ITS Ubah Limbah Peternakan dan Pertanian di Papua Barat Jadi Energi
Rabu, 09 Sep 2026, 00:04 WIBSURABAYA â Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sistem biogas komunal di Kawasan Transmigrasi Momi Waren, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Program ini memanfaatkan limbah peternakan dan pertanian sebagai sumber energi sekaligus bahan baku pupuk organik.
Program yang diusung Kementerian Transmigrasi tersebut mengangkat tema Pengembangan Energi Terbarukan Berbasis Biogas dari Limbah Organik untuk Mendukung Kemandirian Energi dan Pertanian Berkelanjutan. Tim dipimpin Arief Abdurrakhman dengan anggota Mochammad Fauzan Surya Earlyansyah, Febriyati, Ayu Nur Lestari, Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, dan Muhammad Sapriandi.
Arief mengatakan pengembangan teknologi tersebut berangkat dari dua persoalan yang dihadapi masyarakat, yakni pengelolaan limbah organik dan keterbatasan akses energi. Salah satu sumber energi untuk kebutuhan sehari-hari, LPG, disebut hampir tidak tersedia di kawasan tersebut.
âJadi, kami ingin menyelesaikan permasalahan tersebut dengan mengubah limbah menjadi sumber energi dan pupuk,â ungkap Arief.
Untuk itu, tim ITS membangun biodigester anaerob komunal yang dilengkapi sistem distribusi, pemanfaatan biogas, serta monitoring proses. Sistem tersebut dirancang agar produksi dan pemanfaatan energi dapat dipantau dan dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Dosen Departemen Teknik Instrumentasi ITS itu menjelaskan, produksi biogas dimulai dengan mengumpulkan kotoran ternak dan limbah pertanian yang tersedia di Momi Waren. Limbah kemudian dicampur dengan air dan dimasukkan ke dalam reaktor untuk menjalani proses penguraian secara anaerob.
Biogas yang dihasilkan selanjutnya dialirkan melalui sistem perpipaan untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi masyarakat.
Selain menghasilkan biogas, proses tersebut menghasilkan material sisa berupa bio-slurry yang dapat diolah menjadi pupuk organik.
âDengan demikian, limbah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan mampu menjadi sumber energi dan pupuk yang memiliki manfaat ekonomi,â tuturnya.
Pengembangan teknologi juga disertai pendampingan dan sosialisasi kepada masyarakat. Perangkat desa yang terlibat diberikan pemahaman mengenai pengoperasian dan pemeliharaan sistem agar fasilitas tersebut dapat dikelola secara mandiri.
Arief mengatakan program tersebut diarahkan menjadi model kemandirian energi dan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal.
âKami ingin program ini membuat potensi lokal dapat dimanfaatkan dengan optimal dan benar-benar dimiliki dan dikelola masyarakat,â pungkasnya.
Program TEP ITS tersebut mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau melalui pemanfaatan biogas serta SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan melalui pengembangan kawasan transmigrasi yang mandiri dalam pengelolaan limbah dan energi.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.