• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Miris! 4 Merek Raksasa Ini...

Miris! 4 Merek Raksasa Ini Tumbang di Indonesia, Padahal Dulu Rajai Pasar!

Rabu, 16 Jul 2025, 10:23 WIB

JAKARTA - Tak semua raksasa bisnis mampu mempertahankan tahtanya. Meski dulu dielu-elukan sebagai simbol kesuksesan, sejumlah merek besar kini hanya tinggal cerita. 

Mereka tumbang, tak berdaya menghadapi zaman yang terus berubah. Nama besar ternyata bukan jaminan untuk bertahan hidup dalam kerasnya kompetisi pasar Indonesia.

Ket. Foto: Perusahaan bangkrut di Indonesia — Sumber: Freepik

Siapa sangka, Sariwangi, sang pionir teh celup yang melegenda sejak 1970an, harus menyerah karena tekanan utang yang membengkak. Padahal hampir di setiap rumah tangga Indonesia, merek ini pernah begitu lekat. 

Namun, kejayaan Sariwangi runtuh dalam sekejap saat manajemen keuangan mereka goyah. Pada akhirnya, perusahaan dinyatakan pailit, menandai akhir perjalanan panjangnya yang penuh kenangan.

Kisah tragis lainnya datang dari dunia jamu tradisional, Nyonya Meneer. Merek yang sudah eksis sejak zaman penjajahan Belanda ini sempat menjadi simbol warisan budaya dan kekuatan lokal. 

Konflik internal keluarga dan manajemen yang amburadul membuat perusahaan ini terseok-seok. Meski bertahan hampir seabad, Nyonya Meneer akhirnya kolaps, meninggalkan ironi produk kesehatan yang tak bisa menyembuhkan penyakit di tubuh perusahaannya sendiri.

Beralih ke merek internasional, ada 7-Eleven, jaringan minimarket global yang pernah menjadi tempat nongkrong paling hits di kota besar seperti Jakarta. 

Hadir dengan konsep unik dan lifestyle modern, gerai 7-Eleven sempat menjamur. Tapi sayang, langkah mereka terhenti secara mengejutkan. 

Persoalan lisensi, operasional, hingga model bisnis yang tak cocok dengan regulasi Indonesia menjadi sebab utama. Akhirnya, pada 2017, 7-Eleven resmi angkat kaki dari Indonesia.

Tak ketinggalan, raksasa fotografi dunia, Kodak. Dulu, kamera Kodak menjadi barang wajib saat liburan dan momen spesial. Sayangnya, Kodak terlalu lambat membaca perubahan tren teknologi digital. Ketika dunia beralih ke kamera digital dan smartphone, Kodak masih terpaku pada film analog. 

Akibatnya? Mereka kehilangan relevansi dan perlahan-lahan menghilang dari pasar Indonesia.

Kehancuran keempat merek besar ini jadi pengingat keras pasar tak peduli seberapa besar namamu jika kamu tak mau berubah. Inovasi, adaptasi, dan tata kelola yang lincah menjadi kunci bertahan hidup. Kemenangan masa lalu bukan jaminan untuk hari esok jika kamu jalan di tempat.

Bagi para pelaku usaha dan generasi muda, kisah ini adalah pelajaran mahal. Jangan terlena oleh sukses sementara. 

Dunia bisnis menuntut kepekaan, ketangguhan, dan transformasi terus-menerus agar tak ikut terkubur bersama merek-merek besar yang kini tinggal nama.

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.