Purbaya Pasang Target Tinggi, Kontribusi Danantara ke Investasi Melonjak hingga 2029

Rabu, 10 Sep 2025, 17:00 WIB

JAKARTA – Meningkatkan kontribusi investasi menjadi hal yang krusial bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

Selama ini, perekonomian masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga sebagai motor utama, sementara peran investasi relatif stagnan.

Ket. Foto: Ilustrasi - Wisma Danantara Indonesia. — Sumber: Antara.

Padahal, investasi adalah faktor kunci untuk memperkuat kapasitas produksi, menciptakan lapangan kerja, mendorong transfer teknologi, serta memperluas basis ekspor yang mampu meningkatkan daya saing nasional.

Optimalisasi kontribusi investasi juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada utang pemerintah sebagai sumber pembiayaan pembangunan.

Dengan masuknya investasi produktif, terutama di sektor strategis seperti infrastruktur, manufaktur, energi baru terbarukan, dan ekonomi digital, Indonesia bisa menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang lebih besar terhadap pertumbuhan.

Dari sisi jangka panjang, peningkatan investasi akan memperkokoh fondasi ekonomi agar lebih tahan terhadap gejolak global, baik itu krisis finansial, volatilitas harga komoditas, maupun ketidakpastian geopolitik.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat kepastian hukum, menyederhanakan regulasi, memberikan insentif yang tepat, serta menjaga stabilitas makroekonomi agar iklim investasi semakin kondusif.

Dengan langkah tersebut, kontribusi investasi tidak hanya meningkat secara nominal, tetapi juga memberi dampak nyata bagi pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berencana meningkatkan kontribusi investasi Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) secara konsisten hingga 2029.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Rabu (10/9), Purbaya menyebut dibutuhkan percepatan investasi agar pertumbuhan ekonomi dapat didorong lebih tinggi.

Hal itu akan diwujudkan dengan menguatkan peran swasta dan Danantara sebagai sovereign wealth fund, agar percepatan investasi tak hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ke depan, diharapkan kontribusi investasi dari Danantara terus meningkat hingga tahun 2029, sejalan dengan meningkatnya kontribusi swasta,” kata dia.

Menurutnya, investasi strategis yang dilakukan oleh Danantara diarahkan untuk mendukung sektor-sektor produktif yang mempunyai nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.

Pemerintah pun turut hadir melalui APBN sebagai katalis untuk menggairahkan peran swasta.

Maka dari itu, dia berharap Danantara dan swasta dapat berkontribusi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Secara paralel, APBN juga terus menggelontorkan dukungan untuk pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

Dukungan itu diarahkan untuk proyek-proyek prioritas yang mempunyai daya ungkit terhadap pertumbuhan, di antaranya perumahan, infrastruktur pendukung ketahanan pangan dan ketahanan energi, serta sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan.

Dalam paparannya, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada Rancangan APBN (RAPBN) 2026 ditargetkan sebesar 5,4 persen, lebih tinggi dari target APBN 2025 sebesar 5,2 persen.

Dari sisi komponen PDB, proyeksi investasi melambat dari 5,5 persen tahun ini menjadi 5,2 persen tahun depan. Sebaliknya, target pertumbuhan konsumsi rumah tangga meningkat dari 5,0 persen tahun ini menjadi 5,2 persen tahun depan. Pun dengan ekspor yang naik dari 5,4 persen menjadi 6,7 persen.

Adapun dari segi sektor, pertanian diperkirakan tumbuh 4,1 persen, manufaktur 5,2 persen, serta informasi dan komunikasi 8,0 persen pada tahun depan.

  • Danantara
  • Purbaya Yudhi Sadewa
  • Investasi

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.