Masyarakat yang Gemar Menulis
Rabu, 16 Jul 2025, 06:51 WIBBANGSA Asyur dikenal menyimpan ribuan prasasti paku keagamaan yang ditulis dalam bahasa Akkadia. Alasan mengapa para ahli Asyur saat ini begitu memahami sastra Asyur adalah karena bangsa Asyur merupakan pencatat yang sangat teliti.
Ketika para arkeolog modern menggali Niniwe, salah satu penemuan terbesarnya adalah perpustakaan Ashurbanipal (berkuasa 668-627 SM). Para arkeolog menemukan 5.000 dokumen aksara paku (cuneiform) yang merinci urusan negara, agama, dan historiografi. Dalam teks-teks keagamaan Asyur, raja memainkan peran sentral sebagai penjaga tatanan alam semesta.
Namun, meskipun raja diangkat oleh Tuhan, ia bukanlah dewa. Raja adalah perantara bagi para dewa dan dewi untuk bertindak sesuka hati. Teks-teks tersebut menceritakan bahwa tugas raja berkisar dari melaksanakan ritual umum hingga berperang atas nama para dewa.
Sebuah teks dari masa pemerintahan Ashurbanipal mencatat: â(Ini adalah) istana Ashurbanipal, imam besar Ashur, yang dipilih oleh Enlil dan Ninurta, kesayangan Anu dan Dagan (yang merupakan) kehancuran (yang dipersonifikasikan) di antara semua dewa agung raja yang sah, raja dunia, raja Asyur.â
Jared Krebsbach doktor sejarah kuno dari Universitas Memphis, di laman The Collector menulis, bangsa Asyur umumnya menganut dewa-dewa yang sama dengan bangsa Mesopotamia lainnya, memberi mereka nama-nama Akkadia. Dengan demikian, bangsa Asyur mengutamakan dewa-dewa yang paling sesuai dengan nilai-nilai Asyur.
Yang paling utama dalam jajaran dewa-dewa tersebut adalah Asyur, dewa pelindung kota yang dinamai sesuai namanya, tetapi tak jauh di belakangnya adalah Ishtar, dewi kesuburan dan perang. Dewa-dewa penting lainnya yang terkait dalam teks-teks keagamaan Asyur termasuk Shamash, dewa matahari, dan Nabu, dewa kebijaksanaan.
Teks tersebut menceritakan bagaimana raja akan memberikan persembahan kepada dewa ini setelah pertempuran yang sukses saat ia mengarak musuh-musuhnya yang ditawan. Sama pentingnya dengan literatur agama Asyur, perkembangan historiografi Asyur bahkan lebih penting.
Meskipun historiografi (pencatatan peristiwa sejarah) telah dipraktikkan oleh budaya Timur Dekat lainnya sebelum Asyur, catatan sejarah Asyur lebih rinci dan akurat. Catatan sejarah Asyur ditulis dari sudut pandang raja, memberikan catatan rinci tahun demi tahun tentang kampanye militernya. Catatan sejarah ini pertama kali ditulis pada masa pemerintahan Tiglath-Pileser I (memerintah sekitar 1114-1076 SM) dan berlanjut hingga akhir Kekaisaran Neo-Asyur.
Faktanya, penulisan catatan sejarah Asyur memengaruhi historiografi Babilonia selanjutnya, yaitu Kronik Babilonia. Pengaruh Asyur juga dapat ditemukan dalam prasasti sejarah Persia Akhemeniyah. Perlu dicatat bahwa historiografi Asyur sangat berbeda dengan historiografi modern. Catatan sejarah tersebut ditulis sebagai surat dari raja kepada para dewa sebagai sejarah teokratis sebuah negara yang dengan tepat mengikuti hukum ilahi. hay
- Bangsa Asyur
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.