Nah Loh! Ternyata ‘Flexing’ di Medsos Berbahaya bagi Kesehatan Mental, Ini Penjelasannya
Selasa, 16 Sep 2025, 20:30 WIBJAKARTA - Masyarakat kini semakin sering menunjukkan sikap flexing atau pamer kekayaan di media sosial. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif, terutama bagi kesehatan mental.
Flexing diartikan sebagai tindakan dengan sengaja menampilkan apa yang dimiliki kepada orang lain dengan tujuan pamer.
Dilansir dari Halodoc, sikap ini memiliki sejumlah dampak buruk bagi kesehatan mental, berikut beberapa di antaranya:
1. Membuat Anda Merasa Tidak Cukup
Flexing sering kali menimbulkan rasa tidak aman karena membuat seseorang merasa lebih rendah dibanding orang lain. Paparan konten berlebihan tentang kekayaan atau pencapaian dapat memunculkan perasaan kurang puas terhadap diri sendiri.
Melihat unggahan yang terus memamerkan kesuksesan dapat memicu stres dan menurunkan rasa percaya diri. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan kesedihan hingga perasaan rendah diri yang mendalam.
2. Memperparah Kecemasan Sosial
Flexing dapat memperparah kecemasan sosial karena menimbulkan tekanan untuk selalu tampil sempurna di hadapan orang lain. Dorongan untuk memamerkan kekayaan atau pencapaian sering kali muncul demi mendapatkan perhatian dan persetujuan.
Tekanan tersebut bisa memicu rasa cemas yang berlebihan dan mempengaruhi kesehatan mental. Bahkan, sebagian orang terdorong melakukan hal tidak sehat seperti mengejar popularitas semu atau menggunakan uang yang bukan miliknya.
3. Meningkatkan Risiko Depresi
Kebiasaan flexing yang dilakukan terus-menerus berisiko meningkatkan gejala depresi. Rasa tidak cukup baik dan kecemasan sosial membuat seseorang merasa terasing dan kesepian.
Perbandingan diri yang terlalu sering dengan orang lain juga dapat memperburuk kondisi psikologis. Hal ini memicu perasaan tidak berharga hingga muncul anggapan diri sendiri tidak berguna.
4. Menyebabkan Ketidakbahagiaan
Flexing mungkin memberikan rasa senang sesaat, tetapi dampaknya bisa berbalik menjadi ketidakbahagiaan. Kebiasaan ini hanya menciptakan ilusi kepuasan yang tidak bertahan lama.
Perbandingan diri yang dilakukan terus-menerus dengan orang lain memperburuk suasana hati. Akibatnya, seseorang dapat merasa tidak puas dengan hidup yang dijalani.
5. Mengganggu Produktivitas dan Konsentrasi
Flexing tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat mengganggu produktivitas dan konsentrasi. Kebiasaan terus memeriksa media sosial membuat banyak waktu terbuang sia-sia.
Fokus yang teralihkan karena sering melihat unggahan orang lain dapat menunda penyelesaian pekerjaan. Kondisi ini bahkan bisa menurunkan kinerja baik di sekolah maupun di tempat kerja. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Kolaborasi Kemensos-Kementerian UMKM untuk Berdayakan Warga Miskin
-
KKP Salurkan Rp163 Miliar Geliatkan Perikanan Tangkap Sulut
-
Catat Tanggalnya! QRIS Ekspansi ke Timur: Transaksi di Jepang dan Tiongkok Jadi Mudah
-
Mensos Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Sekolah Unggulan untuk Warga Miskin
-
Flexing Bisa Kena Pajak! DJP Intai Gaya Hidup Mewah Netizen Lewat Instagram dan TikTok!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.