Pelaku Berkolaborasi, Serangan Siber Semakin Kompleks
Rabu, 23 Jul 2025, 15:55 WIBJakarta Perusahaan keamanan siber Ensign InfoSecurity mengungkapkan bahwa kolaborasi antarpelaku kejahatan siber dalam ekosistem siber bawah tanah meningkatkan risiko serangan yang makin kompleks dan sulit dilacak.
"Jadi sekarang makin mudah untuk siapa pun berpartisipasi dalam ancaman atau serangan cyber. Artinya, satu orang di perusahaan tertentu yang punya password atau username di perusahaan tersebut, dia bisa jualan username dan password-nya ke dark web atau ke underground economy," kata Head of Consulting Ensign InfoSecurity Adithya Nugraputra dalam diskusi media di Jakarta Selatan, Rabu.
Dia menjelaskan para pelaku kejahatan siber seperti kelompok operator ransomware, Initial Access Broker (IAB) atau kelompok penjual akses ke sistem dan jaringan, dan kelompok peretas bekerja sama untuk menjalankan serangan dengan motif untuk mendapatkan keuntungan dari berbagai sumber.
"Jadi siapa pun tidak perlu punya kapabilitas untuk meretas atau berpartisipasi dalam serangan cyber. Jadi itu sangat dimudahkan, dan keuntungan ekonominya juga naik. Kalau berhasil serangannya, nanti keuntungannya dibagi-bagi bersama," ujarnya.
Dalam skema ini, Adhitya menjelaskan IABs mengadopsi model satu akses yang dijual ke banyak pihak, yaitu ketika mereka memperjualbelikan akses masuk (seperti password) kepada berbagai pihak.
Sementara itu, pelaku serangan siber kerap menggunakan kelompok kejahatan siber lain untuk menjalankan serangan mereka, sehingga mereka sulit terdeteksi sebagai dalang di balik serangan tersebut.
Menurutnya, keterlibatan beberapa pihak dalam kejahatan siber dalam sebuah serangan ini akan mempersulit upaya penelusuran untuk mengetahui pelaku utama di balik serangan tersebut. Serangan siber semakin sulit dideteksi apabila pelaku utamanya merupakan aktor yang disponsori oleh negara.
"Untuk mencari yang meretas siapa makin susah karena bisa saja yang melakukan dia sendiri atau ternyata dia disupport oleh kelompok kejahatan terorganisir di belakangnya, dan ternyata kelompok ini didukung lagi sama suatu negara. Jadi untuk mengetahui siapa yang melakukannya saat ini sangat kompleks," ucap Adhitya.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara, Sujar
Berita Terkait:
-
Perkuat Sistem Teknologi dan Informasi, LPS Pastikan Seluruh Sistem dan Informasi Terproteksi dari Berbagai Potensi Serangan Siber
-
Porliga 2026: Kejutan, Samator Ungguli Medan Falcons Tirta Bhagasasi
-
Menhub Lepas Ribuan Penumpang Bus Mudik Gratis Nataru 2025/2026 di Terminal Pulo Gebang
-
Trump Wacanakan Pemotongan Tarif 'Substansial' untuk Tiongkok dalam Kesepakatan Perdagangan
-
Anggota DPRD DKI Brando Susanto Meninggal Dunia saat Acara Halalbihalal
-
Warga Sentul City Desak Pemkab Bogor Ambil Alih Pengelolaan PSU
-
Bank SumselBabel Tundukkan Samator di Laga Pembuka Seri Kedua Final Four Proliga 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.