Investor Pantau Perkembangan Tarif Resiprokal AS, Simak Proyeksi Rupiah

Kamis, 17 Jul 2025, 12:10 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ber­potensi melanjutkan pelemahannya, hari ini (17/7). Per­gerakan rupiah bakal dipengaruhi perkembangan ke­bijakan tarif Amerika Serikat (AS) kepada negara mitra, terutama Indonesia dan prospek kebijakan moneter oleh The Fed. 

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong melihat investor masih akan mencermati perkembangan tarif dengan menantikan respon pemerintah Indonesia akan usulan tarif Presiden AS Donald Trump sebesar 19 per­sen. Dari data ekonomi, rilis data inflasi produsen AS yang walau diperkirakan tidak akan naik sebesar inflasi konsu­men, namun dikuatirkan juga akan kembali mendukung dollar AS.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah ter­hadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antar­bank, Kamis (17/7), bergerak melemah di kisaran 16.200- 16.350 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (16/7), di Jakarta melemah 20 poin atau 0,14 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.287 rupiah per dollar AS.

“Kurs rupiah melemah secara terbatas menyusul kepu­tusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) ke level 5,25 persen untuk mendukung pertum­buhan ekonomi,” ujar Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede di Jakarta.

Selain itu, suku bunga deposit facility diputuskan juga turun sebesar 25 bps menjadi pada level 4,5 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tu­run sebesar 25 bps menjadi pada level 6 persen.

Dia memproyeksikan kurs rupiah berpotensi melemah terbatas sejalan dengan risiko kenaikan inflasi produsen Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang Indonesia sendiri dinilai akan terbatasi oleh potensi inflow di pasar keuangan domestik pasca-pemotongan suku bunga.

Sementara itu, Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor global, yakni indeks dollar AS yang kembali me­nguat.

“Sementara dari domestik, pasar obligasi negara ma­sih dalam tekanan karena meningkatnya kekhawatiran melebarnya defisit transaksi berjalan akibat tarif Presiden Trump,” ujar dia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.