Soemitronomics, Kearifan Lokal yang Antar RI Melalui Dua Krisis Ekonomi Global

Rabu, 20 Agu 2025, 17:37 WIB

MEDAN- Ketidakpastianterutama yang bersumber dari faktor eksternal hampir mewarnai perekonomian nasional setiap tahun. Namun demikian, hal tersebut tidak lantas menimbulkan pesimisme terhadap perekonomian nasional. Selagi Pemerintah mampu menjaga dan mengelola permintaan domestik, maka optimisme perekonomian akan tumbuh sangat terbuka.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara LPS Financial Festival di Medan, Rabu (20/8) mengatakan Indonesia terbukti mampu melalui berbagai krisis ekonomi global, ketika menggunakan jurus “kearifan lokal” atau local wisdom sebagai solusi.

Ket. Foto: Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara LPS Financial Festival yang berlangsung di Medan, Rabu-Kamis (20-21/8) — Sumber: istimewa

“Jurus local wisdom itu bahkan sudah diperkenalkan jauh sebelum Indonesia Merdeka oleh Profesor Soemitro Djojohadikusumo tepatnya pada tahun 1943,” kata Purbaya.

Soemitro sebut Purbaya dalam desertasinya, telah mengenalkan trilogi pembangunan yang menekankan pada tiga pilar yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan dan stabilitas nasional yang dinamis.

Dalam konteks trilogi itu, Prof Soemitro menekankanpentingnya stabilitas perbankan. Beliau mengambil pelajaran dari The Great Depression di AS, dan dampaknya pada perekonomian Indonesia.

Jurus lokal wisdom ala Soemitronomics itu, kata Purbaya sudah terbukti ampuh meredam dampak krisis ekonomi global. 

Purbaya mencontohkan saat krisis ekonomi global 2008 akibat subprime mortgage di AS dan saat pandemi Covid-19 tahun 2020-2021, ekonomi Indonesia cepat pulih karena bertumpu pada domestik demand.

“Respon kebijakan ekonomi pada 2008 tepat, karena aktivitas ekonomi tetap jalan yang ditopang oleh ketersediaan likuiditas melalui uang beredar yang tumbuh',” kata Purbaya.

Situasi yang sama juga berlaku saat Pandemi. Meskipun saat itu hampir kolaps, tetapi Pemerintah cepat mengubah dan merespon dengan pelonggaran secara terbatas, sehingga RI sukses keluar dari resesi dan kembali tumbuh positif seperti pada 2009 dengan tumbuh 4,9 persen.

“Pada 2020 juga kita pakai ilmu yang sejenis, karena sudah pintar yaitu menjaga domestic demand,” kata Purbaya.

Menyerang Rupiah

Kondisi tersebut berbeda saat krisis moneter 1997-1998. Saat itu kata Purbaya, respon kebijakan membingungkan karena suku bunga naik hingga 60 persen, sementara uang beredar tumbuh lebih dari 100 persen.

Dampaknya dengan suku bunga tinggi, tidak ada pelaku usaha yang berani meminjam ke bank. Sebaliknya, uang beredar yang melimpah dipakai menyerang rupiah kembali.

“Kebijakan yang membingungkan itu memberi bahan bakar menyerang rupiah kita,” kata Purbaya. 

Dari tiga krisis tersebut jelas Purbaya, dua diantaranya yaitu krisis global 2008 dan pandemi Covid-19 bisa dilalui dengan baik karena menggunakan pendekatan lokal wisdom, sedangkan krisis 1998 menyisakan celah yang dalam karena menggunakan resep dari luar.

“Jadi kita sudah punya modal yang besar, tinggal di manage dengan baik. Fokus pada diri sendiri dengan memanfaatkan domestik demand,” kata Purbaya.

Kalau Pemerintah menargetkanekonomi tahun 2026 tumbuh 5,4 persen, Purbaya menilai itu sangat realistis. Apalagi, jika dioptimalkan dengan dukungan pertumbuhan ekonomi dari daerah. 

“Ekonomi dari pasar, sawah dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) itu merupakan penopang ekonomi nasional,” kata Purbaya.

Ekonomi Sumatera Utara tambah Purbaya relatif lebih kuat dalam menopang perekonomian nasional. Apalagi bertumpu pada sektor perkebunan dan pariwisata yang termasuk sektor padat karya, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Berkaitan dengan LPS Financial Festival di Medan, Purbaya mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk mendorong peningkatan literasi keuangan sebagai gerakan bersama yang dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya di pusat kota tetapi juga di berbagai daerah.

“Acara ini dikemas dengan memadukan edukasi dan hiburan seru, agar literasi keuangan bisa dipelajari dengan cara yang ringan, menyenangkan, dan dekat dengan keseharian masyarakat. Selain itu, penyelenggaraan festival ini juga merupakan upaya kami untuk memperluas jangkauan komunikasi LPS. Kami ingin memastikan bahwa masyarakat semakin mengenal LPS, memahami peran kami dalam menjaga simpanan dan stabilitas sistem keuangan,” kata Purbaya di hadapan ribuan pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru Sumatera Utara. 

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.