• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kotoran Ungkap Dinosaurus ...

Kotoran Ungkap Dinosaurus Berkuasa Selama 165 Juta Tahun

Kamis, 28 Agu 2025, 07:48 WIB

DINOSAURUS merupakan hewan yang megah, menggelegar, dan berkuasa pada zamannya. Langkah kakinya yang perkasa dan teriakan merdu pernah bergema di seluruh planet ini. Kebangkitan dinosaurus menuju dominasi yang berlangsung selama 165 juta tahun kini telah dipetakan melalui fosil kotoran dan muntahan yang ditinggalkan.

Dengan mengumpulkan ratusan fosil makanan dinosaurus yang dicerna dan tidak dicerna sebuah kategori yang secara kolektif dikenal sebagai bromalit para ahli paleontologi telah mampu memberikan gambaran yang lebih rinci tentang kemunculan dinosaurus dengan tingkat detail yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Ket. Foto: Gigi Europasaurus, dinosaurus yang mirip dengan Diplodocus, di batu kapur, ditemukan di tambang Langenberg di Pegunungan Harz yang juga dianalisis dalam penelitian tersebut. — Sumber: Thomas Tütken/ Universitas Georg August

Di dalam harta karun pencernaan yang tidak lazim ini, ahli paleontologi Martin Qvarnström dari Universitas Uppsala di Swedia dan rekan-rekannya telah berhasil merekonstruksi jaring makanan dinosaurus di Cekungan Polandia 200 juta tahun yang lalu. Hasilnya, kata peneliti merupakan alat baru untuk memahami bagaimana dinosaurus hidup dan bertahan hidup di dunia yang sangat berbeda dengan dunia saat ini.

“Hasil kami mengonfirmasi bahwa kebangkitan dinosaurus itu kompleks dan berlangsung secara bertahap selama 30 juta tahun,” ujar Qvarnström kepada ScienceAlert.

“Hal ini dipengaruhi oleh tingkat oportunisme (kerabat dinosaurus awal pertama dan herbivora pertama memiliki pola makan yang sangat umum) tetapi juga kompetisi. Dinosaurus beradaptasi dengan baik dan kurang rentan terhadap dampak perubahan iklim dibandingkan banyak dinosaurus sezaman mereka,” ucapnya.

Tulang memberi tahu banyak hal tentang dinosaurus. Para peneliti dapat merekonstruksi kerangka mereka dan mencari tahu seperti apa rupa mereka, bagaimana mereka hidup, dan jenis makanan apa yang mungkin mereka andalkan. Namun, ada banyak hal yang tidak dapat diungkapkan oleh tulang.

Para ahli tidak tahu secara spesifik pola makan tersebut, bagaimana mereka mungkin melengkapi makanan pokok mereka, atau bagaimana mereka mungkin bersaing untuk mendapatkan sumber daya. Qvarnström dan timnya menyadari kekurangan itu bahwa bromalit mungkin merupakan sumber daya yang belum dimanfaatkan dalam hal ini.

Ia dan rekannya, Grzegorz Niedźwiedzki, melakukan studi percontohan kecil beberapa tahun yang lalu, dan menemukan banyak sekali sisa-sisa makanan yang terawetkan dengan baik. Sejak itu, minatnya semakin mendalam.

“Kita tidak akan pernah bisa yakin tentang pola makan dan perilaku makan hewan yang punah jika kita tidak mengamati bromalit,” jelasnya.

“Tentu, kita bisa menebak, tetapi menganalisis bromalit memberi kita bukti langsung tentang apa yang dimakan hewan. Kami menemukan banyak kejutan di sepanjang perjalanan yang tidak akan pernah kami duga hanya dari catatan tulang fosil,” ujar dia. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.