Pengamat: Ketidakpekaan Pemerintah dan DPR adalah Akar dari Aksi Anarkis Massa
Senin, 01 Sep 2025, 14:23 WIBJAKARTA - Aksi protes yang berubah menjadi kekerasan di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia pada hari Jumat (29/8) merupakan puncak dari rasa frustrasi publik terhadap para anggota parlemen, yang dianggap tidak peka terhadap kesulitan yang dihadapi masyarakat biasa, kata para analis.
Dari Channel News Asia, rasa frustrasi itu memuncak setelah kekerasan polisi merenggut nyawa seorang pengemudi taksi sepeda motor selama aksi unjuk rasa pada hari Kamis menentang kenaikan tunjangan anggota parlemen, yang memicu massa yang marah untuk menyerang kantor polisi dan gedung parlemen nasional.
Para analis memperingatkan, kerusuhan tersebut dapat memicu efek domino yang pada akhirnya dapat mengancam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto jika pemerintah gagal bertindak tegas.
Seruan Prabowo pada Jumat pagi agar dilakukan investigasi terhadap kekerasan polisi dianggap hanya formalitas belaka karena para pengunjuk rasa turun ke jalan pada hari yang sama. Para analis berpendapat bahwa presiden harus mengambil langkah konkret untuk mengakhiri pelanggaran tersebut dan menunjukkan bahwa pemerintahnya benar-benar mendengarkan keluhan masyarakat.
"Prabowo tampaknya berada dalam gelembungnya sendiri. Ia tampak terpisah dari kenyataan di lapangan, yang membuat pernyataannya terdengar normatif, bahkan ketika kemarahan publik telah mencapai titik didih," ujar Kunto Adi Wibowo, analis politik di Universitas Padjadjaran, kepada CNA.
âPernyataan tersebut pada akhirnya gagal mencapai tujuannya untuk menenangkan publik.â
Kemarahan pada DPR dan Polisi
Sabtu pagi, warga Jakarta terbangun dan mendapati puing-puing kerusuhan sehari sebelumnya. Rangka-rangka mobil yang terbakar berserakan di jalan di depan Markas Brigade Mobil di Kwitang, Jakarta Pusat.
Halte bus dan pos polisi di sejumlah wilayah di Jakarta hancur menjadi abu, sisa-sisanya yang menghitam berdiri sebagai pengingat suram bentrokan yang berkecamuk dari hari Jumat hingga dini hari Sabtu.
Sementara itu, tembok-tembok Markas Besar Kepolisian Daerah Metro Jaya dan pagar-pagar gedung DPR/MPR dipenuhi coretan grafiti antipolisi.
Pada Sabtu pagi, bentrokan singkat terjadi di luar markas Brigade Mobil di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, di mana polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan puluhan pengunjuk rasa yang mengendarai sepeda motor.
Di luar Jakarta, demonstrasi juga meletus di beberapa kota lain di Indonesia sebagai ungkapan kemarahan atas kematian Affan Kurniawan.
Affan, 21 tahun, tewas pada Kamis malam setelah ditabrak dan dilindas oleh kendaraan lapis baja polisi yang dikerahkan untuk membubarkan para pengunjuk rasa. Saat itu, ia sedang mengantar pesanan makanan dan tidak ikut dalam aksi protes.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, tiga orang tewas pada hari Jumat ketika ratusan pengunjuk rasa membakar gedung DPRD provinsi .
Puluhan mobil juga dibakar di jalan luar.
Kerusuhan serupa, meskipun tanpa korban jiwa, juga meletus di Surabaya, Bandung, Solo, dan Yogyakarta.
Di Malang, Jawa Timur, ditemukan sisa-sisa protes di beberapa pos polisi setempat - sedikitnya empat pos diobrak-abrik dan dibakar.
Di satu pos, jendela-jendela pecah dan rambu-rambu hancur - dengan tentara terlihat di lokasi pada hari Sabtu membersihkan pecahan kaca, perabotan yang rusak, dan puing-puing bangunan.
Supriyanto, seorang petugas parkir di pusat perbelanjaan tempat pos polisi rusak parah, mengatakan dia "mencium bau bensin yang pasti digunakan massa untuk membakar pos tersebut".
Sementara itu, situasi di Jakarta dan beberapa wilayah lain di Indonesia masih sangat labil, dengan kemungkinan bentrokan baru terjadi kapan saja.
Para analis mengatakan, kematian Affan menambah panasnya aksi protes, mengalihkan tuntutan dari menentang kenaikan tunjangan anggota parlemen menjadi protes yang lebih luas terhadap kebrutalan polisi.
âEskalasi ini sudah bisa diprediksi,â kata Ambang Priyonggo, analis politik di Universitas Multimedia Nusantara.Â
âAkumulasi rasa frustrasi masyarakat terhadap elite politik yang kebijakannya tidak berpihak kepada rakyat, ditambah lagi dengan meninggalnya Affan, semakin memperparah keresahan ini,â imbuh Ambang.
Para analis mengatakan peningkatan tunjangan perumahan anggota parlemen menjadi 50 juta rupiahhampir 10 kali upah minimum Jakarta â terjadi pada saat rakyat Indonesia sedang berjuang dengan penghematan pemerintah, kesempatan kerja yang langka, dan ancaman PHK massal.
Beberapa anggota parlemen menanggapi protes publik dengan pernyataan yang secara luas dianggap tidak pantas.
Ahmad Sahroni, seorang legislator dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem), misalnya, mencap mereka yang menuntut pembubaran parlemen sebagai âorang terbodoh di dunia.â
âMasalah utamanya adalah ketidakpekaan,â kata Ambang.
- aksi massa
- Presiden Prabowo
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Selandia Baru Hajar Chile, Catat Kemenangan Bersejarah Jelang Piala Dunia
-
Manchester United Taklukkan Aston Villa 3-1 di Old Trafford
-
Hunian Sementara untuk Penyintas Bencana di Maninjau Mulai Ditempati
-
Legislator Dorong Revisi UU Pangan
-
Di Sidang Kabinet, Presiden Prabowo Minta Persiapan Lebaran Benar-Benar Matang
-
Presiden hadiri Indonesia Economic Outlook 2026
-
Jamkrindo Gelar Safari Ramadan Bagikan Ribuan Sembako dan Santunan
Berita Terbaru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.