Fenomena Bendera One Piece Bentuk Ekspresi Warga, DPR: Pemerintah Harus Introspeksi, Jangan Represif!
Selasa, 05 Agu 2025, 13:15 WIBJAKARTA -Â Pengibaran bendera bajak laut dari anime 'One Piece' oleh sejumlah kalangan masyarakat jelang HUT ke-80 RI menimbulkan polemik di masyarakat.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira menilai fenomena tersebut merupakan bentuk ekspresi dan kebebasan sipil yang dijamin konstitusi. Menurutnya, pengibaran bendera kartun Manga itu harus dijadikan introspeksi bagi pemerintah.Â
"Ini menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM), sebagai bentuk kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan kegelisahan masyarakat. Seharusnya ini menjadi bahan introspeksi buat Pemerintah, bahwa ada persoalan serius yang membuat masyarakat menyampaikan protes dalam âdiamâ, dalam bentuk sosial kultur," ujarnya dalam keterangan rilis yang dilansir media resmi DPRI RI, Selasa (5/8).
Fenomena pengibaran bendera One Piece belakangan marak dilakukan, terutama oleh sopir truk dan komunitas penggemar anime. Sebagian dari mereka meletakkan bendera One Piece di bawah Bendera Merah Putih, dalam momen 17 Agustusan tahun ini.
Bendera One Piece bergambar tengkorak yang disebut Jolly Roger merupakan lambang utama setiap kelompok bajak laut. Desain dasarnya adalah gambar tengkorak manusia di atas dua tulang yang menyilang. Namun, setiap bendera memiliki desain yang berbeda menggambarkan kapten dan nilai-nilai kru yang mengibarkannya.
Sebagai contoh, bendera kru topi jerami milik Monkey D. Luffy menampilkan tengkorak dengan topi jerami khasnya. Sedangkan bajak laut Shirohige menambahkan kumis melengkung sebagai identitas Edward Newgate.
Menurut situs web fandom, dalam narasi One Piece, bendera Jolly Roger membawa makna tentang kekuatan kekuasaan, kebebasan, tekad pribadi, dan solidaritas. Sehingga banyak bajak laut One Piece menggunakan Jolly Roger sebagai simbol perjuangan melawan penindasan.Â
Simbol Jolly Roger dalam konteks One Piece tidak selalu bermakna kekerasan atau kehancuran. Tetapi juga menjadi ekspresi dari kebebasan dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang merupakan isu utama dalam cerita buatan Eiichiro Oda ini.Â
Melihat konteks ini, Andreas tak setuju jika pengibaran bendera bajak laut One Piece menjelang Hari Kemerdekaan RI disebut sebagai tindakan makar. Ia kembali menekankan bahwa hal itu lebih merupakan bentuk ekspresi masyarakat terhadap kondisi sosial-politik saat ini.
"Terlalu berlebih-lebihan kalau menganggap bendera One Piece sebagai tindakan makar," tegas Andreas.Â
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu menilai seharusnya masyarakat yang menyampaikan âprotesâ kepada Pemerintah diberikan pendekatan yang humanis, dan persuasi yang manusiawi. Andreas tidak sepakat apabila pemasangan bendera One Piece dianggap sebagai bentuk provokasi atau dianggap makar, apalagi disikapi Pemerintah dengan represi.
"Karena tidak ada bentuk pelanggaran hukum, tidak pula menghina simbol negara. Mereka hanya berekspresi dengan cara-nya, yang hari ini zaman pun sudah makin terbuka dan maju," sambung Legislator dari Dapil Nusa Tenggara Timur I itu.Â
Kendati demikian, Andreas tetap mengimbau masyarakat Tanah Air untuk mengibarkan bendera Merah Putih selama bulan kemerdekaan tanpa embel-embel bendera lain. "Untuk menghormati peringatan proklamasi, yang kita utamakan adalah Merah Putih," pungkas Andreas.Â
- Bendera One Piece
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Tim Koran Jakarta
Berita Terkait:
-
Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Maluku Utara
-
Wamendagri: Bendera One Piece Bukan Pelanggaran, tapi Merah Putih Tetap Prioritas
-
Babak Pertama, Semen Padang Ungguli Bali United 1-0
-
Pimpinan MPR Akan Temui Presiden Prabowo dalam Momentum 100 Hari Kerja
-
Ramai Gerakan Kibarkan Bendera One Piece Saat HUT ke-80 RI, Polisi Ambil Tindakan Tegas
-
Kemendiktisaintek Tanggapi Isu Pemecatan Pegawai
-
Pelarangan Bendera One Piece: Negara Makin Paranoid, Demokrasi Makin Sempit
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.