Kekeringan di Belahan Bumi Utara Capai Tingkat yang Mengkhawatirkan
Rabu, 30 Jul 2025, 07:18 WIBTEMUAN baru dari studi observasi satelit selama lebih dari dua dekade mengungkapkan bahwa benua-benua di Bumi telah mengalami kehilangan air tawar yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak tahun 2002, didorong oleh perubahan iklim, penggunaan air tanah yang tidak berkelanjutan, dan kekeringan ekstrem.
Studi yang dipimpin oleh Arizona State University (AS) dan diterbitkan hari ini di Science Advances ini menyoroti munculnya empat wilayah âpengeringan megaâ (mega-drying) berskala benua yang terjadi di Belahan Bumi Utara. Hal ini memperingatkan konsekuensi serius bagi ketahanan air, pertanian, kenaikan permukaan laut, dan stabilitas Âglobal.
Tim peneliti melaporkan bahwa area pengeringan di daratan meluas dengan laju kira-kira dua kali lipat luas California setiap tahun. Laju kekeringan di wilayah kering kini melampaui laju kekeringan di wilayah basah, membalikkan pola hidrologi yang telah lama ada.
Dampak negatifnya terhadap ketersediaan air tawar sangat mencengangkan. Tujuh puluh lima persen populasi dunia tinggal di 101 negara yang telah kehilangan air tawar selama 22 tahun terakhir. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi dunia diperkirakan akan terus bertambah selama 50 hingga 60 tahun ke depan sementara ketersediaan air tawar menyusut drastis.
Para peneliti mengidentifikasi jenis kehilangan air di daratan, dan untuk pertama kalinya, menemukan bahwa 68% berasal dari air tanah saja yang berkontribusi lebih besar terhadap kenaikan permukaan laut daripada gletser dan lapisan es di daratan.
âTemuan ini mungkin mengirimkan pesan paling mengkhawatirkan tentang dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air kita,â kata Jay Famiglietti, peneliti utama studi ini dan Profesor Global Futures di Fakultas Keberlanjutan ASU,â ujar dia dikutip dari laman ASU.
Benua-benua mengering, ketersediaan air tawar menyusut, dan kenaikan permukaan laut semakin cepat. Konsekuensi dari penggunaan air tanah yang berlebihan secara terus-menerus dapat merusak ketahanan pangan dan air bagi miliaran orang di seluruh dunia. Ini adalah momen âsemua pihak harus turun tanganâ kita membutuhkan tindakan segera untuk ketahanan air global.
Para peneliti mengevaluasi lebih dari dua dekade data dari misi Pemulihan Gravitasi dan Eksperimen Iklim (Gravity Recovery and Climate Experiment/GRACE) AS-Jerman dan GRACE-Follow On (GRACE-FO), untuk melihat bagaimana dan mengapa penyimpanan air terestrial telah berubah sejak tahun 2002. Penyimpanan air terestrial mencakup seluruh air permukaan dan vegetasi Bumi, kelembapan tanah, es, salju, dan air tanah yang tersimpan di daratan.
 âSungguh mengejutkan betapa banyaknya air tak terbarukan yang kita hilangkan,â kata Hrishikesh A. Chandanpurkar, penulis utama studi ini dan seorang ilmuwan peneliti di ASU. âGletser dan air tanah dalam adalah semacam dana perwalian kuno. Alih-alih menggunakannya hanya pada saat dibutuhkan, seperti kekeringan berkepanjangan, kita justru menganggapnya remeh,â ujarnya.
âSelain itu, kita tidak berusaha mengisi kembali sistem air tanah selama tahun-tahun basah dan dengan demikian berada di ambang kebangkrutan air tawar yang akan segera terjadi,â ujarnya.
Pengeringan Benua
Studi ini mengidentifikasi apa yang tampaknya menjadi titik kritis sekitar tahun 2014â2015, pada masa yang dianggap sebagai tahun-tahun âmega El-Niño.â Iklim ekstrem mulai meningkat dan sebagai responnya, penggunaan air tanah meningkat dan pengeringan benua melampaui laju pencairan gletser dan lapisan es.
Selain itu, studi ini mengungkapkan osilasi yang sebelumnya tidak dilaporkan di mana setelah tahun 2014, wilayah pengeringan berubah dari sebagian besar berada di Belahan Bumi Selatan menjadi sebagian besar di utara, dan sebaliknya untuk wilayah basah.
Salah satu pendorong utama yang berkontribusi terhadap pengeringan benua adalah meningkatnya kekeringan ekstrem di garis lintang tengah Belahan Bumi Utara, misalnya, di Eropa. Selain itu, di Kanada dan Rusia, pencairan salju, es, dan lapisan es abadi meningkat selama dekade terakhir, dan penipisan air tanah yang terus berlanjut secara global merupakan faktor utama.
Peta dunia yang menunjukkan negara-negara dalam berbagai warna, dengan sebagian besar dunia berwarna oranye dan merah, sementara Afrika berwarna biru. Biru berada di ujung atas skala tren penyimpanan air jangka panjang.
Dalam studi sebelumnya, anggota tim mempelajari penyimpanan air terestrial dari data satelit yang mencakup periode 2002â2016. Dalam studi baru ini, tim mengamati data lebih dari 20 tahun dan menemukan perkembangan penting dan signifikan dalam pengeringan benua.
Beberapa pola pengeringan regional dan âtitik panasâ lokal yang sebelumnya teridentifikasi untuk hilangnya penyimpanan air terestrial kini saling terhubung membentuk empat wilayah mega-pengeringan benua. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Basarnas Kirim Tim untuk Cari Heli Hilang Dalam Penerbangan di Kalbar
-
Pemkab Bangka Barat Pantau Kesehatan Ternak Cegah PMK dan LSD
-
Aksi PRUvolunteer Tingkatkan Kualitas Hidup 2.500 Warga yang Terdampak Kekeringan
-
Lavani Taklukkan Bhayangkara 3-1 Pada Pembukaan Proliga 2025
-
Telkomsel Hadirkan Paket RoaMAX Haji 2026 dengan Kuota hingga 42GB
-
Pemkot Tangerang Gelar Pasar Murah Keliling di 13 Kecamatan
-
Kemenag Tingkatkan Transparansi Pelayanan Berbasis Digital di Sulut
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.