Indomie Ditolak Taiwan: Fakta di Balik Isu Etilen Oksida dan Standar Keamanan Pangan

Jumat, 12 Sep 2025, 12:27 WIB

Jakarta — Sebuah isu mengejutkan muncul di pasar internasional ketika Taiwan menarik varian Indomie Rasa Soto Banjar Limau Kuit
 dari rak‑rak toko usai ditemukan residu etilen oksida pada bumbu bubuknya. Temuan ini mengundang perhatian tidak hanya dari konsumen, tapi juga regulator, produsen, dan lembaga pengawas pangan di berbagai negara. Namun, permasalahannya menjadi rumit karena beda standar antar-negara, persepsi risiko, dan konteks regulasi.

Fakta yang Diketahui

  • Taiwan menemukan kandungan etilen oksida sebesar 0,187 mg/kg (ppm) pada bumbu bubuk produk Indomie Rasa Soto Banjar Limau Kuit.

    Ket. Foto: Taiwan menarik varian Indomie Soto Banjar Limau Kuit karena temuan etilen oksida. — Sumber: Pinterest
  • Produk tersebut kemudian diperintahkan ditarik dari peredaran di Taiwan karena negara itu menerapkan larangan nol toleransi terhadap residu etilen oksida pada pangan.

  • Di Indonesia, otoritas keamanan pangan (BPOM) menyatakan bahwa meskipun kandungan etilen oksida terdeteksi, jumlah tersebut masih jauh di bawah batas maksimal residu yang diizinkan di Indonesia, yaitu 85 ppm untuk 2‑Chloro Ethanol (2‑CE) yang setara dalam pengukuran residu ini.

Standar Antar Negara: Mengapa Ada Perbedaan

  • Taiwan menetapkan nol toleransi untuk etilen oksida pada pangan, sehingga setiap produk yang mengandung residu meskipun sedikit dianggap tidak memenuhi standar.

  • Di lain pihak, Indonesia memungkinkan residu hingga ambang tertentu berdasarkan regulasi BPOM dan Keputusan Kepala BPOM No. 229/2022 tentang Pedoman Mitigasi Risiko Kesehatan Senyawa Etilen Oksida. Dalam kasus ini, nilai yang ditemukan (0,187 ppm / setara 2‑CE 0,34 ppm) dianggap masih aman di Indonesia.

  • Perbedaan metodologi pengujian juga turut berpengaruh, termasuk bagaimana konversi dari 2‑Chloro Ethanol (2‑CE) ke etilen oksida dipakai sebagai acuan.

BPOM RI menegaskan bahwa produk Indomie yang beredar di Indonesia masih aman dikonsumsi karena memenuhi standar lokal. Kemendag Indonesia menyebut bahwa produk ekspor melalui distributor resmi telah disesuaikan dengan regulasi negara tujuan, meskipun produk yang ditarik dianggap belum memenuhi standar Taiwan. Produsen juga diminta melakukan mitigasi risiko agar kejadian serupa tidak terulang.

Etilen oksida adalah senyawa yang bersifat reaktif dan dapat merusak DNA jika terpapar dalam jumlah besar dan dalam jangka panjang. Beberapa studi mengaitkannya dengan risiko kanker seperti limfoma dan leukemia. Namun, paparan sekali-sekali atau pada kandungan rendah seperti yang ditemukan di kasus Taiwan dianggap oleh banyak regulator (termasuk BPOM) kurang berisiko bila dibandingkan standar internasional yang lebih permisif.

Kepedulian konsumen meningkat, isu keamanan pangan sekarang lebih sensitif, terutama pada produk makanan impor dan instan. Konsumen mulai memperhatikan label, regulasi negara tujuan impor, serta transparansi informasi dari produsen.

  • Indomie
  • Indomie etilen oksida
  • penarikan produk makanan
  • keamanan pangan internasional
  • BPOM Indonesia
  • standar residu pestisida
  • varian ayam spesial
  • perbedaan regulasi pangan
  • kontroversi mie instan

Redaktur: Andriani Nuraini

Penulis: Andriani Nuraini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.