Tanda-Tanda Pertumbuhan Ekonomi 2025 Gagal Penuhi Target Mulai Terlihat, Pemerintah Harus Putar Otak

Kamis, 02 Okt 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan meleset dari target yang ditetapkan dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 5,3 persen. Indikasi tersebut tergambar dari proyeksi Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 di bawah lima persen.

OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 di level 4,9 persen, sama dengan prediksi ADB yang telah direvisi turun dari asumsi awal sebesar 5,0 persen. Ketidakpastian globa ditengarai menjadi hambatan bagi ekonomi Indonesia tumbuh tinggi.

Ket. Foto: TARGET BERISIKO MELESET - Suasana perkantoran terlihat ramai saat jam kerja di Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (1/10). Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sekitar 4,9 persen, jauh di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2025 sebesar 5,3 persen. — Sumber: KORAN JAKARTA/WAHYU AP

Proyeksi ini menjadi alarm kepada pemerintah terkait kondisi riil ekonomi saat ini. Masalah minimnya serapan anggaran dan belanja jumbo yang tidak efektif memperkuat ekonomi warga sebaiknya dievaluasi atau dihentikan.

Peneliti Ekonomi Core Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet mengatakan, untuk mengejar target ambisi pertumbuhan ekonomi jangka panjang sebesar 8 persen, ada beberapa pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan. Pertama, lanjutnya, percepatan infrastruktur dan peningkatan investasi, baik publik maupun asing, sangat penting untuk menurunkan biaya logistik dan membuka pasar baru.

"Kedua, diversifikasi ekonomi melalui hilirisasi komoditas harus dibarengi dengan pengembangan sektor non-komoditas seperti manufaktur berteknologi dan layanan modern agar pertumbuhan tidak terjebak di sekitar 5 persen," ucap Rendi kepada Koran Jakarta, Rabu (1/10).

Ketiga, peningkatan produktivitas tenaga kerja lewat pendidikan, pelatihan, serta adopsi teknologi menjadi kunci, termasuk pemerataan pembangunan antarwilayah. Keempat, dari sisi fiskal, pemerintah perlu memperluas basis pajak dan mempercepat penyerapan anggaran agar tidak menekan defisit.

Kelima, konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama produk domestik bruto (PDB) harus dijaga dengan inflasi stabil dan dukungan pembiayaan, sementara ekspor diperkuat melalui perjanjian dagang baru dan mitigasi risiko global seperti tarif tinggi AS.

"Intinya, keberhasilan mencapai target lebih tinggi sangat bergantung pada konsistensi reformasi fiskal, moneter, dan struktural,"pungkas Rendi.

Masih Menantang

Senada, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan proyeksi OECD terhadap ekonomi Indonesia pada 2025 sangat jauh dari target pertumbuhan pemerintah. "Jelas ekonomi melemah, konsumsi rumah tangga kurang tenaga, kelas menengahnya semakin menyusut," tegas Bhima.

Menurutnya, pada kuartal IV-2025, masyarakat harus berhadapan dengan lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok, terutama beras. Selain itu, lanjutnya, lapangan kerja bagi lulusan sarjana masih terbatas khususnya di sektor formal.

Dia menambahkan, dari sisi ekspor, hampir sebagian besar harga komoditas sedang bearish atau melemah. "Pemerintah sebaiknya fokus pada perbaikan serapan anggaran dan menghentikan program yang tidak ada efeknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Program yang buang-buang anggaran disetop dulu," tegas Bhima.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah menyiapkan berbagai stimulus ekonomi guna menjaga momentum pertumbuhan di sisa waktu 2025. 

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.