Dari Balita hingga Remaja, Begini Aturan Nonton TV yang Disarankan Psikolog
Minggu, 24 Agu 2025, 23:35 WIBJAKARTA â Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Universitas Indonesia Ratih Zulhaqqi dan Vera Itabiliana Hadiwidjojo membagikan kriteria-kriteria tayangan televisi yang tepat untuk anak berdasarkan usianya.
âBisa positif dan negatif (dampak tayangan TV pada anak),â kata Vera dihubungi dari Jakarta, Minggu (24/8).
Vera mengungkap, tayangan yang tepat memiliki beberapa kriteria, yakni memiliki nilai edukatif dan moral yang positif, sesuai dengan tahap perkembangan anak, dan menggunakan bahasa yang sopan dan mudah dipahami.
âTayangan untuk anak juga baiknya menampilkan alur yang sederhana, visual yang ramah anak, dan tidak berlebihan dalam konflik atau efek visual,â imbuhnya.
Sementara itu, tayangan yang perlu dihindari salah satunya yang mengandung kekerasan, konten seksual, mistis berlebihan, atau perilaku antisosial.
âPola asuh atau interaksi salah tanpa ada pelurusan dari orang tua juga perlu dihindari, kemudian iklan konsumtif berlebihan, seperti produk makanan tak sehat atau mainan mahal juga tidak baik,â ujar Vera.
Sementara itu, Ratih mengungkap, alur cerita yang terlalu cepat juga tidak baik, sebab berisiko menimbulkan overstimulasi dan kesulitan anak membedakan realitas dengan fantasi.
âAnak itu butuh jeda untuk memproses informasi yang mereka miliki. Jadi jangan menonton yang durasinya terlalu lama sehingga akhirnya yang dia lakukan hanya perilaku monoton dan menonton,â kata Ratih.
Kedua psikolog ini sepakat bahwa peran orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasaan menonton anak.
Mereka menyarankan beberapa strategi efektif, pertama, buat aturan waktu menonton yang jelas. Untuk anak usia sekolah, beri waktu 1â2 jam per hari.
âUntuk anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak terpapar TV sama sekali. Anak usia ini butuh stimulasi langsung dari interaksi nyata dua arah, bukan layar satu arah,â jelas Vera.
Pilihkan tayangan yang sesuai usia dan nilai. Orang tua dapat memanfaatkan teknologi, yakni fitur parental control atau tonton bersama anak untuk memastikan kontennya aman.
Tentukan waktu khusus untuk menonton dan hindari kebiasaan menonton tanpa jadwal. Lebih baik tayangan dijadikan bagian dari rutinitas harian yang seimbang.
Vera mengungkap bahwa menonton televisi juga bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk berdiskusi dengan buah hati tercinta. Ajak anak berdiskusi usai menonton.
âTanyakan pendapat mereka, dan luruskan bila ada konten atau perilaku yang tidak sesuai,â kata dia.
Tidak ada yang lebih baik dari contoh di depan mata. Orang tua juga perlu membatasi diri dalam menonton agar dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Ciptakan zona bebas layar, seperti saat makan, sebelum tidur, atau ketika berkumpul keluarga. Ini membantu menciptakan iklim interaksi langsung yang sehat.
Tahapan usia dan jenis tayangan yang direkomendasikan
Tak semua anak boleh langsung dikenalkan pada televisi. Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO dan asosiasi dokter anak dunia menyarankan agar anak usia 0â2 tahun tidak terpapar layar sama sekali.
âKecuali untuk video call dengan keluarga atau interaksi sosial langsung, sebaiknya nol screen time (waktu layar).â kata Ratih.
Berikut panduan umum berdasarkan usia:
0â2 tahun: Sebaiknya tidak menonton TV sama sekali
2â5 tahun: Maksimal 1 jam per hari, tayangan edukatif dan didampingi orang tua
6â12 tahun: 1â2 jam per hari, pilih konten edukatif dan moral (kartun anak, eksperimen sains, dokumenter ringan)
13â17 tahun: Diperbolehkan menonton hiburan kategori 13+, namun tetap perlu arahan dan diskusi mendalam dengan orang tua
âHal yang paling penting bukan hanya apa yang ditonton, tapi juga bagaimana anak menontonnya dan siapa yang mendampingi.â Ratih menegaskan.
- Tayangan Televisi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.