- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Klaim Menang Perang ...
Trump Klaim Menang Perang Dagang, Namun Dampaknya Masih Dipertanyakan
Kamis, 07 Agu 2025, 19:45 WIBJAKARTA â Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlihat seperti memenangkan perang dagang yang kembali digencarkannya sejak menjabat kembali pada Januari. Ia memaksa sejumlah mitra dagang utama untuk tunduk pada kebijakan perdagangan AS, menerapkan tarif dua digit terhadap hampir semua barang impor, memperkecil defisit perdagangan, serta mengumpulkan puluhan miliar dolar setiap bulan untuk kas pemerintah federal.
Meski demikian, sejumlah tantangan besar masih menghadang strategi tersebut. Pertanyaan utama mencakup apakah negara-negara mitra akan benar-benar memenuhi janji investasi dan pembelian produk AS, serta sejauh mana tarif dapat memicu inflasi, menurunkan permintaan, dan menghambat pertumbuhan ekonomi domestik.
Pada saat Trump dilantik, tarif efektif yang dikenakan AS terhadap impor tercatat sebesar 2,5 persen. Namun, berdasarkan berbagai estimasi, angka tersebut melonjak menjadi 17 hingga 19 persen, dan Dewan Atlantik memperkirakan kenaikan itu akan mendekati 20 persen, tertinggi dalam seratus tahun terakhir seiring dengan penerapan bea masuk tambahan yang berlaku mulai Kamis.
Sebagian besar mitra dagang Amerika menahan diri untuk tidak membalas dengan tarif serupa, yang pada akhirnya mencegah terjadinya eskalasi perang dagang global yang lebih luas. Sementara itu, data terbaru pada Selasa menunjukkan bahwa defisit perdagangan AS menyusut sebesar 16 persen pada bulan Juni, dengan kesenjangan perdagangan terhadap Tiongkok turun ke titik terendah dalam lebih dari dua dekade.
"Pertanyaannya adalah, apa arti dari sebuah kemenangan? Trump menaikkan tarif terhadap hampir seluruh dunia dan berhasil menghindari perang dagang balasan lebih mudah dari yang diperkirakan, namun pertanyaan yang lebih besar adalah dampaknya terhadap ekonomi Amerika," ujar Josh Lipsky, Kepala Studi Ekonomi di Atlantic Council.
Michael Strain dari American Enterprise Institute menyampaikan bahwa keberhasilan geopolitik Trump belum tentu diikuti oleh hasil ekonomi yang serupa.
"Secara geopolitik, Trump memang memperoleh banyak konsesi dari negara lain, tapi secara ekonomi, ia tidak memenangkan perang dagang. Yang kita lihat adalah Trump lebih siap menanggung dampak ekonomi terhadap rakyatnya dibanding negara lain terhadap rakyat mereka. Dan saya menilainya sebagai kekalahan," katanya.
Kelly Ann Shaw, mantan penasihat perdagangan Gedung Putih yang kini berpraktik di firma hukum Akin Gump Strauss Hauer & Feld, mengatakan bahwa ekonomi AS yang tetap kuat serta kenaikan harga saham mendekati rekor tertinggi menjadi pembenaran atas pendekatan tarif agresif Trump.
"Saya rasa sejarah akan memberikan penilaian terhadap kebijakan-kebijakan ini, tapi Trump adalah presiden pertama dalam hidup saya yang melakukan perubahan besar dalam sistem perdagangan global," ujarnya.
Trump juga telah menyepakati delapan kerangka kerja perdagangan dengan negara-negara seperti Uni Eropa, Jepang, Inggris, Korea Selatan, Vietnam, Indonesia, Pakistan, dan Filipina. Kesepakatan tersebut menetapkan tarif antara 10 hingga 20 persen terhadap berbagai barang yang masuk ke AS, meskipun jumlah itu masih jauh dari target "90 kesepakatan dalam 90 hari" yang sebelumnya diumumkan pada April.
Namun, kesepakatan tersebut tetap mencakup sekitar 40 persen dari total perdagangan AS. Jika ditambah dengan kontribusi Tiongkok, yang barang-barangnya kini dikenakan tarif 30 persen namun berpeluang mendapatkan penangguhan sebelum batas waktu 12 Agustus, cakupan tarif dapat meningkat menjadi hampir 54 persen dari total perdagangan luar negeri AS.
Di sisi lain, banyak kebijakan tarif Trump bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu. Contohnya, pada Rabu lalu, Trump menaikkan tekanan terhadap India dengan menggandakan tarif barang dari negara tersebut menjadi 50 persen akibat impor minyak India dari Rusia.
Langkah serupa juga ditujukan kepada Brasil, di mana Trump memberlakukan tarif tambahan setelah menyuarakan ketidakpuasan atas proses hukum terhadap mantan Presiden Jair Bolsonaro yang dikenal sebagai sekutunya. Bahkan Swiss, yang sebelumnya dipuji Trump, kini menghadapi tarif 39 persen menyusul kegagalan kesepakatan usai percakapan antara pemimpin kedua negara.
Ryan Majerus, pengacara perdagangan yang pernah bertugas di pemerintahan Trump dan Biden, menyatakan bahwa kebijakan perdagangan Trump belum berhasil menjawab persoalan struktural yang telah lama membelit sistem perdagangan AS. Ia menambahkan bahwa untuk menyelesaikan masalah tersebut kemungkinan akan memerlukan waktu yang cukup panjang.
- Donald Trump
- Tarif Dagang AS
- inflasi
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Trump dan Xi Jinping Gelar Pertemuan di Beijing
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Trump akan Bicara dengan Pemimpin Taiwan Pasca Kunjungan ke Beijing
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Trump Ancam Naikkan Tarif Jika Inggris Tak Hapus Pajak Layanan Digital
-
Trump Minta Juru Runding AS Tidak Terburu-buru Capai Kesepakatan dengan Iran
-
Trump akan Tampil di Paspor Edisi Terbatas Ulang Tahun AS ke-250
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.