Tarif Baru Amerika Serikat Tekan Harga Kopi dan Produk Ekspor Indonesia
Rabu, 20 Agu 2025, 15:45 WIBJAKARTA - Perang dagang kembali memanas setelah lonjakan tarif impor Amerika Serikat berdampak pada pasar global dan kebutuhan rumah tangga. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, harga kopi di negara tersebut naik 14,5 persen pada Juli dibandingkan tahun lalu, mendorong harga rata-rata kopi bubuk menjadi 8,41 dolar AS per pon.
Meski inflasi pangan secara keseluruhan stabil di level 2,9 persen secara tahunan, produk yang sangat bergantung pada impor mengalami kenaikan tajam. Kebijakan tarif baru ini membuat berbagai bahan pokok sehari-hari menjadi semakin mahal bagi konsumen Amerika.
Penyebab utamanya adalah kebijakan proteksionisme di Washington. Pemerintahan Donald Trump menaikkan tarif impor rata-rata hingga 18,6 persen, tertinggi sejak era Franklin Roosevelt pada 1930-an. Sebagian besar negara dikenakan bea masuk 15 persen, namun beberapa negara Asia termasuk Indonesia harus menghadapi tarif 19 persen, bahkan ada produk tertentu yang mencapai 50 persen.
Dampaknya bagi kopi sangat jelas karena Amerika Serikat sama sekali tidak memproduksi biji kopi sendiri dan bergantung pada impor dari Brasil, Vietnam, Kolombia, serta Indonesia. Dengan bea masuk 19 persen terhadap kopi Indonesia, biaya tambahan hampir pasti dibebankan ke konsumen. âSemua kopi yang mereka minum adalah impor,â kata Pranoto Soenarto dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia. Ia menegaskan, tarif tersebut lebih banyak merugikan konsumen ketimbang produsen.
Sektor lain juga tidak luput dari tekanan. Laporan Yale Universityâs Budget Lab memperkirakan harga sepatu akan melonjak sementara sebesar 39 persen dan bertahan 20 persen lebih tinggi dalam jangka panjang. Produk pakaian mengalami pola serupa dengan proyeksi kenaikan harga 18 persen, sementara Aliansi Perdagangan Anggur AS memperingatkan bea masuk 15 persen untuk anggur dan minuman beralkohol Eropa berpotensi menghapus penjualan senilai 2 miliar dolar AS serta menghilangkan 25.000 lapangan kerja di Amerika. Harga anggur Prancis bahkan diprediksi melonjak 30 persen pada September.
Bagi Indonesia, situasi ini memberikan dampak ganda. Sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan ban menjadi yang paling rentan karena Amerika masih menjadi pasar utama. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai tarif balasan yang diberlakukan pada 7 Agustus bisa menggerus daya saing industri yang menyerap jutaan pekerja, sementara produk perikanan dan makanan olahan juga menghadapi hambatan yang lebih berat.
Namun, Indonesia tidak kehabisan opsi untuk menjaga kinerja ekspor. Kesepakatan dagang IndonesiaâUni Eropa (IEU-CEPA) yang baru diselesaikan memberikan pembebasan tarif hampir untuk semua produk. Menurut Josua, produk padat karya akan merasakan keuntungan signifikan dari penghapusan tarif tersebut, terutama karena besarnya potensi permintaan di Eropa.
Kinerja ekspor Indonesia sendiri masih solid. Sepanjang paruh pertama 2025, pengiriman barang naik 7,7 persen secara tahunan menjadi 135,4 miliar dolar AS, dengan Tiongkok, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Malaysia sebagai pasar utama. Untuk menjaga momentum, pemerintah mendorong diversifikasi produk ekspor, khususnya kopi, kakao, karet, dan kelapa sawit yang tidak terlalu terimbas kebijakan tarif AS.
Selain itu, eksportir juga diminta memperkuat investasi pada sertifikasi dan standar produk guna menembus pasar Eropa maupun Asia. Langkah ini diyakini dapat membuka peluang baru sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika yang kini dibayangi proteksionisme tinggi.
Berita Terkait:
-
Tanggung bagi Pegula, Siap Habis-habisan untuk Raih Juara
-
Bantu Warga, Pemkab Bekasi Distribusikan Ribuan Paket Pangan Subsidi
-
Darurat Pinjol Ilegal! OJK Blokir 953 Pindar dalam Tiga Bulan
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Rangkaian Paskah, Umat Katolik Kaltara visualisasikan Jalan Salib
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.