Bukit Batu Daya, Monolit Raksasa Sisa Intrusi Magma Purba

Jumat, 29 Agu 2025, 07:58 WIB

BUKIT Batu Daya demikian namanya adalah batuan tunggal yang tinggi menjulang dikelilingi perkebunan.

Bukit Batu Daya di Kayong Utara sebuah fenomena geologi purba mirip dengan Ayers Rock yang ada di Uluru Australia. Batu ini juga mirip dengan mirip dengan Bukit Kelam yang berada di tengah Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Ket. Foto: Salah satu bukit batu raksasa yang berada di daerah Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat ini menjadi favorit untuk beberapa pendaki. Memiliki tinggi sekitar 958 meter, Bukit Daya dapat diakses sekitar 5 - 6 jam dari pusat kota Ketapang. — Sumber: Foto: Pemerintah Desa Tanjung Medan

Batuan masif ini menjadi ikon wisata kabupaten itu. Lokasinya berada di perbatasan Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten di Kayong Utara dengan Kecamatan Sungai Laur di Kabupaten Ketapang. Sebelum pemekaran Kayong Utara dulu pernah menjadi bagian dari Kabupaten Ketapang.

Di wilayah yang rata-rata cenderung datar Bukit Batu Daya terlihat tanpa halangan dari kejauhan. Wujudnya begitu menonjol dan menjadi ikon di wilayah ini. Ketinggian puncaknya mencapai 958 meter di atas permukaan air laut (mdpl), lebih rendah 17 meter dari Bukit Kelam yang puncaknya mencapai 1002 mdpl. 

Bagi para pecinta alam dan pemanjat tebing Bukit Batu Daya menjadi primadona, karena selama ini biasa dijadikan tempat latihan memanjat. Apalagi tebing yang ada di sini sangat menantang dan menguji adrenalin mereka.

Nama “Bukit Batu Daya” muncul karena bukit ini bisa menipu mata siapa saja yang melihatnya. Pasalnya bukit ini selalu memiliki tampilan berbeda tergantung dari arah mana melihatnya. Jika dilihat dari arah timur bentuknya seperti punggung unta yang memiliki punuk, sehingga sering disebut “Bukit Unta.”

Bagian batu terbesar yang ada merupakan bagian punuk unta diberi nama Batu Daya. Batu kedua yang berada di belakang Batu Daya disebut Kuang Kande. Terakhir bagian kepala unta diberi nama Belah Hulu dengan ketinggian sekitar 400-700 meter.

Selain seperti punggung unta dari sisi lain batuan ini menawarkan bentuk yang berbeda. Kadang seperti persegi empat yang pendek. Pada sisi lain terlihat seperti beberapa bukit berbentuk kerucut yang berkumpul.

Intrusi Magma

Secara geologi batu Bukit Daya bisa dijelaskan sebagai sisa-sisa dari batuan vulkanik yang mengalami pelapukan. Pulau Kalimantan termasuk ke dalam Sundaland, yaitu bagian kerak benua tua yang saat ini telah memasuki masa stabil atau kraton (craton).

Kraton yang dalam bahasa Yunani berarti kekuatan merupakan bagian yang tua dan stabil dari litosfer benua. Karena kemampuannya bertahan dalam siklus memisah dan menggabungkan benua, kraton umumnya ditemukan dalam interior lempeng ­tektonik.

Istilah kraton secara karakteristik terdiri dari kristal batuan dasar purba, yang mungkin terlindungi oleh batuan sedimen yang lebih muda. Bagian benua ini memiliki kerak tebal dan akar litosferik yang dalam yang memanjang sejauh beberapa ratus kilometer di dalam mantel Bumi.

Di beberapa wilayah Kalimantan, batuan granit yang merupakan penyusunnya berasal dari masa Pra-Tersier atau diperkirakan berasal dari Era Mesozoikum atau Tersier Awal. Proses terbentuknya kira-kira sekitar 200–50 juta tahun lalu, oleh proses intrusi magma.

Intrusi terjadi ketika magma dari dalam bumi menyusup ke dalam kerak benua, tetapi tidak sampai keluar sebagai gunung api. Magma itu kemudian membeku di dalam bumi secara perlahan, sehingga terbentuk batu granit dalam ukuran yang masif.

Setelah magma membeku menjadi granit, lapisan tanah dan batuan penutup di atasnya terus mengalami erosi oleh hujan, angin, dan pelapukan oleh sinar matahari. Karena granit lebih keras dibandingkan batuan di sekitarnya, maka bagian granit ini tersisa sebagai tonjolan di permukaan.

Proses geologi seperti ini menghasilkan apa yang disebut “inselberg,” bukit tunggal yang menonjol di dataran rendah atau disebut juga monolit. Tapi sayangnya dataran rendah di sekitarnya tidak lagi berupa hutan seperti di Bukit Kelam namun kini telah berubah menjadi hamparan perkebunan tanaman sawit.

Bentuknya yang bulat dan halus terjadi karena proses spheroidal weathering atau pelapukan melingkar pada granit. Seiring waktu, rekahan alami di dalam granit terkikis oleh air dan suhu tropis yang panas dan lembah, membuat sisinya membulat seperti kubah atau tidak lagi ­meruncing.

Boleh dikatakan Batu Bukit Daya adalah hasil dari magma purba yang membeku jauh di bawah tanah, lalu terkuak dan menonjol ke permukaan karena proses erosi selama jutaan tahun. 

Batu Bukit Daya menjadi bukti bahwa pada masa purba, Pulau Kalimantan juga memiliki gunung-gunung api aktif. Selama jutaan tahun gunung-gunung berapi itu mengalami proses kematian disusul pelapukan, yang jejaknya kini tidak lagi mudah terlihat.

Mitos

Selain penampakan yang unik, Bukit Batu Daya juga punya mitos yang beredar di masyarakat sekitar. Kono dahulu ada seorang ibu serta anaknya yang berusia 3 tahun tinggal di wilayah tersebut. Daya demikian namanya harus hidup berdua karena suaminya sudah meninggal sejak Daya belum lahir.

Karena mereka hanya berdua saja, jadi si ibu selalu mengajak anaknya kemanapun dia pergi. Suatu hari, mereka pergi ke sungai untuk mencuci baju. Si ibu menyuruh Daya menunggu di atas sungai sampai dia selesai mencuci.

Saat sibuk membersihkan baju, Daya memanggil-manggil ibunya karena ada masalah yang dihadapi. Sayang sekali, ibunya tidak pernah bisa mendengar panggilan tersebut sampai ia tidak lagi dapat berucap sepenuhnya.

Ketika sang ibu ketika menoleh ke arah batu tempat dia menyuruh Daya menunggu, tiba-tiba anak itu sudah berubah menjadi batu yang sangat besar dan tinggi seperti gunung. Dari cerita inilah yang juga membuat bukit ini dinamakan Batu Bukit Daya.

Sampai saat ini masyarakat Bukit Batu Daya selalu mengadakan ritual secara rutin setiap tahunnya sebagai warisan kearifan lokal. Mereka yakin, bukit tersebut adalah bukit keramat yang keberadaannya harus dijaga. Selain itu, ritual tersebut juga merupakan usaha untuk melestarikan warisan budaya leluhurnya.

Untuk bisa sampai ke Bukit Batu Daya bisa lewat Kota Pontianak dengan menggunakan jalur darat menuju ke Aur Kuning. Perjalananan ini menempuh waktu melalui Sungai Laur selama 4-5 jam. Jika ingin beristirahat di wilayah ini terdapat beberapa penginapan yang bisa disewa untuk beristirahat.

Dari ibu kota Sungai Laur harus menempuh perjalanan lagi sekitar 1 jam ke lokasi bukitnya. Pemerintah setempat merekomendasikan wisatawan menggunakan jalur darat karena aksesnya lebih mudah dan waktu tempuhnya lebih cepat, sehingga masih memiliki tenaga untuk menjelajahinya.

Perjalanan panjang tersebut diklaim tidak akan sia-sia. Di lokasi tersebut  bisa menyaksikan sebuah monolit granit raksasa yang tinggi menjulang dan sangat langka di Indonesia. Hal ini merupakan sebuah fenomena geologi purba yang langka di Indonesia, umumnya hanya bisa dijumpai di Kalimantan.

Batu Bukit Daya merupakan menawarkan panorama unik, bareka batuan tunggal yang memadukan warna gelap dan terang itu begitu menonjol di tengah dataran hijau. Panoramanya yang indah dipandang bisa menjadi latar belakang foto yang ­berkesan. hay

  • Monolit Raksasa

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.