METI Desak Pelaku Industri Lokal Jangan Jadi Penonton Dalam Transisi ke EBT

Sabtu, 16 Agu 2025, 20:58 WIB

JAKARTA- Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dalam Musyawarah Nasional (Munas) IX di Jakarta, Sabtu (16/8), mendesak para pengusaha dalam negeri untuk berperan lebih aktif dalam proses transisi dari energi fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT).

Ketua Umum METI 2022-2025 (demisioner-red) , Wiluyo Kusdwiharto, dalam sambutanya mengatakan EBT merupakan peluang besar yang tidak bisa hanya disaksikan, melainkan harus diikuti dengan keterlibatan nyata dari seluruh pihak.

Ket. Foto: Para peserta Musyawarah Nasional Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dalam Munas IX yang berlangsung di Aula PLN Jakarta, Sabtu (16/8). Zulfan Zahar pada munas tersebut terpilih sebagai Ketua METI 2025-2028. — Sumber: Budi

“METI harus mengawal EBT ke arah yang lebih baik. Ini opportunity bagi kita semua untuk berpartisipasi aktif, tidak cukup hanya sebagai penonton,” jelas Wiluyo.

Menurut dia, target Pemerintah untuk membangun pembangkit listrik EBT 42 GigaWatt (GW) dari 72 GW dalam 10 tahun ke depan merupakan peluang yang sangat besar. 

“Kalau target bauran energi baru terbarukan (EBT) pada tahun 2025 dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 23 persen sulit dicapai, bagaimana membangun 42GW. Kalau kita bisa ikut memproduksi material-material dalam negeri, bukan dengan impor dampaknya ke perekonomian sangat besar,” katanya. 

Saat ini, katanya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) material pembangkit EBT masih di bawah 20 persen. Sebab itu, perlu hilirisasi dan industrialisasi agar TKDN bisa ditingkatkan di atas 50 persen. 

“Pembangkit-pembangkit EBT kalau bisa 50 persen disuplai produk-produk dalam negeri, nah ini jadi tantangan sangat berat, bagaimana membangkitkan industri dalam negeri bisa berperan aktif dalam produktivitas, jangan sampai kita hanya jadi penonton,” jelas Wiluyo.

Untuk itu perlu peningkatan kapasitas pabrik, kualitas tenaga kerja, penggunaan teknologi terkini dan kolaborasi dengan kampus supaya industrialisasi EBT bisa dilakukan dalam negeri dengan cepat.

Jika industrialisasi bisa dilakukan dari hulu, dia optimistis bisa menyerap tenaga kerja yang lebih masif dan meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama di daerah-daerah di luar Jakarta. 

Dalam munas tersebut, Zulfan Zahar terpilih sebagai Ketua Umum METI yang baru untuk periode 2025-2028 dengan meraih dukungan mayoritas yakni 84,9 persen suara, mengungguli Norman Ginting yang memperoleh 15,1 persen. 

Seusai terpilih, Zulfan mengatakan program kerja dalam 100 hari pertama akan difokuskan pada penyusunan kepengurusan serta percepatan tender proyek energi baru terbarukan (EBT). Menurutnya, regulasi yang ada sudah cukup, namun pelaksanaan kerap terhambat birokrasi dan lemahnya komunikasi antar-lembaga. 

“Kalau ada masalah, langsung turun ke lapangan dan cari solusi. Yang terpenting sekarang adalah mempercepat tender EBT, termasuk tenaga air, angin, biomassa, dan surya,” katanya. 

Zulfan, yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Produsen Listrik Tenaga Air (APPLTA) serta dikenal sebagai pengusaha di sektor energi terbarukan, menyampaikan bahwa kepengurusan METI ke depan akan dirancang inklusif dengan melibatkan berbagai asosiasi energi terbarukan sebagai ketua bidang ex-officio di dalam struktur organisasi. 

Dia juga menegaskan pentingnya peran swasta dalam mempercepat transisi energi, karena potensi investasi bisa mencapai 200 miliar dollar AS, jika tender EBT dibuka lebih luas. Selain itu, METI akan memberi ruang bagi asosiasi-asosiasi energi terbarukan untuk memimpin bidang masing-masing dalam struktur organisasi, sehingga lebih inklusif. 

“Kami ingin METI jadi pelumas, bukan penghambat. Semua ekosistem sudah siap, tinggal bagaimana kita jalankan percepatan,” tegasnya. 

Dengan kepemimpinan baru ini, METI diharapkan mampu memperkuat kolaborasi dan mempercepat peningkatan bauran energi nasional.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan Nota Keuangan dan Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2026 di DPR menargetkan kapasitas pembangkit listrik EBT di Indonesia dapat mencapai 100 persen dalam 10 tahun ke depan. EBT kata Presiden merupakan sumber energi yang akan menjadi prioritas pengembangan di masa mendatang.

“EBT adalah masa depan, kita harus genjot pembangunan pembangkit dari surya, hidro, panas bumi, dan dari bioenergi,” kata Prabowo.

Kepala Negara berharap pencapaian kapasitas pembangkit EBT 100 persen akan menjadikan Indonesia sebagai pelopor energi bersih di tingkat global.

“Saya yakin, hal ini bisa dicapai dari target dunia 2060 kita bisa mencapainya jauh lebih cepat,” kata Presiden.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.