Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga, Sambut Positif Kesepakatan Tarif dengan AS

Rabu, 16 Jul 2025, 17:10 WIB

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen pada Rabu (16/7), menandai pemotongan keempat sejak September 2024. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters, dan diambil di tengah tekanan ekonomi akibat melemahnya perdagangan global dan turunnya permintaan domestik.

Selain suku bunga acuan, dua suku bunga utama lainnya juga ikut diturunkan. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa bank sentral akan tetap membuka ruang untuk pelonggaran moneter lanjutan, dengan mempertimbangkan inflasi yang rendah, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kondisi ekonomi global yang belum membaik.

Ket. Foto: — Sumber: CNA

“BI sudah all out dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk mendukung pertumbuhan kredit,” ujar Perry dalam konferensi pers usai pengumuman kebijakan.

Sikap pelonggaran ini juga diperkuat oleh perkembangan terbaru, yakni tercapainya kesepakatan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut menurunkan tarif ekspor Indonesia ke AS menjadi 19 persen, dari yang sebelumnya diusulkan sebesar 32 persen.

Gubernur Perry menyambut baik perjanjian perdagangan tersebut, yang disebutnya sebagai angin segar bagi sektor ekspor nasional. Ia menilai, penyesuaian tarif ini akan memperkuat ekspor dan memberi dampak positif terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen pada tahun 2025.

“Kesepakatan ini tentu saja akan meningkatkan impor, tetapi menurut kami, impor ini untuk tujuan produktif, yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depannya,” kata Perry.

Ia juga menambahkan bahwa kepastian dari kebijakan tersebut akan membantu pelaku usaha dalam pengambilan keputusan dan mendorong arus modal masuk ke dalam negeri.

Ekonom senior dari DBS Bank, Radhika Rao, menyatakan bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan BI kali ini merupakan langkah oportunis yang cerdas.

“Para pembuat kebijakan bersikap oportunis tahun ini, dengan bijaksana memanfaatkan periode stabilitas pasar untuk menurunkan suku bunga, dengan langkah terbaru ini juga diambil di tengah keberhasilan penyelesaian kesepakatan perdagangan dengan AS,” ujarnya.

Namun demikian, tantangan ekonomi domestik masih membayangi, termasuk pelemahan konsumsi rumah tangga yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal pertama 2025. Prospek untuk kuartal-kuartal selanjutnya juga belum sepenuhnya cerah, terutama akibat dampak tarif AS terhadap dinamika perdagangan global.

Sejak memulai siklus pelonggaran pada September tahun lalu, BI tercatat beberapa kali menahan diri dari pemotongan agresif untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal seperti kebijakan dagang Trump dan ketegangan geopolitik internasional. Kendati demikian, inflasi di Indonesia masih tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran.

Setelah pengumuman suku bunga terbaru, nilai tukar rupiah tidak banyak berubah dan tetap stabil dalam rentang pergerakan bulan ini. Sementara itu, indeks saham utama tercatat menguat dan sempat diperdagangkan mendekati kenaikan 1 persen.

Mandiri Sekuritas memprediksi akan ada satu kali pemangkasan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin pada akhir tahun ini, serta potensi penurunan lanjutan sebesar 50 basis poin pada kuartal pertama 2026.

Ekonom Mandiri Sekuritas, Rangga Cipta, menyebutkan, “BI mempertahankan nada dovish, menekankan perlunya mendukung pertumbuhan ekonomi.”

Dengan kombinasi pelonggaran kebijakan moneter dan kerja sama perdagangan yang lebih menguntungkan, BI berharap dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus merangsang pemulihan yang lebih kuat pada semester berikutnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.