Gempa Dahsyat Guncang Rusia, Seluruh Pekerja PLTN Fukushima Jepang Dievakuasi

Rabu, 30 Jul 2025, 17:30 WIB

JAKARTA – Sebanyak 4.000 pekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima, Jepang, dievakuasi pada Rabu pagi setelah pemerintah mengeluarkan peringatan tsunami nasional. Langkah cepat ini dilakukan sebagai respons atas gempa bumi kuat bermagnitudo 8,7 yang mengguncang wilayah lepas pantai timur jauh Rusia dan memicu peringatan tsunami di seluruh kawasan Pasifik.

Operator PLTN Fukushima menyatakan bahwa seluruh pekerja telah dievakuasi dengan selamat dari kompleks reaktor nuklir. Mereka menambahkan bahwa hingga kini tidak ada “kelainan” atau kerusakan yang terdeteksi pada sistem fasilitas.

Ket. Foto: — Sumber: BBC

Bagi masyarakat di Prefektur Fukushima, peringatan tsunami kali ini kembali menghidupkan trauma atas tragedi nuklir yang pernah mengguncang wilayah tersebut pada tahun 2011. Pada saat itu, gempa berkekuatan 9,0 skala Richter disusul gelombang tsunami menghancurkan kawasan timur laut Jepang dan menewaskan lebih dari 18.000 jiwa.

Tsunami tersebut merusak sistem kelistrikan darurat di PLTN Fukushima sehingga menyebabkan kegagalan sistem pendingin reaktor. Akibatnya, tiga dari enam reaktor mengalami pelelehan inti dan memicu bencana nuklir besar.

Ledakan hidrogen yang terjadi pasca-gempa turut menghancurkan bangunan reaktor dan memperparah kondisi darurat yang terjadi. Kebocoran material radioaktif pun menyebar ke atmosfer dan laut lepas Samudra Pasifik.

Pemerintah Jepang saat itu langsung menetapkan zona larangan sejauh 30 kilometer dari lokasi reaktor dan memerintahkan evakuasi terhadap lebih dari 150.000 penduduk. Warga yang dievakuasi diperingatkan untuk tidak kembali karena tingginya risiko paparan radiasi.

Hingga lebih dari satu dekade kemudian, banyak area di sekitar lokasi pembangkit masih tetap tertutup dan tidak layak huni. Rumah-rumah yang ditinggalkan, toko-toko kosong, serta lingkungan yang terbengkalai menjadi pemandangan yang lazim di zona eksklusi tersebut.

Material radioaktif berbahaya dalam jumlah besar masih tersimpan di dalam kompleks PLTN Fukushima hingga kini. Penanganan limbah nuklir dan proses dekontaminasi terus berlangsung dengan tantangan teknis serta perdebatan publik yang belum selesai.

Jepang yang terletak di zona Cincin Api Pasifik merupakan salah satu negara paling rawan gempa bumi di dunia. Rata-rata sekitar 1.500 gempa tercatat mengguncang Jepang setiap tahunnya, menjadikan mitigasi bencana sebagai aspek penting dalam kebijakan nasional.

Meski sistem infrastruktur Jepang dikenal tangguh dan warganya dibekali pelatihan kesiapsiagaan sejak usia dini, ketakutan terhadap “gempa besar” masih menghantui banyak orang. Gempa dahsyat yang diperkirakan terjadi sekali dalam satu abad itu bisa menewaskan hingga 300.000 orang dan menimbulkan tsunami setinggi 30 meter di sepanjang garis pantai Pasifik.

Para ahli menyatakan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun ke depan, terdapat kemungkinan sebesar 70 hingga 80 persen akan terjadi gempa besar berkekuatan 8 hingga 9 skala Richter di sepanjang palung Nankai. Potensi ini membuat Jepang tetap berada dalam kondisi siaga tinggi terhadap ancaman bencana tektonik.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.