Menjaga Harmoni Kreator Seni dan Pelaku Usaha
Jumat, 29 Agu 2025, 00:00 WIBPolemik royalti musik mencerminkan ketegangan klasik antara kepentingan kreator dan pelaku bisnis. Jika tidak dikelola dengan tepat, kebijakan royalti bisa menciptakan friksi antara sektor kreatif dan sektor usaha, padahal keduanya saling membutuhkan.
Dari sisi musisi, keluhan Ari Lasso menggambarkan persoalan serius mengenai transparansi dan keadilan distribusi royalti. Royalti seharusnya menjadi instrumen utama bagi seniman untuk memperoleh kompensasi layak atas karya yang dimanfaatkan secara komersial. Namun, ketidakjelasan prosedur dan mekanisme pembayaran menimbulkan ketidakpercayaan, yang pada akhirnya dapat melemahkan motivasi kreatif musisi.
Di sisi lain, pelaku bisnis seperti hotel dan restoran merasa terbebani oleh skema perhitungan royalti yang dianggap terlalu tinggi. Bagi mereka, beban tambahan ini berpotensi menekan margin keuntungan, terlebih di tengah iklim persaingan ketat dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Karenanya, polemik ini menegaskan pentingnya reformasi tata kelola royalti yang lebih transparan, adil, dan adaptif sehingga ekosistem musik dapat berkembang sehat sembari menjaga keberlanjutan sektor bisnis yang turut menjadi kanal pemanfaatan karya seni. Untuk mengetahui bagaimana strategi pemerintah menjembatani polemik tersebut, berikut kutipan wawancara wartawan Koran Jakarta, Frederikus W Sabini dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dalam beberapa kesempatan.
Polemik mengenai royalti musik, terutama bagi pencipta lagu, masih menghiasai ruang publik. Bagaimana respons Anda?
Itu kita lagi proses aja sih. Karena masalah itu bukan hanya di bawah (Kementerian) Ekraf (Ekonomi Kreatif) doing. Hal itu juga melibatkan kementerian lain, termasuk Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan beberapa pihak terkait.
Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto juga sudah mendorong LMKN dan Kementerian Hukum untuk mempercepat birokrasi dan mendorong beberapa perubahan dalam undang-undang yang kiranya bisa lebih adil kepada pencipta lagu terkait royalti.
Jadi, kami minta masyarakat untuk bersabar dan bersama-sama mengawal dan mendukung proses yang sudah berjalan di kementerian. Ini sudah berproses,namanya birokrasi agak sabar ya, kita harus merubah beberapa hal dan ini sudah mengalami kemajuan. Mohon doanya dan dukungannya.
Haruskah restoran ikut menanggung beban perlindungan hak cipta musik?
Seharusnya tidak dikenakan biaya lagi. Kami juga berharap ada kejelasan hukum untuk pelaku usaha maupun pencipta lagu yang berkarya. Itu yang sedang diupayakan kementerian.
Tapi kalau bayar ataupun tidak pun juga itu harus ada kejelasan hukum buat teman-teman. Kalau nggak (ada paying hukum) kita susah juga kan. Saya juga turut memahami kalau bisnis atau yang berkarya atau kreator juga perlu ada kejelasan dari segi hukum. Jadi, hal itu yang kita perjuangkan agar tercipta situasi yang sehat, terutama bagi industri musik.

KORAN JAKARTA/WAHYU APBagaimana agar kekayaan intelektual itu lebih berkontribusi pada negara?
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan oleh ekosistem agar intellectual property atau kekayaan intelektual bisa memiliki kontribusi yang optimal pada perekonomian negara. Hal pertama yang bisa dilakukan ialah dari konsumen sebagai penikmat produk kekayaan intelektual harus bisa membeli produk itu dengan jalur legal dan tidak melakukan pembajakan.
Kedua, menekankan pada produk kekayaan intelektual bisa berkontribusi pada perekonomian ialah dari sisi pengembang produk terkait.
Agar bisa meningkatkan keterlibatan pemilik kekayaan intelektual mendaftarkan produknya ke otoritas berwajib, Kementerian Ekraf juga secara rutin menghadirkan program pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) secara gratis.
Ini sudah kita lakukan cukup bertahun-tahun di Indonesia di mana kita menyelenggarakan kesadaran tersebut, meningkatkan hal tersebut, dan juga memfasilitasi pendaftaran HAKI-nya sendiri. Itu sudah dilakukan.
Sejauh mana kebijakan Kemenkraf mampu mendorong musik Indonesia menjadi kekuatan ekonomi kreatif?
Kementerian Ekonomi Kreatif terus berkomitmen memperkuat rantai nilai karya kreativitas, khususnya subsektor music. Dalam mendukung hal tersebut, Kemenekraf berkolaborasi dengan Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI), yang merupakan organisasi serikat profesi musisi sebagai gabungan dan koordinator dari 8 serikat musisi di wilayah Indonesia yang sudah resmi secara hukum sejak 2020.
Kolaborasi itu mendukung talenta-talenta kreatif yang memperkuat ekosistem musik nasional, salah satunya terwujud dalam kegiatan âASIK, Kemerdekaan!â. Kami berharap kolaborasi pemerintah dan FESMI dapat menjadi inspirasi bagi sesama pejuang ekraf dari industri musik.
Apa keuntungan nyata bagi musisi bergabung dengan serikat musik?
Serikat musik ini menjadi sesuatu yang bagus untuk lebih gampang berkoordinasi apalagi banyak musisi Indonesia yang skalanya internasional. Kementerian Ekraf bukan hanya memperjuangkan terkait royalti saja, ada nilai atau value yang harus tetap dipertahankan sehingga semua elemen musik punya daya guna memenuhi hasil ekonomi.
Kami juga akan terus melakukan kolaborasi lintas sektor dan lintas kementerian sehingga perlu sinkronisasi untuk mencari solusi atau kebijakan yang tepat.
Bagaimana pandangan anda terkait perpaduan konser musik dan budaya tradisional seperti Snada Indonesia merupakan pertunjukan musik yang memadukan fesyen dan kolaborasi dengan orkestra asal Yogyakarta Oktober mendatang?
Saya mengapresiasi pertunjukan konser musik yang menggabungkan kreativitas Indonesia tidak hanya pada suara, namun, juga budaya tradisional yang kaya sehingga bisa menempatkan Indonesia di panggung global.
Ini adalah kolaborasi yang luar biasa, bukan hanya musik kita punya suara itu luar biasa banget, bukan hanya dari pakaian kita yang sudah dikenali secara global. Saya yakin dengan dukungan dari teman-teman media, yang antusias terhadap musik, terhadap kebudayaan di Indonesia.
Ide menggabungkan konser musik dengan budaya tradisional adalah unik karena tidak hanya menyuguhkan budaya Indonesia di panggung, tapi, juga menggandeng seniman lokal dan orkestra yang menunjukkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Pertemuan antara musisi tanah air dengan musisi internasional, yang juga akan digabungkan dengan seniman lokal dan pertunjukan fesyen, akan menjadikan sebuah gebrakan yang bisa menjadi panggung baru para pegiat ekonomi kreatif. Acara seperti itu akan melahirkan apresiasi utamanya bagi pejuang ekonomi kreatif yang nantinya akan lahir dan siap untuk mendunia.
Kami juga mengapresiasi kolaborasi dengan sektor sekuritas yang bisa mengajak pejuang ekonomi kreatif untuk memikirkan sumber pendapatan lainnya selain dari kreasi yang menjadi mata pencaharian mereka. Diharapkan sektor sekuritas juga bisa memberikan edukasi tentang perencanaan keuangan yang dapat membantu kehidupan ekonomi pelaku ekonomi kreatif.
Band terkemuka di tanah air melakukan tur ke luar negeri, misalnya yang dilakukan Wali bertajuk "Wali Cari Jodoh ke Asia". Bagaimana tanggapan Anda melihat ini?
Tur band Indonesia ke luar negeri adalah bentuk konkret bahwa industri kreatif nasional bukan lagi sekadar potensi, melainkan sudah siap bersaing secara global.
Kalau buat saya, konser musik band Indonesia di luar negeri adalah bukti nyata. Ini bukan lagi potensi. ekonomi kreatif kita sudah nyata di depan mata, tinggal perlu kita dorong lebih kuat
Langkah Wali melakukan tur internasional mencerminkan kualitas musisi Indonesia yang telah matang dan siap tampil di panggung global.
Ini adalah bentuk internasionalisasi kreator lokal. Siapa bilang Indonesia masih harus inkubasi? Itu tidak benar. Band seperti Wali sudah saatnya go international.
Tur ini juga disebut sebagai momentum untuk membangun semangat pelaku industri musik lainnya agar semakin percaya diri dalam berkarya dan melangkah keluar negeri.
Kami berharap lebih banyak musisi Indonesia mengikuti langkah ini dan aktif menggelar tur, baik di dalam maupun luar negeri. Musisinya harus punya tur sehingga dari kegiatan tersebut akan muncul inspirasi baru dan karya baru.
Kami mengimbau seluruh pemangku kepentingan di industri kreatif, khususnya di bidang musik agar bersatu padu mempublikasikan jadwal panggung di berbagai kesempatan. Kementerian Ekonomi Kreatif siap membantu mempromosikan, baik nasional maupun internasional.
Saya juga tekankan pentingnya kolaborasi antar kementerian, termasuk peran Kementerian Luar Negeri dalam menghubungkan diaspora Indonesia di berbagai negara. Mandat Presiden Prabowo jelas, tidak boleh ada ego sektoral. Kita harus bersatu, menuju Indonesia emas.
Bagaimana tanggapan anda terkait pelestarian tradisi?
Upaya pelestarian tradisi dapat menjadi pendorong inovasi. Khususnya pada bidang ekonomi kreatif yang merupakan mesin baru pertumbuhan Indonesia. Kreativitas adalah the new engine of growth bagi bangsa kita. Tidak hanya soal inovasi dan pasar, tetapi juga keberlanjutan, budaya, dan keberagaman.
Saya mengapresiasi Festival Merah Putih "Jejak Merah Putih" yang menampilkan kolaborasi unik mulai dari tenun Nusantara, kuliner, hingga karya seni anak autisme. Menurutnya festival ini memperlihatkan betapa luasnya ruang bagi ekonomi kreatif Indonesia untuk tumbuh. Dari kuliner, fesyen, perhiasan, hingga seni rupa. Semua saling melengkapi dalam membentuk ekosistem yang inklusif.
Ajang ini mengangkat semangat kemerdekaan melalui kolaborasi lintas budaya, wellness, hingga kreativitas. Festival ini juga menampilkan potensi kuliner, fesyen, dan perhiasan dalam negeri.
Melalui Festival Merah Putih, Kementerian Ekraf menegaskan kembali komitmennya menghadirkan ekosistem ekonomi kreatif yang berdaya saing dan inklusif. Hal ini hanya dapat terwujud lewat kolaborasi hexahelix melibatkan pemerintah, pegiat ekraf, akademisi, komunitas, media, dan sektor finansial sebagai fondasi menuju kejayaan bangsa di 2045.
Selain royalti musik, pertengahan bulan ini, film animasi Merah Putih: One for All juga sempat memicu kritik keras dari masyarakat. Banyak warganet mengkiritisi biaya produksi film animasi tersebut yang menelan dana hingga 6,7 miliar rupiah. Bagaimana pandangan Anda?
Kementerian Ekraf tak memberikan bantuan finansial atau fasilitas produksi terhadap film animasi Merah Putih: One for All. Kami hanya menerima audiensi produser dan memberikan masukan saja.
Saya sendiri menerima audiensi tim produksi film beberapa waktu lalu di mana saya menyampaikan beberapa masukan dari saya termasuk teknikal terkait cerita, character looks and feels, trailer, dan lain-lain. Hal ini selalu saya lakukan di setiap audiensi dengan semua pihak supaya setiap audiensi saya bisa mendengar langsung dari pelaku industri dan memberikan feedback berdasarkan pengalaman pribadi.
- royalti musik
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
PLN Gerak Cepat Ulurkan Bantuan Korban Bencana Banjir
-
Hakim MK Sindir Keras Perkara Royalti Lagu: Kalau Gitu, Ahli Waris WR Supratman Paling Kaya di RI!
-
PHE Dorong Potensi Energi di Wilayah Indonesia Timur, Produksi Gas Dipacu
-
Waode Rilis Single Religi Perdana 'Demi Masa' Ciptaan Penyanyi Legendaris Ivo Nilakreshna
-
Kantor Pos gelar Operasi Pangan Murah di Natuna
-
Polisi Ajak Pelajar Jadi Duta Perubahan dengan Jauhi Tawuran, Narkoba, dan Bijak Gunakan Medsos
-
Karet Sumut Laris Manis di Pasar Global, Ekspor Mei 2025 Tembus Puluhan Ribu Ton
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.