Indef: Angka Kemiskinan Turun, Tapi Ketimpangan Antara Wilayah masih Tinggi
Selasa, 29 Jul 2025, 19:28 WIBJAKARTA-Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti masalah ketimpangan di RI, sebab, penurunan angka kemiskinan tidak dibarengi dengan penurunan ketimpangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Abra P.G. Talattov, Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef menjelaskan, meskipun tingkat kemiskinan nasional turun dibandingkan Maret 2024, ketimpangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih signifikan.Â
Tingkat kemiskinan di perdesaan tetap tinggi, jauh di atas rata-rata nasional, sementara perkotaan justru mengalami kenaikan akibat tekanan biaya hidup, seperti harga pangan, transportasi, dan perumahan, di tengah stagnasi pendapatan.Â
"Sektor informal yang mendominasi kota membuat banyak penduduk tidak terjangkau program perlindungan sosial,"ujarnya dalam diskusi terkait Kemiskinan Turun, Kesejahteraan Naik? di Jakarta, Selasa (29/7)
Secara spasial papar Abra, penurunan kemiskinan tidak merata, dengan Maluku dan Papua mengalami peningkatan kemiskinan akibat ketergantungan pada sektor ekstraktif yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas.
 Tingkat kemiskinan ekstrem nasional turun menjadi 2,38 juta orang per Maret 2025, namun Indonesia masih menjadi negara dengan kemiskinan ekstrem yang relatif tinggi di ASEAN, berdasarkan standar Bank Dunia (USD 3/hari). "Rendahnya produktivitas sektor pertanian dan dominasi sektor informal menjadi penyebab utama,"ujar Abrar.
Tantangan lain terang dia adalah menyusutnya kelas menengah, yang kini menghadapi risiko PHK dan penurunan daya beli. Keterbatasan fiskal daerah juga menghambat efektivitas program pengentasan kemiskinan.Â
Abra menyarankan perbaikan pendataan berbasis komunitas, perluasan program padat karya produktif, dan reformasi bansos yang lebih integratif untuk menjangkau kelompok ultra-miskin.
 Gini Rasio
Tak hanya secara wilayah, kesenjangan ekonomi juga tergambar dari penghasilan masyarakat. Riza A. Pujarama, Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, mencatat bahwa rasio Gini Indonesia tahun 2025 sebesar 0,375, lebih baik dari target 0,379â0,382, namun menunjukkan stagnasi
dalam mengurangi ketimpangan.Â
Penduduk 10% teratas memiliki pendapatan 19 kali lebih besar
dibandingkan 50% terbawah (World Inequality Report, 2022), dengan kekayaan nasional terkonsentrasi pada kelompok elite. Kemiskinan di perdesaan masih dominan, diperparah oleh
rendahnya upah di sektor pertanian, yang menyerap tenaga kerja terbanyak namun memiliki produktivitas rendah.
Data BPS menunjukkan rata-rata upah buruh sebesar Rp3,09 juta per bulan pada Februari 2025, dengan upah laki-laki (Rp3,37 juta) lebih tinggi dibandingkan perempuan (Rp2,61 juta). Sebagian besarpenduduk masih berpenghasilan di bawah UMP, memperkuat lingkaran kemiskinan.
 Ketimpangan antarwilayah juga tinggi, dengan DKI Jakarta dan Yogyakarta menunjukkan konsentrasi ekonomi yangtimpang.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Hujan Deras Picu Banjir di Mampang Prapatan, Sejumlah Jalan Tergenang
-
Aceh Selatan Optimistis Wisata Alam Mampu Genjot Ekonomi Daerah
-
Ada Demo di 3 Lokasi Jakarta Pusat, Polisi Kerahkan 1.069 Personel
-
Percepat Pengembangan Proyek Berkelanjutan dan Ekonomi Karbon, ESGIN dan Agraus Resources Teken HoA
-
Gempa M5,9 di Tanimbar Maluku Berpusat di Laut
-
Pagelaran Budaya Segoro Topeng Kaliwungu
-
Gandeng Choi Minho SHINee, LG Perkenalkan Konsep Rumah Pintar Modern di Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.