Banjir Lumpuhkan Sekolah di Kotim, Ratusan Siswa Terpaksa Belajar dari Rumah

Kamis, 18 Sep 2025, 17:45 WIB

SAMPIT - Banjir yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), membuat tiga sekolah terpaksa menerapkan belajar dari rumah (BDR). Dinas Pendidikan Kotim menegaskan langkah ini diambil demi menjaga keselamatan siswa dan guru di tengah genangan air yang sudah berlangsung hampir sepekan.

“Berdasarkan laporan yang kami terima ada delapan sekolah terdampak banjir dan tiga diantaranya terpaksa menerapkan BDR, karena kondisi banjirnya cukup parah,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim Muhammad Irfansyah di Sampit, Kamis.

Ket. Foto: Kondisi banjir yang mengepung SDN 1 Tumbang Tilap, Kamis (18/9). — Sumber: ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Irfansyah menyebut dari laporan banjir yang diterima, kondisi di beberapa sekolah cukup mengkhawatirkan. Contohnya, di SDN 1 Tumbang Tilap dengan genangan air yang nyaris masuk ke ruang kelas, padahal bangunan sekolah itu cukup tinggi seperti rumah panggung.

Ia menegaskan keselamatan guru dan peserta didik menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti ini sekolah diperkenankan untuk langsung mengambil langkah guna menjaga keselamatan guru dan peserta didik, baru kemudian melaporkan ke Disdik.

“Yang kami khawatirkan banjir itu juga akan mengganggu kesehatan dan keselamatan, maka sekolah wajib mengambil tindakan sesuai kondisi masing-masing, lalu melapor ke Disdik,” ujarnya.

Sejumlah sekolah yang terdampak banjir, namun tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah adalah SDN 5 Samuda Kota dan SDN 1 Samuda Kecil Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, SDN Kunjung Lampuyang, SDN 3 Lampuyang, dan SMPN Satap 2 Teluk Sampit Kecamatan Teluk Sampit.

Untuk sekolah yang terdampak banjir dan terpaksa menerapkan BDR adalah SDN 1 Tumbang Tilap Kecamatan Bukit Santuai, SDN 1 Kawan Batu K dan SDN 1 Baampah ecamatan Mentaya Hulu.

Disdik Kotim menginstruksikan agar setiap sekolah terdampak segera menyampaikan laporan disertai dokumentasi berupa foto atau video.

Hal ini penting agar pihaknya bisa melaporkan kondisi ke pimpinan daerah sekaligus menyiapkan langkah penanganan yang diperlukan.

Sementara itu, Kepala SDN 1 Tumbang Tilap Fitriyani menyebut SDN 1 Tumbang Tilap hampir selalu terdampak banjir ketika musim hujan atau air pasang, bahkan dalam setahun sekolah itu bisa merasakan banjir empat hingga lima kali.

“Kalau musim hujan, pasti banjir. Dalam setahun bisa 4 sampai 5 kali. Tahun ini saja sudah tiga kali sejak Agustus,” sebutnya.

Ia menjelaskan letak Desa Tumbang Tilap yang menjadi lokasi sekolah tersebut berada di dataran paling rendah di Kecamatan Bukit Santuai.

Setiap kali hujan deras turun di hulu selama dua hingga tiga hari, banjir hampir dipastikan akan datang. Bedanya, bila banjir di hulu hanya bertahan sehari-dua hari, di Tumbang Tilap bisa sampai empat hingga lima hari.

  • banjir
  • kalimantan tengah
  • kalteng
  • kotim
  • kotawaringin timur
  • belajar dari rumah
  • bdr

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.