CORE Bongkar Dampak Impor: Keuntungan Industri Dibayar dengan Derita Petani!

Jumat, 18 Jul 2025, 22:37 WIB

JAKARTA - Komitmen Indonesia untuk mengimpor produk pertanian dari AS senilai 4,5 miliar dolar AS hanya akan menguntungkan konsumen dan industri pengolahan dalam negeri. Komitmen itu sebagai bagian dari kesepakatan penurunan tarif.

Namun, di sisi lain, perjanjian ini juga berpotensi merugikan petani dan peternak lokal di tengah ambisi pemerintah menciptkan kemandirian pangan dan protein hewani.

Ket. Foto: Pekerja mengolah kedelai impor menjadi tahu di sebuah pabrik di Jakarta, Senin (14/4/2025). — Sumber: ANTARA/Fathul Habib Sholeh.

Peneliti dari Centre of Reforn on Economics (CORE) Eliza Mardian, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (18/7), mengatakan, bagi sektor industri, mereka akan mendapatkan pasokan bahan baku yang lebih murah, sehingga dapat menekan biaya produksi dan pada akhirnya meningkatkan daya saing produk mereka.

"Gempuran produk impor yang murah ini tentu akan diminati konsumen dan produsen industri pengolahan karena mereka mendapatkan harga yang lebih kompetitif," ujar Eliza.

Namun, situasi ini justru berpotensi merugikan petani dan peternak lokal. Dia menjelaskan, mereka sulit bersaing dengan produk impor yang harganya jauh lebih murah.

Kondisi diperparah oleh fakta bahwa petani dan peternak Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi persaingan dengan petani AS yang beroperasi dalam skala besar, didukung teknologi efisien, dan modal yang kuat.

Dampak langsung dari serbuan impor ini, lanjut dia, adalah penurunan harga di pasar domestik, yang membuat produk lokal kurang diminati. Akibatnya, pendapatan petani dan peternak akan berkurang.

Ia menambahkan, penurunan pendapatan ini dapat melemahkan daya beli mereka dan bahkan mengurangi minat petani dan peternak untuk terus berproduksi.

Jika ini terjadi, program swasembada pangan Indonesia yang selama ini digalakkan bisa terancam, dan ketergantungan pada impor akan semakin sulit dihindari.

Lebih lanjut, Eliza mengingatkan bahwa pendekatan negosiasi Presiden AS Donald Trump kerap mengedepankan kepentingan nasional melalui tarif.

Apabila komitmen pembelian ini tidak terpenuhi, ada kemungkinan AS akan memberlakukan kembali kenaikan tarif, di saat petani Indonesia sudah menghadapi tekanan akibat lonjakan impor.

Untuk menghadapi tantangan ini, dia menekankan perlunya peningkatan daya saing pertanian dalam negeri dari sisi pasokan.

Selain itu, pemerintah juga disarankan untuk menambah jumlah hambatan non-tarif atau non-tariff measures (NTM) bagi produk-produk pertanian.

“Dengan adanya hambatan non-tarif setidaknya jadi filter bagi kita agar tidak digempur produk impor, harus ada standar-standar yang mereka ikuti sesuai regulasi di dalam negeri," pungkasnya.

  • Tarif Dagang AS

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.