Digitalisasi Meteorologi: Teknologi Cuaca Jadi Penentu Panen, Petani Tak Bisa Lagi Hanya Mengandalkan Insting

Jumat, 22 Agu 2025, 08:25 WIB

JAKARTA - Bagi petani, cuaca bukan sekadar fenomena alam, melainkan faktor penentu hidup mati hasil panen. 

Hujan yang datang lebih cepat dari perkiraan bisa merendam sawah dan menghancurkan bibit, sementara kemarau yang berkepanjangan mampu mematikan tanaman sebelum berbuah. 

Ket. Foto: Digitalisasi meteorologi bermanfaat bagi petani untuk mendapatkan akses informasi cuaca secara akurat, tepat, dan cepat. — Sumber: Istimewa.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian iklim, akses terhadap informasi cuaca yang akurat dan mudah dijangkau menjadi senjata utama petani untuk bertahan dan meningkatkan produktivitas.

Namun realitas di lapangan menunjukkan ironi: sebagian besar petani masih mengandalkan “ilmu titen” atau tanda-tanda alam tradisional untuk memprediksi cuaca. 

Padahal, pola iklim global yang semakin ekstrem membuat metode tersebut tak lagi memadai. 

Tanpa data cuaca yang jelas, petani sering terlambat menanam, salah memilih jenis benih, hingga gagal memprediksi risiko hama yang muncul akibat perubahan cuaca mendadak.

Kemudahan akses informasi cuaca—baik melalui aplikasi digital, pesan singkat, maupun siaran radio lokal—akan menjadi kunci revolusi pertanian modern. 

Dengan informasi cuaca harian dan musiman yang terstruktur, petani bisa mengatur jadwal tanam, pola irigasi, hingga strategi pemupukan dengan lebih presisi. 

Hasilnya bukan hanya peningkatan produktivitas, tetapi juga pengurangan kerugian akibat gagal panen.

Pemerintah dan otoritas terkait perlu memahami bahwa memberi petani akses informasi cuaca bukan sekadar layanan tambahan, melainkan fondasi ketahanan pangan nasional. 

Sebab, jika petani dibiarkan terus berjudi dengan langit tanpa panduan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nasib mereka, tetapi juga piring makan jutaan rakyat Indonesia.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan digitalisasi ilmu meteorologi pertanian sangat penting agar petani dapat mengakses informasi cuaca secara luas dan tepat guna mendukung keputusan produksi yang efisien.

"Meteorologi pertanian memiliki peran strategis dalam meningkatkan produksi pangan nasional," kata Wamentan dalam Pelantikan Pengurus Pusat Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI) periode 2024–2029 di Kantor Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jakarta, Kamis (21/8).

Menurutnya, pemanfaatan data cuaca dan iklim secara tepat dapat menjadi "senjata pintar" bagi para petani Indonesia dalam menghadapi tantangan produksi dan perubahan iklim.

“Ilmu meteorologi pertanian harus bisa didigitalisasi dan diakses secara luas, agar para petani, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian lainnya bisa mengambil keputusan yang tepat dalam setiap tahap produksi,” ujarnya.

Mas Dar sapaan akrab Wamentan Sudaryono menekankan integrasi antara berbagai disiplin ilmu seperti meteorologi, ilmu tanah, pemupukan, hama, hingga benih, merupakan elemen penting dalam modernisasi pertanian.

“Semua disiplin ilmu ini adalah faktor X yang akan kita ramu menjadi kekuatan. Dengan pendekatan yang terintegrasi, produksi pangan nasional bisa kita dorong naik, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani,” jelasnya.

Sudaryono mencontohkan pentingnya informasi yang akurat bagi petani, terutama dalam hal waktu tanam, pemupukan, dan panen. Dengan prediksi cuaca yang tepat, petani bisa menghindari gagal panen dan memaksimalkan hasil pertanian.

“Misalnya, petani harus tahu bahwa jika menanam padi di minggu ketiga Agustus, maka risiko dan peluangnya apa. Semua itu hanya bisa diketahui dengan data yang presisi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sudaryono menyebut BRMP memiliki peran penting dalam mengendalikan aspek teknis pertanian, mulai dari penyediaan benih unggul, pengelolaan irigasi, hingga distribusi pupuk.

Meski cuaca tidak dapat dikendalikan, ia menekankan bahwa dengan prediksi yang semakin akurat, kontrol terhadap proses produksi dapat diperkuat.

“Yang bisa kita kendalikan itu benih, pupuk, dan irigasi. Tapi cuaca, walau tidak bisa dikontrol, bisa kita prediksi. Semakin akurat prediksinya, semakin besar kendali kita terhadap produktivitas,” tuturnya.

Sudaryono juga memberikan apresiasi terhadap peran penting para penyuluh dan tenaga ahli di lapangan, termasuk yang tergabung dalam PERHIMPI. Ia menyebut mereka sebagai ujung tombak yang kerap bekerja dalam senyap namun memberikan dampak nyata.

“Banyak dari mereka tidak tampil ke permukaan, tapi justru menjadi penentu keberhasilan di lapangan. Mereka yang menemani petani setiap hari, yang memastikan dari proses tanam hingga panen berjalan lancar,” kata Sudaryono.

Ia juga meminta Ketua Umum PERHIMPI yang baru Fadjry Djufry untuk terus mengawal agenda transformasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi agrohidrometeorologi yang berbasis data dan inovasi.

“Petani dan penyuluh kita adalah pasukan tempur di lapangan. Mereka yang bertempur setiap hari demi kedaulatan pangan kita. Maka tugas kita adalah memastikan mereka dipersenjatai dengan ilmu, data, dan teknologi terbaik,” kata Wamentan.

  • digitalisasi meteorologi

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.