Teror Siber ke Maskapai Rusia! Aeroflot Lumpuh, Hacker Ancam Bocorkan Data Penumpang

Rabu, 30 Jul 2025, 08:15 WIB

Krisis dunia maya kembali mengguncang industri penerbangan. Maskapai penerbangan nasional Rusia, Aeroflot, terpaksa membatalkan lebih dari 40 penerbangan pada Senin (28/7), setelah mengalami gangguan serius pada sistem informasinya. Gangguan ini disebut-sebut akibat serangan siber yang diklaim dilakukan oleh kelompok hacker misterius bernama Silent Crow.

Kelompok Silent Crow, dalam pernyataannya yang dikutip Reuters, mengaku melakukan serangan ini sebagai bagian dari aksi solidaritas terhadap Ukraina. Mereka bahkan menyebut berkolaborasi dengan kelompok peretas asal Belarusia, Cyberpartisans BY, yang juga dikenal vokal menentang pemerintahan pro-Rusia di kawasan tersebut.

"Jayalah Ukraina! Hidup Belarusia!" tulis Silent Crow dalam pernyataannya yang menyiratkan motif politik di balik aksi peretasan ini. Sebelumnya, kelompok ini juga mengaku bertanggung jawab atas pembobolan database properti Rusia pada awal tahun ini.

Aeroflot sendiri mengonfirmasi bahwa serangan ini menyebabkan kegagalan sistem informasi yang cukup luas, hingga memaksa mereka membatalkan puluhan penerbangan, termasuk rute domestik dan internasional ke Minsk, Belarusia dan Yerevan, Armenia. Mereka kini tengah berupaya keras memulihkan sistem.

“Para ahli saat ini sedang bekerja untuk meminimalisasi dampak pada jadwal penerbangan dan memulihkan operasi layanan normal,” kata perwakilan Aeroflot dalam keterangan resmi.

Namun, situasi di lapangan jauh dari kata kondusif. Media lokal Baza melaporkan bahwa suasana di Bandara Sheremetyevo, Moskow, menjadi kacau, dengan antrean panjang hanya untuk keluar dari area bandara. Penumpang yang terdampak diminta mengambil kembali bagasi mereka dan meninggalkan lokasi.

Dalam klaim yang lebih mengkhawatirkan, Silent Crow mengaku telah menembus jaringan internal Aeroflot selama setahun terakhir, merusak lebih dari 7.000 server, dan bahkan mendapatkan akses ke komputer pribadi staf dan manajer senior maskapai. Mereka juga mengancam akan segera merilis data pribadi seluruh warga Rusia yang pernah menggunakan jasa Aeroflot meski hingga kini, tidak ada bukti konkrit yang dipublikasikan untuk mendukung klaim tersebut.

Serangan ini menambah daftar panjang ketegangan siber sejak pecahnya konflik Rusia-Ukraina pada 2022. Dengan intensitas serangan yang makin meningkat, kekhawatiran soal keamanan data dan stabilitas sektor penerbangan digital pun kembali mencuat.

Redaktur: Andriani Nuraini

Penulis: Andriani Nuraini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.