus. Jumlah gen z menganggur yang sudah tembus 10 juta perlu mendapat perhatian. Ini economically realistic and politically correct," katanya.

Perkuat Konsumsi

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut paket stimulus akan membantu menjaga konsumsi rumah tangga dan memperkuat kepercayaan pelaku usaha. Airlangga meyakini Indonesia berpeluang mencapai pertumbuhan ekonomi 5,2 persen sepanjang 2025 dengan dorongan delapan program akselerasi kebijakan ekonomi 2025.

Program tersebut meliputi magang nasional bagi fresh graduate; perluasan diskon PPh 21; bantuan pangan; diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) kepada pekerja sektor transportasi; penurunan bunga kredit perumahan BPJS Ketenagakerjaan; program padat karya tunai; deregulasi perizinan berusaha berbasis risiko; dan proyek percontohan perkotaan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.