Revitalisasi Harmoni dan Kota Tua akan Berjalan Seiring MRT Jakarta Fase 2A

Rabu, 27 Agu 2025, 12:15 WIB

JAKARTA - PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menggencarkan upaya revitalisasi kawasan bersejarah Harmoni dan Kota Tua seiring dengan pembangunan proyek MRT Fase 2A. Konsep kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) diterapkan untuk mengintegrasikan stasiun MRT dengan lingkungan sekitar sehingga menjadi pusat budaya sekaligus motor pertumbuhan ekonomi baru.

Kepala Divisi Engineering MRT Jakarta, Riska Muslimah, menjelaskan dalam MRTJ Fellowship Program 2025 bahwa setiap stasiun MRT dirancang dengan visi unik yang menyesuaikan karakter kawasan. Hal itu diharapkan bukan hanya menghadirkan moda transportasi modern, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi sosial dan budaya di titik-titik bersejarah.

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta / Paundra Zakirulloh

Stasiun Kota, misalnya, mengusung visi "Permata Utara Jakarta" dengan tujuan menghidupkan kembali kawasan wisata sejarah dan budaya. Strategi revitalisasi akan difokuskan pada pengaktifan Plaza BEOS sebagai ruang publik yang terhubung langsung dengan stasiun. Selain itu, arus kendaraan di sekitar kawasan akan direduksi untuk memberi ruang lebih ramah bagi pejalan kaki.

"Kami akan menghidupkan kembali Plaza BEOS supaya hidup lagi menjadi bagian dari ruang publik, kemudian kami juga ada tim peremajaan kanal dan seterusnya, jadi menarik untuk area Kota ini," ujar Riska.

Tidak hanya itu, Jalan Pintu Besar yang menghubungkan Jalan Gajah Mada dengan Kota Tua akan ditutup bagi kendaraan pribadi. Akses jalan ini hanya dibuka untuk pejalan kaki dan transportasi umum berupa bus sehingga memberi pengalaman wisata yang lebih nyaman bagi pengunjung.

MRT Jakarta juga berencana membangun galeri ikonik di koridor Stasiun Kota. Galeri ini akan menampilkan karya seni, peninggalan sejarah, hingga revitalisasi kanal dengan penerapan strategi zero run off guna mengurangi potensi banjir. Desain stasiun turut menekankan integrasi dengan fasilitas kawasan dan moda transportasi umum lainnya.

Sementara itu, Stasiun Harmoni dirancang dengan visi "Simpul Harmonie" yang menempatkan stasiun sebagai pintu gerbang utama menuju kawasan Kota Tua. Riska mengatakan desain stasiun ini akan mengekspos kanal yang membentang sepanjang jalur menuju utara sebagai elemen penting dalam penataan kawasan.

"Kalau dilihat dari selatan, Harmoni itu kan seperti gerbang menuju area Kota Tua. Sepanjang jalur itu ada kanal, jadi itu yang kami expose, bagaimana kami me-reflect itu dalam perencanaan stasiun dan sampai ke kawasan sekitarnya," tutur Riska.

Strategi pengembangan kawasan TOD di Harmoni akan difokuskan pada penataan kembali ruang publik, optimalisasi integrasi moda transportasi, serta peningkatan akses pejalan kaki. Konsep ramah lingkungan juga diterapkan dengan mendorong pembangunan hunian di pusat kota sehingga memperkuat peran Harmoni sebagai simpul transit utama.

Jalur MRT Jakarta Fase 2A sepanjang 5,8 kilometer akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota. Terdapat tujuh stasiun bawah tanah pada fase ini, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Proyek ini diharapkan menjadi tonggak transformasi transportasi publik sekaligus penataan kawasan bersejarah di Jakarta.

Hingga 25 Juli 2025, progres pembangunan Fase 2A telah mencapai 51,31 persen, lebih cepat dari target 50,23 persen. Rinciannya, segmen 1 Bundaran HI-Harmoni telah terealisasi 74,3 persen, sementara segmen 2 Harmoni-Kota baru mencapai 41,6 persen.

PT MRT Jakarta menargetkan segmen 1 Fase 2A selesai pada 2027, sedangkan segmen 2 dituntaskan pada 2029. Dengan capaian tersebut, proyek ini tidak hanya menghadirkan layanan transportasi massal modern, tetapi juga menata kembali wajah kawasan bersejarah Jakarta agar lebih hidup dan berkelanjutan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.