Belajar Hidup Sehat dari Orangutan
Rabu, 10 Sep 2025, 07:51 WIBPERILAKU kera besar asli hutan hujan Indonesia dan Malaysia ini merupakan keajaiban adaptasi terhadap keanehan pasokan makanan di alam liar. Menurut tim peneliti internasional yang dipimpin oleh seorang ilmuwan dari Rutgers University-New Brunswick, primata yang terancam punah ini mengungguli manusia modern dalam menghindari obesitas melalui pilihan makanan dan olahraga yang seimbang, demikian temuan para ilmuwan.
Para peneliti melaporkan temuan mereka, berdasarkan pengamatan langsung selama 15 tahun terhadap orangutan liar di hutan Kalimantan, seperti dilakukan dalam jurnal Science Advances. Temuan mereka menunjukkan orangutan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi.
âTemuan ini menunjukkan bagaimana orangutan Kalimantan liar beradaptasi terhadap perubahan lingkungan mereka dengan menyesuaikan asupan nutrisi, perilaku, dan penggunaan energi mereka,â kata Erin Vogel, Profesor Ketua Henry Rutgers Term di Departemen Antropologi di Sekolah Seni dan Sains, yang memimpin penelitian tersebut.
âPenelitian ini menyoroti pentingnya memahami pola makan alami dan dampaknya terhadap kesehatan, baik bagi orangutan maupun manusia,â ujar dia dikutip dari Science Daily.
Menurut Vogel, orangutan adalah salah satu kerabat terdekat manusia yang masih hidup, dan memiliki nenek moyang yang sama. Hubungan evolusioner ini berarti orangutan dan manusia memiliki proses fisiologis dan metabolisme, kebutuhan nutrisi, dan adaptasi perilaku yang serupa.
Dengan mempelajari orangutan kata Vogel dapat memberikan wawasan tentang adaptasi evolusioner yang mungkin juga relevan bagi manusia. Menurut dia manusia juga menunjukkan fleksibilitas metabolisme, tetapi pola makan modern yang kaya akan makanan olahan dapat mengganggu keseimbangan ini, yang menyebabkan gangguan metabolisme seperti diabetes.
âMeskipun orangutan mengurangi aktivitas fisik selama periode buah rendah untuk menghemat energi,â kata Vogel. âManusia, terutama yang memiliki gaya hidup sedentari, mungkin tidak menyesuaikan pengeluaran energi mereka dengan asupan kalori, yang menyebabkan penambahan berat badan dan masalah kesehatan terkait,â ujarnya.
âMemahami adaptasi ini dapat membantu kita mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana manusia dapat mengelola pola makan dan kesehatan mereka,â kata Vogel. âHal ini juga menyoroti pentingnya melestarikan habitat orangutan untuk memastikan kelangsungan hidup mereka,â tambahnya.
Penelitian tersebut dilakukan di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan di Kawasan Konservasi Mawas di Kalimantan Tengah, Indonesia, di Pulau Kalimantan. Kawasan konservasi tersebut, sebuah hutan rawa gambut, melindungi sekitar 764.000 hektar, sebuah area yang kira-kira seukuran Rhode Island.
Hutan gambut merupakan ekosistem purba yang kaya akan keanekaragaman hayati dengan lanskap yang didominasi oleh pepohonan tergenang air yang tumbuh di atas lapisan daun dan tumbuhan yang telah mati.
âMemahami strategi pola makan orangutan dapat memberikan informasi bagi praktik nutrisi yang lebih baik bagi manusia,â kata Vogel, yang juga merupakan direktur Pusat Studi Evolusi Manusia di Rutgers.
âIntinya, penelitian tentang orangutan menggarisbawahi pentingnya keseimbangan pola makan dan fleksibilitas metabolisme, yang krusial untuk menjaga kesehatan orangutan dan manusia,â terang Vogel.
âPenelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan modern, yang ditandai dengan tingginya konsumsi makanan olahan yang kaya gula dan lemak, dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme dan masalah kesehatan,â paparnya.
Dalam studi sebelumnya, Vogel dan tim kolega internasional menetapkan pola makan orangutan. Orangutan lebih suka makan buah karena kaya karbohidrat, tetapi ketika buah langka, mereka beralih ke lebih banyak daun, kulit kayu, dan makanan lain.
Cara tersebut untuk tetap dapat memperoleh lebih banyak protein dan lebih sedikit karbohidrat manis. Saat buah tersedia dalam jumlah banyak pada musimnya, orangutan tetap mengonsumsi protein tetapi mendapatkan sebagian besar energinya dari karbohidrat dan lemak dalam buah.
âKami ingin mengetahui bagaimana tubuh mereka menangani perubahan ini,â kata Vogel. Â
âKami menguji bagaimana ketersediaan buah memengaruhi pola makan mereka dan bagaimana tubuh mereka beradaptasi untuk menghindari ketidakseimbangan energi. Kami mengamati bagaimana mereka beralih di antara berbagai jenis bahan bakar seperti lemak dan protein ketika ketersediaan makanan yang disukai berubah,â jelasnya.
Untuk melakukan penelitian ini, Vogel, rekan peneliti, mahasiswa, dan staf yang sebagian besar terdiri dari teknisi lapangan asli Pulau Kalimantan. Mereka mengumpulkan data selama lebih dari satu dekade tentang apa yang dimakan orangutan setiap hari.
Mereka juga menganalisis urin urangutan untuk melihat bagaimana tubuh mereka merespons perubahan nutrisi. Hal ini mengharuskan mereka untuk tetap berada di dekat kera di hutan khatulistiwa yang lembap, dari fajar hingga malam.
Vogel menuturkan dari penelitian tersebut para ilmuwan menghasilkan sejumlah temuan kunci sebagai berikut:
Orangutan menghindari obesitas sebagai bagian dari respons terhadap fluktuasi signifikan  baik dalam skala maupun durasi ketersediaan buah di habitat alami mereka. Tidak seperti manusia di budaya Barat, yang memiliki akses konstan ke makanan berkalori tinggi, orangutan mengalami periode kelimpahan sekaligus kekurangan.
Periode kekurangan dan asupan kalori rendah yang diakibatkannya, serupa dengan puasa intermiten pada manusia. Hal ini menurut peneliti membantu menjaga kesehatan mereka dengan mengurangi stres oksidatif.
Stres oksidatif adalah keadaan di mana jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya. Akibatnya intensitas proses oksidasi sel-sel tubuh normal menjadi semakin tinggi dan menimbulkan kerusakan yang lebih banyak.
Selama periode kekurangan buah, orangutan menunjukkan fleksibilitas metabolisme, beralih menggunakan lemak tubuh dan protein otot yang tersimpan untuk energi. Hal ini memungkinkan mereka bertahan hidup saat makanan langka.
Sementar iatu selama periode kekurangan buah, orangutan menunjukkan kemampuan adaptasi perilaku, mengandalkan aktivitas fisik yang berkurang serta energi dan otot yang tersimpan untuk menghemat energi. Mereka lebih banyak beristirahat, tidur lebih awal, lebih jarang bepergian, dan menghabiskan lebih sedikit waktu dengan orangutan lain. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Jelang Libur Imlek, Puluhan Bus di Terminal Kalideres Jalani Ramp Check
-
Lebaran Topat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat di Lombok Tengah
-
Diversifikasi Ekonomi Harus Dipacu, OJK Bali Kembangkan Pertanian sebagai Pilar Baru, Jangan Hanya Bertumpu pada Pariwisata!
-
Juventus Terancam Absen di Liga Champions Musim Depan
-
Pemerintah Jabar Fokus Lunasi Tunggakan BPJS Kesehatan Sebelum 2027
-
Peluncuran Ponsel Emas Trump Seharga $499 Ditunda
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.