Antisipasi Peredaran Beras Oplosan, Pemkab Sumenep Pantau Pasar Tradisional

Kamis, 24 Jul 2025, 17:37 WIB

SUMENEP - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur melakukan pemantauan ke sejumlah pasar tradisional, sebagai upaya untuk mengantisipasi peredaran beras oplosan di wilayah itu.

"Pemantauan dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari unsur pemkab, aparat kepolisian dan TNI," kata Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo di Sumenep, Kamis (24/7).

Ket. Foto: Tim Pemkab Sumenep melakukan pemantauan di Pasar Anom Sumenep guna mengantisipasi peredaran beras oplosan. — Sumber: ANTARA/HO-Pemkab Sumenep

Ia menjelaskan temuan adanya peredaran beras oplosan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia meresahkan masyarakat.

Oleh karena itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk melakukan pemantauan bersama dengan mendatangi sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sumenep.

"Selain melakukan pemantauan langsung kepada para pedagang, tim ini juga menyampaikan sosialisasi agar tidak menjual beras oplosan," katanya.

Dia menjelaskan hasil pemantauan yang dilakukan tim dalam dua hari terakhir ini, tidak ditemukan adanya peredaran beras oplosan di Kabupaten Sumenep.

Namun demikian, ujar dia, pemantauan terus dilakukan hingga dipastikan bahwa Sumenep benar-benar aman dari peredaran beras oplosan.

Selain memantau kemungkinan adanya peredaran beras oplosan, tim Pemkab Sumenep itu juga memantau harga bahan kebutuhan pokok di pasaran.

Menurut Kepala Bagian Perekonomian dan Sumbar Daya Alam (SDA) Kabupaten Sumenep Dadang Dedi Iskandar, harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di Sumenep aman.

"Meski ada kenaikan, seperti beras, minyak goreng, dan gula, tapi stok masih aman," katanya.

Hasil pemantauan yang dilakukan tim ini menyebutkan bahwa beras premium merek Sania 14.400 rupiah per liter, beras medium lokal merek kepompong 14.800 rupiah per kilogram, gula pasir dalam negeri 16.500 rupiah per kilogram, minyak goreng premium kemasan botol 1 liter 16.000 rupiah, minyak curah 17.800 rupiah per liter, dan telur ayam ras 29.000 rupiah per kilogram.

"Kenaikan rata-rata 1.000 rupiah dan hanya telur yang naik 2 ribu rupiah per kilogram," katanya. Ant

  • Skandal Beras Oplosan

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.